Kamis, 29 April 2010

KI AGENG PENGGING

KI AGENG PENGGING
Oleh : Damar Shashangka

Bagian 1.

Catatan ini saya buat sebagai kelanjutan dari catatan saya MISI PENG-ISLAM-AN NUSANTARA dan SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR ATAU SYEH SITI JENAR. Bagi teman-teman yang belum membaca, mohon tidak membaca catatan ini dulu. Terima kasih. (Damar Shashangka)

Setelah kehancuran Majapahit pada tahun 1478 masehi,maka berakhir pula kejayaan Majapahit. Berakhirnya masa kejayaan Majapahit ini, bukanlah saat diperintah oleh Prabhu Brawijaya VII seperti yang dibanyak diberitakan selama ini, namun saat di bawah pemerintahan Prabhu Brawijaya V atau Prabhu Brawijaya Pamungkas. Sebagai bukti, dibawah inilah nama Raja-Raja yang pernah memerintah Majapahit.

  1. Raden Wijaya atau Bhree Wijaya I atau Prabhu Brawijaya I atau Shrii Kertarajasa Jayawardhana (1292-1309 M).
  2. Raden Kala Gemet atau Prabhu Jayanegara atau Shrii Jayanegara (1309-1328 M).
  3. Ratu Ayu Tri Bhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (1328-1350 M).
  4. Prabhu Hayam Wuruk atau Shrii Rajasawardhana (1350-1389 M).
  5. Prabhu Wikramawardhana (1389-1492 M) Pada masa inilah terjadi Perang Paregreg. Dimana Adipati Bhree Wirabhumi atau Adipati Kebo Marcuet mengadakan pemberontakan ke Majapahit dan berhasil ditaklukkan oleh Jaka Umbaran atau Raden Gajah atau Minak Jingga.
  6. Ratu Ayu Suhita atau Dewi Kencana Wungu (1429-1447 M), diperistri oleh Raden Parameshwara atau Raden Damar Wulan atau yang lantas setelah menjadi suami Ratu Ayu Suhita, memegang tampuk pemerintahan dengan gelar Bhree Wijaya II atau Prabhu Brawijaya II setelah berhasil mengalahkan Jaka Umbaran atau Raden Gajah atau Minak Jingga, penguasa Blambangan. Pengambilan gelar ini demi mengukuhkan kedudukannya sebagai keturunan Raden Wijaya.
  7. Prabhu Kertawijaya atau Bhree Wijaya III atau Prabhu Brawijaya III (1447-1451 M).
  8. Prabhu Rajasawardhana atau Bhree Wijaya IV atau Prabhu Brawijaya IV (1451-1453 M).
  9. Raden Kertabhumi atau Bhree Wijaya V atau Prabhu Brawijaya V atau Prabhu Brawijaya Pamungkas (1453-1478 M). Dalam masa pemerintahan beliau, beliau dibantu oleh saudaranya, yaitu Raden Purwawisesha sebagai mahapatih (1456-1466 M) yang lantas digantikan oleh Raden Pandhan Salas atau Bhree Pandhan Salas (1466-1473 M).

Pada masa pemerintahan Raden Kertabhumi inilah, Majapahit diserang oleh pasukan Demak Bintara. Diperingati dengan Surya Sangkala SIRNA ILANG KERTAning BHUMI.

Semenjak kehancurannya, Majapahit kini harus tunduk kepada Demak Bintara. Majapahit menjadi negara kecil, bagian dari Demak Bintara. Tampuk pemerintahan Majapahit dipegang oleh seseorang yang ditunjuk langsung oleh Sultan Demak atau Raden Patah yang kini bergelar Sultan Syah Alam Akbar Jiem-Boenningrat I.

Dan anda semua pasti akan terkejut bila saya ungkapkan bahwa, pemegang tampuk pemerintahan Majapahit, setelah Prabhu Brawijaya V, adalah MA-HWAN ! Seorang berdarah China yang lantas bergelar Prabhu Brawijaya VI. Dia memerintah dibawah kendali Demak Bintara.

Fenomena politik inilah yang memicu ketidakpuasan di kalangan Bangsawan Majapahit. Para bangsawan yang sudah terkoyak-moyak harga dirinya setelah penyerangan Demak Bintara, kini harus kembali menelan pil pahit dengan dikukuhkannya Prabhu Brawinaya VI yang nyata-nyata bukan keturunan Makapahit, bahkan berdarah China.

Dan ketidakpuasan ini meledak juga. Raden Girindrawardhana, bangsawan keturunan Majapahit yang berkedudukan di daerah Keling, Kedhiri, mengadakan pemberontakan. Peperangan kembali berkobar. Darah tertumpah kembali. Dan Majapahit, untuk kedua kalinya, berhasil diluluh-lantakkan ! Raden Girindrawardhana yang banyak mendapat dukungan dari gerilyawan sisa-sisa lasykar Majapahit lama, berhasil menjebol Majapahit baru boneka Demak Bintara. Prabhu Brawijaya VI atau Ma-Hwan, tewas !

Tahta Majapahit berhasil dikuasai oleh Raden Girindrawardhana. Dia memboyong segala tanda kebesaran Majapahit dari Trowulan ke Keling, Kedhiri. Di sana, dia mengukuhkan diri sebagai Prabhu Brawijaya VII dan memaklumatkan bahwa Majapahit yang berkedudukan di Kedhiri sekarang, telah bebas dari dominasi Demak Bintara!

Mendengar kabar tersebut, pemerintahan Demak Bintara tidak tinggal diam. Pasukan dalam jumlah besar dikirim ke Kedhiri. Peperangan kembali pecah ! Dan lagi, darah membanjiri bumi pertiwi. Pasukan Demak yang dipimpin langsung oleh Sunan Kudus ini, mendapat perlawanan dahsyat! Kedhiri, sulit ditaklukkan ! Begitu sulitnya menjebol Kedhiri, mengingatkan penyerangan Demak ke Trowulan kala itu.

Namun, pelahan, pasukan Kedhiri berhasil ditundukkan. Prabhu Brawijaya VII atau Raden Girindrawardhana gugur di medan laga !

(Hal inilah yang diekspose besar-besaran oleh kaum Putihan. Sehingga muncul pendapat bahwa Demak bukannya menghancurkan Majapahit, namun menyerang Raden Girindrawardhana yang lebih dahulu menghancurkan Majapahit. Padahal faktanya, baik penyerangan kepada Prabhu Brawijaya V maupun Raden Girindrawardhana, semuanya dilakukan oleh pasukan Demak Bintara : Damar Shashangka).

Majapahit kembali di bawah kendali Demak Bintara. Dan diangkatlah pejabat baru sebagai Raja bawahan yang memegang tampuk pemerintaan Mahapahit dengan gelar Prabhu Brawijaya VIII.

Majapahit semakin suram. Pamornya semakin redup. Masyarakat Jawa sudah tidak lagi memandang Majapahit boneka ini. Dan pada pemerintahan Prabhu Brawijaya IX, Majapahit benar-benar colaps. Pada akhirnya, Majapahit lantas masuk wilayah kekuasaan Kadipaten Terung, Sidoarjo ( +/- 1500 M).

Pewaris Tahta Sah

Prabhu Brawijaya V atau Raden Kertabhumi mempunyai seorang permaisuri yang berasal dari negeri Champa ( Kamboja Selatan), bernama Dewi Anarawati. Permaisuri beliau ini beragama Islam. Dia adalah adik ipar Syeh Ibrahim As-Samarqand yang terkenal di Jawa dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi (makamnya berada di Tuban sekarang : Damar Shashangka).

Dewi Anarawati ini adalah bibi dari Sunan Ampel atau Raden Ali Rahmat atau Bong Swie Hoo, pendiri Dewan Wali Sangha. Raden Ali Rahmat adalah putra Syeh Ibrohim Smorokondi. Raden Ali Rahmat juga adalah menantu Adipati Tuban, Adipati Wilwatikta.

Adipati Wilwatikta, mempunyai dua orang putra-putri, yang sulung dinikahi oleh Raden Ali Rahmat atau Sunan Ampel dan kelak terkenal dengan sebutan Nyi Ageng Ampel, sedangkan yang bungsu bernama Arya Teja. Arya Teja menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai Adipati Tuban dengan gelar, Adipati Arya Teja.

Adipati Arya Teja inilah ayahanda Raden Sahid dan Dewi Rasawulan. Kelak, Raden Sahid terkenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga tidak berminat menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai seorang Adipati. Tahta Tuban diserahkan kepada Raden Jaka Supa, suami adiknya Dewi Rasawulan.

Raden Jaka Supa adalah keturunan Empu Keraton Majapahit,yaitu Ki Pitrang atau Ki Supa Mandrangi atau Pangeran Sedayu. Raden Jaka Supa adalah arsitek Keris Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten yang terkenal itu.

Sesungguhnya, Keris Kyai Naga Sasra maupun Kyai Sabuk Inten, adalah sebuah simbol semata. Naga Sasra berasal dari bahasa sanskerta Nagha Sahasrara yang berarti Seribu Naga. Ini melambangkan banyaknya kekuatan-kekuatan laten Majapahit yang masih memiliki kekuatan militer dan masih memiliki pengaruh besar di pelosok Nusantara.

Sedangkan Sabuk Inten berarti Ikat Pinggang Intan yang melambangkan para investor ekonomi lokal maupun mancanegara sebagai sumber keuangan yang sangat menentukan perputaran roda perekonomian negara.

Raden Jaka Supa bukan orang sembarangan. Ayahandanya, Ki Pitrang atau Ki Supa Mandrangi, sangat berpengaruh didalam negeri Majapahit dan mancanegara waktu Majapahit masih berdiri. Pekerjaannya sebagai penyedia persenjataan militer negara, menjadikan Ki Pitrang banyak memiliki relasi.

Apabila anda pernah dengar sebuah pedang kuno yang menjadi kebanggaan Dr. Sun Yat Sen, pendiri Taiwan yang bernama Pit-Kang, sesungguhnya pedang tersebut adalah hasil tempaan Ki Pitrang, sehingga namanya pun masih disebut Pitrang walaupun dalam logat China. Pedang ini masih disimpan di Taiwan. Pedang tersebut adalah hadiah Raja Majapahit kepada Kaisar Tiongkok. Dan tidak tahu bagaimana ceritanya, pedang kuno yang berasal dari Majapahit tersebut bisa dibawa lari oleh Dr.Sun Yat Sen ke Taiwan setelah Tiongkok berhasil dikuasai kaum komunis.

Kebesaran nama Ki Pitrang inilah, menjadikan Raden Jaka Supa, sebagai anak laki-laki satu-satunya dari istri yang berasal dari Majapahit (seorang lagi, istri Ki Pitrang berasal dari Blambangan. Dari istri Blambangan ini, beliau mempunyai seorang putra bernama Jaka Sura, yang meninggal sewaktu berusia belia. Praktis, putra Ki Pitrang tinggal Raden Jaka Supa : Damar Shashangka), sangat disegani. Sisa para Bangsawan Majapahit, yang masih memiliki pengaruh dalam bidang ekonomi maupun militer dan masih banyak tersebar di beberapa pelosok Nusantara serta yang disimbolkan dengan Keris Kyai Naga Sasra, ditambah para investor asing yang disimbolkan dengan Keris Kyai Sabuk Inten, sangat menghormati Raden Jaka Supa.


Kyai Sabuk Inten

Sosok Jaka Supa sangat dibutuhkan pihak pemerintahan Demak Bintara. Ditambah kehadiran Sunan Kalijaga, yang juga sangat disegani oleh berbagai kalangan lintas agama di wilayah bekas kerajaan Majapahit, maka seolah-olah, dua orang ini adalah kunci keberlangsungan pemerintahan Demak Bintara !

Sunan Kalijaga, demi mengingatkan Sultan Demak, memerintahkan Raden Jaka Supa membuat dua buah keris, yaitu Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten. Keduanya harus diserahkan kepada Sultan Demak, sebagai benda simbolik untuk mengingatkan Sultan Demak, bahwa tanpa dukungan sisa-sisa bangsawan Majapahit serta tanpa dipermudah masuknya investor mancanegara ke wilayah Demak Bintara, dapat dipastikan Demak tidak akan berumur lama. Dengan bersatunya Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten tersebut, bisa dipastikan Demak akan berdiri tegak sebagai kerajaan besar pengganti Majapahit! (Sayangnya, pada perkembangan selanjutnya, kedua benda simbolik ini dianggap sangat keramat oleh masyarakat Jawa hingga sekarang. Dan timbul kepercayaan, pemerintahan akan kuat jika seorang penguasa memiliki Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten sekaligus : Damar Shashangka).


Kyai Naga Sasra

Kembali pada Prabhu Brawijaya V yang menikahi Putri Champa, Dewi Anarawati. Dari pernikahan tersebut, lahirlah tiga orang putra-putri. Yang sulung seorang putri (sampai sekarang saya belum tahu namanya : Damar Shashangka), dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV, penguasa wilayah Pengging, daerah sekitar Surakarta sekarang. Yang kedua, Raden Lembu Peteng, berkuasa di Madura. Dan yang ketiga Raden Jaka Gugur.

Kelak Raden Jaka Gugur inilah yang dikenal dengan nama Sunan Lawu, penguasa mistik Gunung Lawu. Keberadaannya di Gunung Lawu, disalah-pahami oleh warga sekitar sebagai Prabhu Brawijaya V sendiri. (Maklum, sosok Raja pada masa itu hanya dikenal nama besarnya semata. Sosok aslinya, bagi masyarakat pedesaan, sama sekali tidak diketahui karena sulit bertemu langsung. Tidak ada media massa pada waktu itu seperti jaman sekarang, sehingga wajah Prabhu Brawijaya V, terbatas hanya kalangan bangsawan saja yang bisa mengenalinya. Oleh karena itu, kehadiran Raden Jaka Gugur di lereng Gunung Lawu, disalah-pahami sebagai Prabhu Brawijaya V, bahkan sampai sekarang : Damar Shashangka).

Dan Prabhu Brawijaya V, tetap ada di Trowulan hingga beliau wafat. Prabhu Brawijaya V tidak pernah kemana-mana. Semenjak dari Banyuwangi hingga jatuh sakit dan wafat, beliau ada di Trowulan. Sunan Kalijagalah yang terus mendampingi beliau hingga kewafatan beliau.

Dari pernikahan Adipati Handayaningrat IV dengan putri sulung Prabhu Brawijaya V, lahirlah dua orang putra. Pertama Raden Kebo Kanigara dan yang kedua Raden Kebo Kenanga.

Raden Kebo Kanigara lahir pada tahun 1472 Masehi. Menyusul setahun kemudian, Raden Kebo Kenanga lahir (tahun 1473 M). Jadi sewaktu Majapahit dihancurkan oleh Demak Bintara pada tahun 1478 Masehi, Raden Kebo Kanigara masih berusia enam tahun, dan Raden Kebo Kenanga masih berusia lima tahun.

Menginjak usia dua puluh tahun, Raden Kebo Kanigara pergi meninggalkan Pengging. Beliau memutuskan menjadi seorang Vanaprastha atau pertapa dalam usia muda. Beliau melakukan pertapaan di daerah lereng Gunung Merapi. Tempat dimana beliau pernah bertapa, sekarang terkenal dengan sebutan Desa Turgo, yang berasal dari gabungan dua suku kata AnggenTUR RaGA yang artinya MENGGEMBLENG DIRI.

Petilasan bekas beliau bertapa, kini berubah menjadi makam yang banyak diziarahi oleh masyarakat Jawa. Padahal, Raden Kebo Kanigara beragama Shiva Buddha, dan apabila wafat, tidak mungkin dikebumikan, namun di kremasi atau di Aben.

Sejujurnya, jenasah Raden Kebo Kanigara hilang raib karena kekuatan tapa-bratanya yang sangat keras. Dan tempat yang dikenal sebagai makam Raden Kebo Kanigara sekarang, sebenarnya hanyalah salah satu bekas tempat beliau bersemadi.

Putra bungsu Adipati Handayaningrat IV, yaitu Raden Kebo Kenanga, dalam usia dua puluh tahun, setahun semenjak kepergian kakaknya, harus kehilangan ramandanya. Adipati Handayaningrat IV wafat. Dan seharusnya, yang berhak menggantikan kedudukan beliau adalah Raden Kebo Kanigara. Karena sang sulung telah pergi bertapa, maka si bungsu, Raden Kebo Kenanga terpaksa menggantikannya. Dan Raden Kebo Kenanga lantas dikenal dengan gelar KI AGENG PENGGING.

Dalam usia relatif muda, Ki Ageng Pengging sangat terkenal kedalaman spiritualitasnya. Dalam garis keturunannya, sebenarnya mengalir darah pewaris sah tahta Majapahit. Karena nenek beliau, yaitu Dewi Anarawati, telah diangkat sebagai permaisuri. Sehingga jelas di sini, manakala Prabhu Brawijaya V kelak lengser keprabhon atau wafat, yang berhak menggantikan seharusnya adalah putri sulung beliau yang dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV. Otomatis, apabila putri sulung istri Adipati Handayaningrat IV ini kelak lengser keprabhon atau wafat, maka yang berhak menggantikannya adalah putranya, yaitu Raden Kebo Kanigara. Karena seperti telah diceritakan di atas, Raden Kebo Kanigara tidak berminat kepada tahta, maka Raden Keno Kenanga atau Ki Ageng Pengging yang berhak menggantikannya. Jika ditilik dari sini, sesungguhnya pewaris tahta Majapahit seharusnya Ki Ageng Pengging, bukan Raden Patah !!

Seluruh masyarakat Majapahit tahu akan hal ini. Tahu siapa yang seharusnya berhak memegang tahta. Sehingga diam-diam, pengaruh keturunan Pengging masih terasa sangat besar di wilayah Demak Bintara. Bagi pemerintahan Demak, keturunan Pengging adalah bahaya laten! Praktis pemerintah Demak Bintara secara diam-diam memasang pasukan mata-mata khusus di Pengging. Gerak-gerik Ki Ageng Pengging, tak pernah lepas dari pengamatan Sultan Demak dan Dewan Wali Sangha.

Sesungguhnya jika Ki Ageng Pengging mau, dia bisa melakukan konsolidasi kekuatan sisa-sisa Majapahit. Tapi, seperti sifat kakaknya, Ki Ageng Pengging sama sekali tidak mempunyai ambisi politik seperti itu. Malahan beliau lebih suka mendalami spiritualitas.

Para prajurit Pengging sendiri sangat merasakan akan hal itu. Kegiatan pelatihan militer, dirasa jauh berkurang semenjak Ki Ageng Pengging menggantikan ayahandanya. Malahan, tempat-tempat suci lebih bergairah dan hidup semenjak beliau berkuasa.

Ki Ageng Pengging tenggelam dalam spiritualitas. Setiap waktunya senantiasa beliau manfaatkan untuk peningkatan Kesadaran Atma. Pengging sangat damai. Penuh nuansa religius.

Namun hal itu tak berlangsung lama. Manakala Ki Ageng Pengging berkenalan dengan seorang ulama Islam yang dikenal berseberangan dengan Dewan Wali Sangha yaitu Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, Pengging mulai memanas !

(21 Desember 2009, by : Damar Shashangka).


BAGIAN : 2

Walaupun masih belia, kedalaman spiritualitas Ki Ageng Pengging tidak bisa diragukan lagi. Pencapaian spiritualnya, sampai pada kondisi MATI SAJERONING URIP, URIP SAJERONING PATI (MATI DI DALAM HIDUP, HIDUP DI DALAM KEMATIAN). Beliau mampu dalam beberapa hari, bermeditasi tanpa bernafas. Raga beliau mampu menyerap Prana (oksigen) melalui seluruh pori-pori tubuh tanpa menggunakan pergerakan paru-paru.

Bila tidak jeli, mereka yang melihat kondisi Ki Ageng Pengging sewaktu bermeditasi, pasti akan menyangka beliau meninggal. Namun bagi yang benar-benar jeli, mereka akan tahu, jantung beliau masih tetap berdetak, sangat-sangat halus. Dan darah beliau masih tetap mengalir, walau dalam percepatan yang sangat halus.


…...Ndan yatika sinangguh mamyaken praana sangdhila jati ngarannya, yeku puujaajaati ngarannya, sembahyang alit, yapwan mangkana tiksna deningasamadhi, wyakta hilang ikang waayu ganal, mati lina ri sangkanya, apan tan cinetana dening aatmaa, nahan maarga kunyci rahasya ngarannya. ( Tattwa Jnyaana : 62 )

“...Itulah yang disebut memuja Prana sangdhila jaati, yaitu Sejatinya Puja, sembahyangnya Suksma. Bila sudah demikian samadhinya sangat tajam, benar-benar hilangnya nafas yang kasar, mati lenyap ke asalnya. Kesadaran suksma telah melebur ke Kesadaran Atma. Inilah kunci kesempurnaan (Tattwa Jnyaana : 62).



Ki Ageng Pengging telah mencapai tahap peleburan ini. Sesuai dengan yang diuraikan dalam Rontal Tattwa Jnyaana. Bila beliau mau, beliau bisa meninggalkan badan kasarnya, mati, sesuai dengan keinginannya sendiri.

Begitu beliau diangkat sebagai penguasa Pengging pengganti ayahandanya, dalam usia belia, beliau menikah. Seorang gadis dari daerah Tingkir, masih adik kandung Ki Ageng Tingkir, beliau persunting.

Pengging benar-benar damai. Jauh dari hiruk pikuk perpolitikan, Jauh dari pertikaian-pertikaian. Sunan Kalijaga-pun, sering berkunjung ke Pengging bersama beberapa santri beliau.





Dari Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pengging senantiasa mendapat petuah-petuah yang sangat berharga. Walaupun Sunan Kalijaga beragama Islam dan Ki Ageng Pengging beragama Shiva Buddha, kedekatan hubungan mereka sudah tidak bisa digambarkan lagi. Secara khusus, Ki Ageng Pengging menyediakan musholla di kompleks Dalem Agung beliau. Ini diperuntukkan bagi sahabat-sahabat beliau yang beragama Islam.

Dari sahabat-sahabat Islam beliau inilah, Ki Ageng Pengging tahu akan sosok Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar. Sosok ulama yang berseberangan dengan Dewan Wali Sangha.

Beberapakali dalam meditasinya, beliau mencoba menghubungi Syeh Lemah Abang. Dan Ki Ageng Pengging tersenyum puas manakala salam beliau senantiasa dijawab oleh Syeh Lemah Abang dengan senyuman yang luar biasa damainya.

Ki Ageng Pengging tahu, Syeh Lemah Abang bukan manusia sembarangan. Beberapakali pula, mereka bertemu didalam alam meditasi. Ki Ageng Pengging mencium kaki Syeh Lemah Abang dengan penuh hormat. Dan Syeh Lemah Abang senantiasa mengusap-usap kepala Ki Ageng Pengging dengan penuh kasih.

Sunan Kalijaga tahu akan semua itu. Dan beliau tersenyum bangga setiap kali dalam tafakkurnya, melihat Syeh Lemah Abang dan Ki Ageng Pengging senantiasa bertemu, walau dalam alam lain, tidak di alam nyata.

Dan manakala, sosok Syeh Lemah Abang mendadak berkunjung ke Pengging, betapa bahagianya Ki Ageng Pengging. Walau belum pernah bertemu secara fisik, Ki Ageng Pengging dan Syeh Lemah Abang, sudah sedemikian dekatnya. Begitu Syeh Lemah Abang hadir, Ki Ageng Pengging langsung bersujud di depan beliau. Mencium kaki beliau. Penuh hormat dan sangat bahagia.

Pernah selama tiga hari tiga malam, keduanya meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang intisari spiritualitas. Tidak hanya sekedar berdiskusi, keduanyapun masuk ke kedalaman batin masing-masing. Dan di sana, Syeh Lemah Abang, bersorak gembira begitu melihat Ki Ageng Pengging, di bawah awan-awan mind yang tenang, tengah ada di bawah beliau, tidak terlampau jauh. Dan di sana, Ki Ageng Pengging mencakupkan kedua tangannya di depan dada, menyembah, sembari memandang Syeh Lemah Abang dengan senyum kedamaian.

Karena seringnya berkunjung ke Pengging, Syeh Lemah Abang akhirnya dipertemukan dengan sahabat-sahabat Ki Ageng Pengging. Beberapa bangsawan muda keturunan Majapahit yang masing-masing juga memiliki wilayah kekuasaan. Mereka antara lain, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Ketiganya bahkan lantas tertarik memeluk Islam tanpa paksaan. Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, kelak terkenal dengan gelar Sunan Butuh dan Sunan Ngerang.

Namun diam-diam, mata-mata Demak Bintara mengetahui semua itu. Laporan segera masuk ke hadapan Sultan Demak. Dan Sultan Demak meneruskan informasi itu ke Dewan Wali Sangha.

Sebuah informasi yang sangat mengejutkan bagi Dewan Wali Sangha. Dan Dewan Wali memerintahkan Sultan Demak agar semakin meningkatkan kegiatan mata-mata di wilayah Pengging. Sultan Demak merespon perintah tersebut, Jumlah pasukan mata-mata semakin ditambah di wilayah Pengging. Demak semakin waspada. Karena bila Pengging bergerak, dapat dipastikan, dukungan dari berbagai daerah akan mudah diraih. Apalagi ditambah sosok Syeh Lemah Abang dan Sunan Kalijaga di sana, Pengging akan berubah menjadi kekuatan yang sangat menakutkan. Dan hal ini, adalah ancaman serius bagi kelangsungan pemerintahan Demak Bintara.

Padahal, ketakutan Demak Bintara hanyalah ketakutan semu. Karena di Pengging, tidak ada pergerakan apapun. Ki Ageng Pengging tidak mempunyai rencana apapun untuk berbuat makar. Demak Bintara, hanya ketakutan sendiri.

Sunan Kalijaga membaca gelagat tersebut. Beliau memperingatkan Ki Ageng Pengging untuk waspada. Namun, Ki Ageng Pengging bagaimamapun juga masih berusia belia. Beliau kadang masih kurang perhitungan. Beliau sangat mencintai spiritualitas. Dan kecintaannya ini, membuat beliau tanpa perhitungan yang matang, menawarkan wilayah Pengging untuk dipakai sebagai tempat kepindahan Pesantren Krendhasawa milik Syeh Lemah Abang.

Syeh Lemah Abang memang mempunyai rencana untuk memindahkan lokasi pesantrennya yang ada di Cirebon. Hal ini berkaitan dengan situasi politik Cirebon yang semakin memanas akibat terus-terusan menjalankan agresi militer ke Pajajaran. Cirebon sudah tidak kondusif lagi bagi peningkatan Kesadaran. Sudah sangat berubah. Sudah tidak sama lagi dengan Cirebon di masa Syeh Dzatul Kahfi masih hidup.

Namun, Sunan Kalijaga melarang Syeh Lemah Abang menerima tawaran itu. Karena bila Syeh Lemah Abang menerimanya, pemerintah Demak Bintara akan menuduh beliau bersekongkol dengan Ki Ageng Pengging hendak mengadakan gerakan subversif. Syeh Lemah Abang memang tidak begitu memahami peta perpolitikan. Dan Sunan Kalijaga yang lebih paham. Oleh karenanya, Syeh Lemah Abang menolak tawaran Ki Ageng Pengging. Beliau memutuskan untuk tetap bertahan di Cirebon.

Dan, kabar bahwasanya Ki Ageng Pengging menawarkan wilayah Pengging sebagai tempat kepindahan pesantren Krendhasawa, diartikan lain oleh Pemerintahan Demak. Sultan Demak yang sudah terlanjur ketakutan, menyimpulkan bahwa memang tengah terjadi gerakan rahasia antara Ki Ageng Pengging dengan Syeh Lemah Abang.

Dan Dewan Wali Sanghapun bertindak. Sunan Giri Kedhaton, mengeluarkan fatwa bahwa Syeh Lemah Abang adalah musuh kekhilafahan Islam di Jawa, dan tugas Sultan Demak dan Sultan Cirebon (Sunan Gunung Jati) untuk menangkap Syeh Lemah Abang (Cerita selengkapnya, baca catatan saya SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR ATAU SYEH SITI JENAR : Damar Shashangka).

Terdengarlah kabar, Syeh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati oleh Pemerintah Demak Bintara dengan tuduhan MENGAJARKAN AJARAN SESAT dan HENDAK MENGADAKAN MAKAR! Tak urung, Lontang Asmara, Sunan Panggung dan murid-murid Syeh Lemah Abang yang lain, ikut dijadikan sasaran pemerintah !

Kabar ini sampai juga ke Pengging. Ki Ageng Pengging berkabung. Begitu juga Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh. Untung, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, lepas dari daftar buruan pemerintah Demak. Tidak seperti Lontang Asmara dan Sunan Panggung.

Ki Ageng Pengging benar-benar merasa kehilangan. Dan beliau semakin menyadari, bagaimana posisinya di mata Sultan Demak. Dirinya dipandang sebagai duri dalam daging. Musuh dalam selimut. Tak urung, setelah Syeh Lemah Abang pasti akan tiba giliran beliau menjadi target untuk disingkirkan.

Ki Ageng Pengging telah siap untuk itu. Siap menunggu giliran untuk disingkirkan. Bukan untuk melakukan perlawanan bersenjata, namun siap menerima ajal jika memang Sultan Demak menghendakinya. Ki Ageng Pengging sangat merindui sosok Syeh Lemah Abang. Apabila Syeh Lemah Abang pergi dari dunia maya ini, maka Ki Ageng Pengging berniat untuk mengikutinya. Apalah arti dunia bagi Ki Ageng Pengging. Dunia sama sekali sudah tidak menarik minat beliau.

Beberapa bulan setelah wafatnya Syeh Lemah Abang, Ki Ageng Pengging mengirimkan surat kepada Sultan Demak. Isi surat tersebut sangat mengejutkan. Ki Ageng Pengging bermaksud mengakhiri pemerintahan Pengging. Dan beliau meminta kepada Sultan Demak agar memasukkan wilayah Pengging ke kadipaten terdekat, sesuai kebijaksanaan Sultan Demak. Bahkan, Ki Ageng Pengging meminta agar Sultan Demak melepas segala jabatan politik beliau.

Surat ini menggemparkan Demak Bintara. Begitu menerima surat tersebut, Sultan Demak mengadakan sidang mendadak dengan para petinggi Kesultanan. Sidang berjalan alot. Dan hasil keputusan sidang, menyetujui permintaan Ki Ageng Pengging, walaupun sikap waspada tetap harus dijaga demi menghadapi maksud tersembunyi dari permintaan tersebut.

Keesokan harinya, Sultan Demak memerintahkan Patih Wanasalam, Patih Agung Kesultanan Demak Bintara, untuk berangkat menuju Pengging, menemui Ki Ageng Pengging. Patih Wanasalam ditugaskan untuk membacakan surat keputusan Sultan Demak di hadapan Ki Ageng Pengging sekaligus memenuhi keinginan Ki Ageng Pengging, mengadakan pelepasan jabatan. Di samping itu pula, Ki Wanasalam mendapat pesan khusus agar terus mencari informasi secara diam-diam tentang maksud sesungguhnya dari keinginan Ki Ageng Pengging.

Rombongan Patih Agung Demak Bintara ini, sampai juga di wilayah Pengging. Kedatangan rombongan pasukan Kesultanan yang serba mendadak ini, menggemparkan Pengging. Para Prajurit Pengging, tanpa dikomando, segera mempersiapkan diri untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Pengging mendadak tegang !!

Rombongan dari Demak ini disambut oleh Ki Ageng Pengging. Kedatangannya yang mendadak, tanpa pemberitahuan, memang disengaja agar bisa melihat kondisi Pengging yang sesungguhnya.

Seluruh pasukan Demak diberi tempat istirahat tersendiri. Ki Patih Wanasalam, diberikan tempat khusus. Perjalanan yang agak jauh, membuat Sang Patih kelelahan. Setelah disambut oleh Ki Ageng Pengging, Ki Patih Wanasalam, diberikan waktu untuk beristirahat sejenak.

Manakala dirasa sudah pulih tenaganya, Ki Wanasalam mengutus seorang prajurit agar menghadap Ki Ageng Pengging. Ki Ageng diminta bersiap-sedia karena Ki Wanasalam hendak menyampaikan amanat Sultan Demak. Dan prajurit yang diutus, kembali dengan menyampaikan pesan dari Ki Ageng agar Ki Patih berkenan menuju Bale Pisowanan.

Ki Wanasalam, diiringi beberapa pengawal khusus, berangkat terlebih dahulu menuju Bale Pisowanan. Setelah Ki Patih sudah tiba di sana, baru Ki Ageng Pengging menyusul. Hal ini adalah etika kerajaan Jawa, dimana seorang pejabat besar, harus terlebih dahulu ada di Bale Pisowanan, baru pejabat di bawahnya datang menghadap.

Setelah keduanya berada di Bale Pisowanan, Ki Ageng Pengging menyatakan kesiapannya mendengarkan amanat Sultan Demak Bintara. Ki Wanasalam segera menjelaskan, bahwa surat Ki Ageng telah diterima oleh Sultan Demak. Dan Sultan Demak telah mengadakan sidang khusus. Hasil keputusan sidang, telah tertulis di dalam gulungan Surat Keputusan Sultan yang kini dipegang oleh Ki Wanasalam. Sebelum dibacakan, Ki Wanasalam menanyakan kesungguhan isi surat yang dikirimkan Ki Ageng Pengging. Lantas rencana apa yang hendak dilakukan Ki Ageng apabila keinginannya dikabulkan oleh Sultan Demak ?

Ki Ageng menghaturkan sembah sebelum menjawab, lantas beliau menuturkan bahwasanya apa yang telah beliau tulis dalam surat yang telah dikirimkan ke hadapan Sultan Demak memang benar-benar telah menjadi niat dan kebulatan tekad beliau. Manakala keinginannya yang tertulis di dalam surat tersebut dikabulkan, maka beliau hanya meminta agar pajak wilayah Pengging tidak dinaikkan serta memberikan tanah kepada Ki Ageng Pengging cukup beberapa jung (hektar) saja, sekedar sebagai tempat tinggal dan lahan bersawah.

Ki Wanasalam belum puas, dia terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang penuh selidik. Tentang hubungannya dengan Sunan Kalijaga, tentang nasib para prajurit Pengging kelak di kemudian hari, tentang jumlah perenjataan Pengging, tentang perekonomian Pengging dan tentang hubungan Ki Ageng Pengging dengan Syeh Lemah Abang dan para murid-muridnya. Ki Wanasalam sengaja ingin mendengar langsung jawaban dari Ki Ageng Pengging, demi untuk mencari-cari hal-hal yang janggal dari kata-kata beliau.

Namun, tidak satupun jawaban yang diberikan oleh Ki Ageng Pengging nampak ada kejanggalan di sana. Ki Wanasalam tetap belum sepenuhnya percaya, dan pada akhirnya, Ki Wanasalam mengajukan pertanyaan simbolik. Pertanyaan yang sudah dipesankan oleh Sultan Demak. Pertanyaannya adalah sebagai berikut :

“Mana yang dipilih, ATAS atau BAWAH. KOSONG atau ISI?”

Ki Ageng Pengging tersenyum. Sejenak beliau terdiam. Lantas memberikan jawaban :

“Manakah yang hendak saya pilih ? Tidak ada. Sebab baik ATAS, BAWAH, KOSONG maupun ISI. Semuanya adalah milik saya.”

Ki Wanasalam terkejut mendengar jawaban Ki Ageng Pengging. Sekali lagi Ki Wanasalam mengajukan pertanyaan serupa. Dan kembali Ki Ageng Pengging memberikan jawaban yang sama, dan beliau tambahi :

“Janganlah salah mengerti. AKU ini adalah segalanya. AKU ada dimana-mana. AKU telah melampaui segalanya. Jadi, manalagi yang bisa AKU pilih ? Karena semuanya adalah AKU.”

Ki Wanasalam tersenyum dan berkata :

“Tuluskah jawaban Ki Ageng ? Tidak adakah maksud lain ?”

Ki Ageng Pengging tersenyum. Dia tidak menjawab lagi. Jawaban Ki Ageng Pengging sangatlah tulus. Namun Ki Wanasalam tetap tidak bisa menangkap ketulusan itu. Dia masih curiga. Curiga jikalau jawaban itu bernilai ambigu. Tidak murni spiritual, namun tersirat juga maksud Ki Ageng Pengging mempunyai rencana merebut tahta Demak Bintara. Pikiran Ki Wanasalam yang sudah terpola dengan kecurigaan, tidak bisa melihat ketulusan kata-kata Ki Ageng Pengging.

Melihat orang yang pikirannya seliar ini, maka percuma Ki Ageng Pengging mengulangi kata-katanya. Beliau lantas memilih diam dan tersenyum. Senyum geli seseorang yang melihat keserakahan tampak di depan matanya. Keserakahan manusia yang terobsesi keduniawian. Dan lagi lagi, senyum ini diartikan lain oleh pikiran Ki Wanasalam. Pikiran yang sudah penuh dengan setan-setan liar !

Jika Ki Wanasalam sadar, dia seharusnya malu. Malu kepada sosok pemuda yang umurnya terpaut jauh dengannya, namun batinnya lebih tulus daripada batinnya sendiri.

Dan pada akhirnya, Ki Wanasalam menyampaikan amanat Sultan Demak. Dia mengeluarkan surat keputusan Sultan Demak. Sembari berdiri, dia membacakan surat keputusan tersebut.

Surat tersebut berisi, mulai semenjak hari yang tertanda dalam surat keputusan Sultan Demak, Ki Ageng Pengging dilepas dari jabatannya sebagai Adipati Pengging. Dan, Pengging bukan lagi wilayah tersendiri. Pengging akan dimasukkan ke wilayah terdekat. Untuk sementara, menunggu keputusan lebih lanjut, Ki Ageng Pengging harus tetap memimpin Pengging dan tetap menjaga keamanan Pengging.

Gemparlah seluruh prajurit Pengging mendengar surat keputusan Sultan Demak tersebut. Sedang, Ki Ageng Pengging malah tersenyum puas. Karena dengan lepasnya jabatan sebagai Adipati dari pundaknya, maka setidaknya, rasa ketidakterimaan beliau akan tahta yang direbut Raden Patah, yang masih tersisa sedikit di relung hatinya, bisa dimatikan ! Namun, tidak begitu bagi para prajurit Pengging. Banyak yang menahan amarah ketidak-terimaan !

Selesai membacakan surat keputusan Sultan Demak, Ki Patih Wanasalam, menggulung surat tersebut, menyimpannya kembali dan duduk. Lantas Ki Patih berkata :

“Mulai hari ditetapkannya surat keputusan ini, ananda Ki Ageng Pengging sudah bukan lagi seorang Adipati. Dan atas perintah Kangjeng Sultan Demak, ananda harus menghadap ke Demak demi menunjukkan kesetiaan ananda.”

Ki Ageng menjawab :

“Ki Patih, apa perlunya hamba menghadap ke Demak ? Toh sekarang saya bukan siapa-siapa lagi. Sudahlah, saya sekarang hanyalah orang Sudra, wong cilik. Kangjeng Sultan Demak seyogyanya jangan lagi mencurigai hamba.”

Ki Patih berkata tegas :

“Ini adalah perintah seorang Sultan. Dan beliau memberi waktu bagi ananda tiga tahun ke depan.”

Dan, upacara pelepasan jabatanpun segera dilakukan. Setelah upacara usai, Ki Wanasalam kembali ke tempat istirahatnya. Dan Ki Ageng Pengging, kembali ke Dalem Agung.

Berita dilepasnya jabatan Adipati dari pundak Ki Ageng Pengging, segera menyebar ke seluruh penjuru Pengging. Menyebar dari mulut ke mulut. Ketidakpuasan pun terdengar. Banyak yang tidak bisa menerima akan hal tersebut.

Keesokan harinya, kembali Ki Wanasalam bertemu Ki Ageng Pengging untuk berpamitan.

Hari itu, Pengging gempar. Para Lurah Prajurit Pengging memohon menghadap kepada Ki Ageng Pengging demi untuk menanyakan maksud keputusan tersebut. Dan kepada para Lurah Prajurit Pengging, Ki Ageng membenarkan keputusan beliau tersebut dan seluruh masyarakat Pengging diminta menerima kenyataan ini. Bagaikan menelan pil pahit para Lurah Prajurit mendengarnya. Ki Ageng Pengging lantas memberikan kepada mereka, untuk bergabung menjadi prajurit Kadipaten yang bakal dipasrahi wilayah Pengging kelak atau melepaskan jabatan sebagai prajurit dan bertani.

Para Lurah Prajurit segera mengumpulkan prajurit Pengging. Kepada mereka, para Lurah Prajurit menawarkan pilihan dari Ki Ageng Pengging. Dan sungguh tidak disangka, seluruh prajurit menyatakan hendak meletakkan senjata dan memilih menjadi petani biasa, mengikuti junjungan mereka, Ki Ageng Pengging!

Dan, di Demak, kabar dilepasnya jabatan Ki Ageng Pengging sebagai Adipati pun merebak pula. Ki Wanasalam sudah menyampaikan hasil dia diutus ke Pengging. Sultan Demak sedikit berlega hati. Namun manakala dia mendengar bahwasanya Ki Ageng Pengging tampak enggan untuk menghadap ke Demak, kecurigaannya kembali muncul.

Tinggal menunggu waktu. Jika sampai tiga tahun mendatang Ki Ageng Pengging tetap tidak menghadap ke Demak, maka tidak ada jalan lain, cucu Prabhu Brawijaya V itu, harus disingkirkan seperti halnya Syeh Lemah Abang !

(28 Desember 2009, by : Damar Shashangka).


Bagian : 3

Ki Ganjur sowan ke istana Demak. Seorang kawula yang dipanggil menghadap ke Keraton, biasanya kalau tidak mendapatkan anugerah atau tugas khusus, kemungkinan besar pasti akan mendapatkan murka. Dan Ki Ganjur sudah dapat memperkirakan, dirinya akan mendapatkan murka dari Sultan Demak. Ki Ganjur menunggu untuk dipanggil menghadap ke Siti hinggil di tempat khusus. Setelah sekian lama menunggu, seorang abdi dalem datang dan menyuruh Ki Ganjur menghadap ke Siti Hinggil.

Setelah bertatap muka dengan Sultan Demak, Ki Ganjurpun meminta pengampunan kepada Sultan atas kecerobohan yang telah dilakukan oleh Jaka Tingkir. Ternyata, Sultan tidak murka, malahan Sultan menanyakan siapakah pemuda yang kini tinggal di rumah Ki Ganjur. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Ki Ganjur. Serta merta Ki Ganjur menyampaikan siapa sesungguhnya Jaka Tingkir. Sultan Trenggana terkejut. Namun, sedemikian pintarnya Ki Ganjur meyakinkan Sultan, pada akhirnya, Sultan Demakpun berkata :

“Paman Ganjur, jika memang benar apa yang kamu katakan barusan, beranikah Jaka Tingkir aku uji kesaktiannya?”

Ki Ganjur diam. Tapi tak ada jalan lain.

“Jika memang Kangjeng Sultan berkehendak seperti itu, kami hanya bisa pasrah saja. Tapi beribu ampun, Kangjeng. Kalau boleh hamba tahu, Kangjeng hendak menguji anak saya Tingkir dengan cara bagaimana ?”

Kangjeng Sultan tersenyum :

“Seperti halnya menguji calon pasukan pengawal Sultan. Yaitu diadu dengan seekor banteng. Beranikah?”

Ki Ganjur menyutujui.

Dan pada hari yang telah ditentukan, di lapangan tempat pengujian para prajurit, dengan disaksikan oleh Sultan Demak sendiri, beserta beberapa pejabat dan para pasukan pengawal Sultan, Jaka Tingkir, siap diuji kesaktiannya !

Jaka Tingkir yang telah banyak belajar ilmu bela diri, termasuk cara menggunakan berbagai senjata, cara berkuda dan ilmu-ilmu kanoragan dari para pertapa Shiwa Buddha, kini semua yang telah dipelajarinya tersebut, harus ditunjukkan semaksimal mungkin. Karena hari ini adalah hari penentuan bagi masa depan Jaka Tingkir di kemudian hari.

Jaka Tingkir dengan gagahnya menaiki seekor kuda sembari membawa busur panah. Tegang dia menunggu bunyi gong tanda dilepaskannya banteng liar sebagai lawan tandingnya. Manakala dari atas panggung, Kangjeng Sultan Trenggana mengangkat tangan kanannya, maka, gongpun dipukul nyalang oleh seorang prajurit khusus. Menyusul seekor banteng liar tiba-tiba masuk ke dalam areal lapangan.

Sorak-sorai terdengar. Jaka Tingkir menggebrak kudanya. Gemuruh suara para prajurit menambah semangat Jaka Tingkir. Untuk beberapa saat, Jaka Tingkir memacu kuda mengelilingi tubuh banteng tersebut. Banteng mendengus. Sesaat belum terpancing. Namun sesaat kemudian, banteng berubah semakin liar.

Banteng menyerang Jaka Tingkir. Jaka Tingkir sigap, kuda berputar indah menghindari serudukan banteng. Gemuruh suara prajurit terdengar melihat gerakan indah cara menghindar yang dipertunjukkan oleh Jaka Tingkir. Sultan Trenggana tersenyum.

Serudukan awal itu luput, banteng memutar badannya, mendengus kencang, lantas kembali mengejar Jaka Tingkir. Aksi kejar-kejaran terjadi. Jaka Tingkir dengan lihai mampu menjaga jarak yang tetap antara kudanya dan banteng yang terus mengejar. Dan dengan gagahnya, Jaka Tingkir melepaskan tali kekang kuda sembari mengangkat tubuhnya dari pelana. Dengan posisi miring ke arah belakang, Jaka Tingkir melepaskan beberapa anak panah. Tidak terlihat kapan Jaka Tingkir mengambil anak panah dari pundaknya. Anak panah meluncur deras dan tepat mengenai tubuh banteng. Banteng terluka, serudukannya agak goyah. Gemuruh prajurit riuh rendah melihat ketangkasan Jaka Tingkir yang mampu mengendarai kuda tanpa memegang tali kekang dan sekaligus melepaskan anak panah dengan fokus yang terarah.

Banteng mendengus, Semakin liar.

Tiba-tiba, dari arah pinggir, muncul due ekor banteng lain. Keduanya langsung menyerang Jaka Tingkir. Dengan sangat lincah Jaka Tingkir memacu kuda dan mengambil sebatang tombak yang tersedia di pinggir arena. Sekali lagi, Jaka Tingkir bangkit dari pelana kuda, tombak terarah pada salah satu banteng. Sesaat Jaka Tingkir mengarahkan tombaknya. Sesaat kemudian dia melemparkan tombak di tangannya ke arah tubuh salah satu banteng. Tepat, seekor banteng perutnya jebol terkena tombak.

Jaka Tingkir berputar lagi menuju pinggiran arena, dia menyambar sebatang tombak lagi, seperti yang tadi, Jaka Tingkir melemparkan tombak ke arah salah satu banteng yang lain. Sekali lagi, seekor banteng terkena bidikan tombaknya.

Jaka Tingkir tidak membuang waktu, dengan tetap memacu kudanya, beberapa kali dilepaskannya anak panah. Bidikan anak panah tak ada yang meleset, mengarah satu persatu ke tubuh ketiga banteng yang kebingungan hendak menyeruduk.

Kondisi ketiga banteng sudah lemah. Jaka Tingkir mendekati salah seekor banteng. Dengan indahnya, dia melompat dari punggung kuda yang dinaikinya, berpindah ke punggung banteng. Banteng melonjak-lonjak. Nampak Jaka Tingkir ikut terayun-ayun. Namun dengan kecepatan yang luar biasa Jaka Tingkir menancapkan sebilah keris di leher banteng yang dinaikinya.

Banteng roboh, Meregang nyawa. Seekor banteng yang lain mendekat. Jaka Tingkir lari menghindar. Tapi, bersamaan dengan itu, cepat keris di tangannya mengarah ke leher banteng yang menyeruduknya. Leher banteng terkoyak. Banteng lari kepinggir dan roboh meregang nyawa.

Gemuruh sorak sorai prajurid kembali terdengar. Tinggal seekor lagi. Sultan Trenggana terlihat bangkit dari duduknya. Dia nampak terpikat dengan ketangkasan Jaka Tingkir.

Sedangkan di tengah arena, Jaka Tingkir berlari menghampiri kudanya. Kembali dia menaiki kuda. Tombak kembali dia raih. Dan tombak meluncur mengarah tubuh banteng. Telak!, banteng mendengus dan roboh akibat telah banyak luka-luka di tubuhnya. Sorak sorai lebih hebat membahana mengiringi kemenangan Jaka Tingkir. Dan Sultan Demak-pun puas.

Jaka Tingkir diangkat sebagai Lurah Prajurit Pengawal Sultan Demak

Berhasil dengan gemilang melewati uji keprajuritan pasukan pengawal Sultan, nama Jaka Tingkir seketika dikenal dan merebak di kalangan istana. Identitas Jaka Tingkir sebagai putra Ki Ageng Penggingpun sudah banyak yang tahu. Banyak para pejabat Demak yang kagum pada ketangkasan Jaka Tingkir, namun di sebagian pihak, bergulir pula sebuah kecemasan.

Sunan Kudus, adalah salah seorang yang mencemaskan hal tersebut, dia mengutarakan kecemasannya atas masuknya putra Ki Ageng Pengging di lingkungan istana Demak kepada Sultan Trenggana langsung. Namun, Sultan Trenggana sudah terlanjur menyukai Jaka Tingkir. Kecemasan Sunan Kudus tidak begitu ditanggapi Sultan Demak.

Dan, manakala Sultan Trenggana melantik Jaka Tingkir sebagai Lurah Prajurit Pengawal Sultan Demak, maka gegerlah seluruh pejabat. Ada yang diam-diam menolak dan tidak puas atas keputusan tersebut, namun banyak pula yang bergembira mendengar keputusan Sultan.

Dan masa depan Jaka Tingkir sudah nampak di depan mata. Kemampuan Jaka Tingkir kerap kali teruji. Sebagai Lurah Prajurit Pengawal Sultan, Jaka Tingkir mampu memberikan rasa aman bagi Sultan Trenggana. Pernah suatu ketika, manakala Sultan Trenggana tengah melakukan perburuan di hutan, Jaka Tingkir berhasil menyelamatkan Sultan Trenggana dari serangan gerombolan gerilyawan Majapahit.

Jaka Tingkir mampu mengusir gerombolan gerilyawan tersebut tanpa pertempuran sama sekali. Pemimpin gerombolan mematuhi perintah Jaka Tingkir, sang putra Ki Ageng Pengging, untuk tidak meneruskan penyerangannya.

Begitu juga suatu ketika, saat Jaka Tingkir mengawal Sultan Trenggana yang tengah berkunjung ke wilayah Bagian Demak melalui rute menyeberangi sebuah sungai, Jaka Tingkir mampu mengundurkan gerombolan gerilyawan Majapahit pula yang tengah menyerang secara tiba-tiba rombongan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir mengundurkan mereka tanpa pertempuran sama sekali. Sultan Trenggana merasa sangat terlindungi dan aman dengan Jaka Tingkir yang berada di sampingnya.

(Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan, manakala Sultan Trenggana tengah berburu, Jaka Tingkir berhasil menangkap seekor harimau yang hendak mengganggu Sultan. Harimau tersebut ditaklukkan dan dipanggul oleh Jaka Tingkir. Ditunjukkan kepada Sultan Demak, lantas dilepaskannya. Dan di lain waktu, manakala Sultan Demak tengah mengadakan kunjungan ke wilayah bagian dengan melewati rute menyeberangi sebuah sungai, tiba-tiba muncul buaya yang besar. Jaka Tingkir terjun ke sungai, dia bergulat dengan buaya. Buaya berhasil ditangkap, diperlihatkan kepada Sultan Trenggana dan lantas dilepaskan : Damar Shashangka).

Jaka Tingkir sangat dekat dengan Sultan Trenggana. Lebih dekat daripada pejabat-pejabat yang lain, seperti Sunan Kudus maupun Fatahillah, Sang Senopati Demak Bintara. Keselamatan Sultan benar-benar terjaga apabila Jaka Tingkir melakukan pengawalan. Seluruh lasykar Majapahit yang masih bergerilya, sangat menghormati dan menyegani putra Ki Ageng Pengging tersebut. Apa yang disampaikan oleh Ki Ganjur, terbukti sudah. Dan Sultan Trenggana semakin menyayangi Jaka Tingkir.

Pada suatu ketika, Sultan Trenggana mengeluarkan maklumat khusus, membuka kesempatan kepada pemuda-pemuda Demak untuk mengabdi sebagai Pasukan pengawal Sultan. Sultan Demak menghendaki jumlah personil pasukan pengawal ditambah dengan mengambil personil baru di luar personil angkatan perang yang sudah ada.

Maklumat istimewa tersebut disambut antusias oleh seluruh pemuda-pemuda Demak. Banyak yang berdatangan ke ibu kota Demak. Mereka mengajukan diri untuk bersedia mengabdi sebagai anggota Pasukan pengawal Sultan.

Setiap pemuda harus melewati ujian-ujian yang tidak mudah. Banyak yang berhasil, tapi lebih banyak pula yang gagal. Jaka Tingkir mendapat tugas melakukan penyeleksian dan pengujian. Konon, seluruh pemuda yang berasal dari padepokan-padepokan di pelosok Tanah Jawa, banyak yang berdatangan. Dengan mengandalkan kesaktian yang telah mereka peroleh dari guru masing-masing, para pemuda ini mencoba peruntungannya di Demak Bintara.

Pemberontakan Ki Ageng Sela

Ada kejadian menarik. Putra Ki Getas Pandhawa, guru Sultan Trenggana, yang bernama Ki Ageng Sela, ikut mendaftar. Padahal Ki Ageng Sela sudah memegang jabatan sebagai kepala pasukan bersenjata Demak yang ditugaskan di daerah Sela (Sekarang tetap bernama Sela, sebuah daerah di sekitar lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah : Damar Shashangka).

Sultan Trenggana jelas-jelas tidak mau mengambil personil calon pasukan pengawal dari personil angkatan bersenjata yang sudah ada. Namun mengingat Ki Ageng Sela masih merupakan putra gurunya, Sultan Trenggana terpaksa menyuruh Jaka Tingkir untuk mencatatnya dalam daftar calon-calon anggota pasukan pengawal yang hendak diuji. Namun, saat pengujian Ki Ageng Sela, Sultan sendiri yang akan memutuskan hasilnya, bukan Jaka Tingkir.

(Ki Ageng Sela adalah putra Ki Getas Pandhawa. Ki Getas Pandhawa adalah putra Raden Bondhan Kejawen atau Ki Ageng Tarub II. Raden Bondhan Kejawen adalah putra Prabhu Brawijaya V dengan Dewi Wandhan Kuning yang berasal dari Sulawesi. Baca catatan saya Misi Pengislaman Nusantara : Damar Shashangka).


MAKAM KI AGENG TARUB I & KI AGENG TARUB II (RADEN BONDHAN KEJAWEN), PURWODADI, JAWA TENGAH


Saat hari pengujian Ki Ageng Sela, Sultan Trenggana hadir menyaksikannya. Seperti saat menguji Jaka Tingkir, Ki Ageng Selapun diadu dengan tiga ekor banteng liar sekaligus. Dua ekor banteng bisa ditaklukkan dengan mudah oleh Ki Ageng Sela, dan manakala tinggal seekor banteng lagi, saat keris Ki Ageng Sela berhasil menghunjam ke leher banteng, darah banteng tersebut muncrat ke wajah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela memalingkan wajahnya jijik.

Sultan Trenggana tersenyum. Saat itu juga beliau memutuskan bahwa Ki Ageng Sela telah gagal dalam menempuh ujian. Sultan berkata :

“Sela… sira ora katarima, amarga sira jirih ing getih!”
(Sela… kamu tidak diterima, sebab kamu masih jijik dengan darah!)


Ki Ageng Sela marah mendengar keputusan Sultan. Dia kembali ke Sela dan mengumpulkan seluruh pasukan yang berada di bawah komandonya. Beberapa minggu kemudian, ibu kota Demak dikagetkan dengan mengamuknya pasukan Demak sendiri di areal keraton. Fatahillah, sebagai Senopati Agung Demak mendapat laporan, bahwa pasukan Demak yang ditugaskan di daerah Sela dan dipimpin langsung oleh Ki Ageng Sela tengah mengamuk di istana. Fatahillah segera menghadap Sultan Trenggana dan memohon ijin untuk menggempur Ki Ageng Sela beserta pasukan Demak yang bersamanya. Namun Sultan Trenggana melarang Fatahillah untuk menggempur pasukan yang membelot tersebut secara sungguh-sungguh. Jika memang memungkinkan, hindari korban seminimal mungkin. Dan pesan Sultan kepada Fatahillah, agar Senopati Demak tersebut memberikan ruang kepada Ki Ageng Sela agar bisa leluasa masuk areal keraton. Sultan Trenggana berkehendak untuk menghadapi Ki Ageng Sela sendiri jika memang dia berani masuk ke istana.

Fatahillah segera melaksanakan perintah. Di areal istana, Sultan Trenggana menunggu kemungkinan Ki Ageng Sela memang berani memasuki areal istana yang sengaja dibuka untuknya. Hanya pasukan Ki Ageng Sela yang akan ditahan. Ki Ageng Sela sendiri disengaja diberikan keleluasaan memasuki istana.

Sultan Trenggana menaiki seekor kuda dengan dikawal para pasukan pengawal Sultan yang dipimpin oleh Jaka Tingkir.

Dan benar. Manakala di luar istana tengah terjadi pertempuran, nampak seorang penunggang kuda memacu kudanya memasuki areal keraton dengan beraninya.

Jaka Tingkir waspada. Dia memberikan isyarat agar seluruh pasukan pengawal siaga. Pasukan pengawal bergerak mengitari Sultan Trenggana. Posisi Sultan kini berada ditengah-tengah seluruh pasukan.

Ki Ageng Sela dengan beraninya memacu kuda sembari memegang senjata terhunus. Sultan Trenggana tanggap. Dari atas punggung kuda, Sultan merentangkan busur panah dan melepaskan beberapa anak panah. Sasarannya bukan tubuh Ki Ageng Sela, namun kuda tunggangannya.

Begitu anak panah yang dilontarkan Sultan Trenggana mengenai sasaran di kaki kuda Ki Ageng Sela, sontak kuda meringkik nyaring dan tersungkur ruboh! Otomatis, Ki Ageng Sela ikut jatuh terjerembab.

Dalam posisi seperti itu, Jaka Tingkir memerintahkan pasukannya mengepung Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela tidak berdaya. Tombak-tombak tajam prajurit pengawal Sultan terarah ke tubuhnya yang masih jatuh terduduk di dekat kudanya yang roboh meringkik-ringkik.

Sultan memacu kuda mendekat kearah Ki Ageng Sela. Dari atas kuda, Sultan berkata :

“Sela, jelas sudah terlihat kamu sangat semberono dalam melakukan penyerangan. Seorang pemimpin pasukan tidak seharusnya meninggalkan pasukannya sendirian saat pertempuran tengah berlangsung. Apalagi, berani menyerang pusat kekuatan musuh sendirian pula!”

Dan Ki Ageng Sela harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Ki Ageng Sela ditahan di Demak Bintara.

Sesungguhnya, ada pemicu lain yang membuat Ki Ageng Sela berani coba-coba melakukan ’pemberontakan kecil’ tersebut. Ki Ageng Sela meyakini bahwa dari keturunan Tarub, yaitu keturunan Raden Bondhan Kejawen, sesuai ramalan Prabhu Brawijaya V, eyang buyut Ki Ageng Sela, bahwasanya kelak dari keturunan Tarub akan tampil menjadi Raja Tanah Jawa. Wahyu keprabon tersebut belum saatnya turun kekeluarga Tarub pada masa itu. Wahyu itu akan jatuh kepada cicit Ki Ageng Sela, yaitu Panembahan Senopati, yang kelak mendirikan Kesultanan Mataram pada tahun 1575 Masehi.

Atas kebijaksanaan Sultan Demak, kesalahan Ki Ageng Sela diampuni. Dia tetap dipercaya memimpin pasukan didaerah Sela, walau terbatas hanya dengan dua ratus lima puluh personil semata.



MAKAM KI AGENG SELO, DESA SELO, TAWANG HARJO, PURWODADI


Jaka Tingkir terusir dari Demak


Proses pendaftaran calon pasukan pengawal Sultan berlanjut setelah peristiwa Ki Ageng Sela. Suatu ketika, datang seorang pemuda berperawakan tinggi besar dengan janggut ditumbuhi bulu lebat. Dia mengaku bernama Dhadhung Awuk. Dhadhung Awuk adalah pemuda yang terkenal sakti mandraguna. Beberapa anggota pasukan pengawal memberikan informasi kepada Jaka Tingkir bahwa Dhadhung Awuk pernah dicurigai terlibat pemberontakan Raden Suryawiyata.

Saat mendaftar, Dhadhung Awuk sesumbar bahwa dirinya gatal ingin menghancurkan lasykar-lasykar Majapahit yang masih banyak melakukan perang gerilya. Dia ingin mengadu kesaktian dengan mereka. Kalau sehari tidak memukuli orang-orang Majapahit, tangannya terasa gatal!

Mendapat laporan seperti itu, diam-diam Jaka Tingkir marah. Sontak dia datang sendiri ke tempat pendaftaran. Melihat kehadiran Jaka Tingkir, beberapa pasukan memberikan tempat. Jaka Tingkir lantas duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Dhadhung Awuk.

Jaka Tingkir sendiri yang menyatakan keberatan dengan pengajuan diri Dhadhung Awuk untuk mendaftar sebagai calon pasukan pengawal Sultan. Demak membutuhkan orang-orang yang mampu menghargai semua lapisan. Demak sudah kebanyakan orang-orang kolot.

Dan Dhadhung Awuk tersinggung. Dia kemudian berkata :

“Apakah karena Raden Jaka Tingkir masih pewaris sah tahta Majapahit sehingga Raden tidak menyukai saya? Ingat Raden, ini Demak, bukan Majapahit! Dan Majapahit sudah tidak ada apa-apanya lagi!"

Jaka Tingkir diam. Lalu dia mempersilakan Dhadhung Awuk untuk meninggalkan tempat tersebut.

Dhadhung Awuk semakin lancang :

“Jika Raden tidak terima, boleh kita mengadu kesaktian. Atas nama pribadi, antara Dhadhung Awuk dan Jaka Tingkir, bukan antara Dhadhung Awuk dengan seorang Lurah Prajurit Pengawal Sultan Demak!”

Gegerlah seluruh yang hadir mendengar perkataan Dhadhung Awuk. Baik para prajuridt pengawal Sultan maupun para pemuda yang sedang mengantri menunggu giliran mendaftarkan diri.

Jaka Tingkir tidak menggubris. Dan Dhadhung Awuk-pun tidak juga segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

Maka bangkitlah amarah Jaka Tingkir manakala Dhadhung Awuk sesumbar :

“Ketahuilah Raden, badan saya ini terasa gatal semua jikalau sehari saja tidak dihunjami senjata oleh orang Majapahit!”

Jaka Tingkir memberi isyarat kepada seorang anak buahnya untuk mendekat. Jaka Tingkir membisikkan sesuatu, lantas, prajurit tersebut memerintahkan seluruh yang hadir menepi untuk memberi ruang lebar.

Tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi. Dan semua orang jadi tahu apa yang bakalan terjadi ketika Jaka Tingkir berkata kepada Dhadhung Awuk :

“Jika memang itu maumu, mari kita buktikan bersama siapa yang lebih sakti! Aku akan mencoba kesaktianmu dengan sadak ini.”

Saat itu Jaka Tingkir tengah memegang ‘sadak’. (Sadak adalah alat penumbuk buah gambir, dimana hasil tumbukan tersebut dipakai sebagai bahan campuran untuk mengunyah sirih. Panjangnya sekitar 15 cm dan besarnya Cuma sebesar jempol tangan, berbentuk silindris : Damar Shashangka).

Dhadhung Awuk mendengus melihat beberapa prajurit telah membuat ‘kalangan’ atau tempat yang cukup luas untuk adu kesaktian. Dhadhung Awuk segera beranjak dari bersila, lantas bergerak ke arah tengah-tengah ‘kalangan’ yang telah disediakan. Di sana dia berdiri gagah dan membuka dadanya lebar-lebar.

Terlihat Dhadung Awuk mencabut keris. Kemudian menghunjamkan keris itu berkali-kali ke dada dan perutnya sendiri. Tidak ada luka sedikitpun di tempat mana dia menghunjamkan senjata tersebut.

Jaka Tingkir beranjak. Dia menuju ‘kalangan’ dengan disaksikan oleh para prajurit dan para pemuda dengan dada berdebar.

Kini, Jaka Tingkir dan Dhadhung Awuk berdiri berhadap-hadapan. Di tangan Jaka Tingkir tergenggam sadak. Melihat apa yang dipegang Jaka Tingkir, Dhadhung Awuk sedikit mendengus. Keris saja tidak mampu melukai tubuhnya, apalagi sebuah sadak. Begitu Dhadhung Awuk bergumam dalam hati.

Sesaat keduanya masih diam di tempat masing-masing. Dan sedetik kemudian, Jaka Tingkir tiba-tiba bergerak cepat menusukkan sadak ke dada Dhadhung Awuk. Dhadhung Awuk membuka dada lebar-lebar.

Dan Dhadhung Awuk menjerit keras manakala sadak di tangan Jaka Tingkir menancap dalam tepat dijantungnya. Darah muncrat dari sana. Dhadhung Awuk menggeram. Tikaman Jaka Tingkir tepat mengenai organ vital. Tubuh Dhadhung Awuk bergetar hebat. Sedetik kemudian jatuh terduduk, lantas roboh menelungkup. Dhadhung Awuk tewas seketika.

Gegerlah seluruh yang hadir. Kejadian tersebut dilihat oleh beberapa pejabat yang kebetulan hadir di tempat tersebut. Mereka lantas menghadap Sultan Trenggana, melaporkan kejadian terbunuhnya seorang calon pasukan pengawal Sultan di tangan Jaka Tingkir. Sultan Trenggana murka. Beliau seketika itu juga memerintahkan Jaka Tingkir untuk menghadap.

Pada hari itu, Sultan Demak melepas jabatan Jaka Tingkir sebagai Lurah Prajurit Pengawal Sultan. Bahkan, Jaka Tingkir diusir dari lingkungan istana Demak.

Jaka Tingkir yang memang merasa bersalah, menerima keputusan tersebut. Namun diam-diam, dengan diusirnya Jaka Tingkir dari istana, Nimas Sekar Kedhaton, adik Ratu Kalinyamat, menangis dan merasa kehilangan.

(Bali, 31 Januari 2010, by ; Damar Shashangka, ditemani Krisna Pradnya Permana Putu)

Bagian : 4

Sunan Kudus bertanya.

“Ana Curiga kalawan Warangka. Yen mung katon Warangka, aneng ngendi Curiganira?”

(Ada Keris dan Warangka. Manakala hanya terlihat Warangka, dimanakah Kerisnya ?)


Ki Ageng Pengging menjawab,

“Amanjing Warangka. Manunggal anyawiji!”

(Masuk kedalam Warangka. Manunggal menjadi satu!)


Sunan Kudus tersenyum, lantas bertanya lagi.

“Yen mung katon Curiga, aneng ngendi Warangkaneki?”

(Manakala hanya terlihat Keris, dimanakah Warangkanya? )


Ki Ageng Pengging menjawab.

“Amanjing Curiga. Manunggal anyawiji!”

(Masuk ke dalam Keris. Manunggal menjadi satu ! )


Kemudian Sunan Kudus bertanya.

“Yen musna ilang lelorone, dumunung ing ngendi?”

(Manakala hilang musna keduanya, berada dimanakah?)


Ki Ageng Pengging menjawab.

“Dumunung aneng Urip!”

(Berada didalam Hidup!)


Sunan Kudus tertawa. Lantas dia bertanya lagi..

“Ana ing ngendi dununging Urip?”

(Dimanakah tempat kediaman Hidup?)


Ki Ageng pun menjawab.

“Ana Ing Galihing Kangkung,
Ana Ing Gigiring Punglu,
Ana Ing Susuhing Angin,
Ana Ing Wekasaning Langit.

(Berada di inti tumbuhan Kangkung,
Berada di sudut Pelor,
Berada di Kediaman Angin,
Berada di akhir Langit. )



(Tumbuhan Kangkung berlobang dibagian tengahnya, lantas dimanakah intinya tumbuhan kangkung? Pelor atau mimis jaman dulu, berbentuk bulat, lantas dimanakah sudutnya? Angin senantiasa bergerak, lantas dimanakah kediamannya ? Langit tanpa batasan, lantas dimanakah akhir langit? Inti Kangkung, Sudut Pelor, Kediaman Angin dan Akhir langit, disitulah tempat kedudukan Hidup berada : Damar Shashangka).

Kembali Sunan Kudus tersenyum, dan Sunan Kudus belum puas. Kembali dia melempar pertanyaan.

“Yen ilang Alip, lebur marang Lam Awal lan Lam Akhir. Ilang Lam Awal lan Lam Akhir, lebur marang Ha'. Yen lebur Ha' dumunung aneng ngendi?”

(Jika hilang huruf Alif, maka lebur kedalam Lam Awwal dan Lam Akhir. Jika hilang Lam Awwal dan Lam Akhir, lebur kedalam Ha'. Jika lebur Ha', berada dimanakah ? )


Ki Ageng menjawab.

“URIP!”

(Hidup!)


Sunan Kudus menyela.

“ALIP Jisimingsun!”

(ALIP Jasad-Ku! )


Ki Ageng menyela juga.

“ANG Raganingsun!”

(ANG Raga-Ku! )


Sunan Kudus menyela lagi.

“LAM AWAL lan LAM AKHIR Napsuningsun!”

(LAM AWWAL dan LAM AKHIR Nafs-Ku! )


Ki Ageng menyela juga.

“UNG Suksmaningsun!”

(UNG Suksma-Ku ! )


Sunan Kudus menimpali lagi.

“HU Ruhingsun !”

(HU Roh-Ku ! )


Ki Ageng menimpali juga.

“MANG Atmaningsun!”

(MANG Atma-Ku ! )


Sunan Kudus.

“ALLAH Asmaningsun!”

(ALLAH Nama-Ku ! )


Ki Ageng Pengging.

“HONG Asmaningwang!”

(HONG Nama-Ku ! )


Sunan Kudus.

“ALIP, LAM AWAL, LAM AKHIR, HU............ALLAH!”

Ki Ageng Pengging.

“ANG, UNG, MANG.............HONG!”


ANG,UNG,MANG, HONG (AM,UM,MAM,AUM)

Sunan Kudus diam. Lantas menantang secara halus.

“Yen tebu weruh legine, yen endhog weruh dadare!”

(Apabila Tebu nyata manisnya, apabila telur nyata isinya!”


(Ungkapan ini adalah ungkapan khas Jawa, yang maksudnya meminta bukti nyata dari semua yang telah diucapkan : Damar Shashangka).

Ki Ageng tersenyum dan berkata : “ Sumangga ing karsa..” ( Silakan..)

Ki Ageng Pengging lantas bersedekap dan meminta Sunan Kudus memperhatikan titik di antara kedua alis mata beliau. Lantas, Ki Ageng memejamkan mata.

Sunan Kudus awas, dia lekat memperhatikan titik di antara kedua alis mata Ki Ageng Pengging. Suasana mendadak berubah, ruangan dimana Sunan Kudus berada, terasa hampa, senyap dan seolah tanpa suara sama sekali. Beberapa detik kemudian, Sunan Kudus mendadak tersentak manakala dia melihat cahaya terang nan lembut memancar dari titik diantara kedua mata Ki Ageng Pengging.

Cahaya yang lembut itu menerobos kesadaran Sunan Kudus. Dan di sana, di tengah hempasan cahaya tersebut, Sunan Kudus melihat dirinya berada di sana. Sejenak kemudian berubah menjadi wujud Ki Ageng Pengging, lantas berubah lagi menjadi wujudnya.

Sunan Kudus menutup mata, namun penampakan itu menembus kelopak matanya yang terpejam. Sunan Kudus lantas berkata.

“Aku percaya nakmas Pengging...Sudah cukup!”

Ki Ageng Pengging tersenyum, dan cahaya lembut yang memancar dari titik di tengah kedua alis matanya tersebut, mendadak sirna tanpa bekas.

Sunan Kudus membuka matanya dan menatap Ki Ageng Pengging tajam, sembari berkata.

“Kabarnya, nakmas Pengging mampu MATI SAJERONING URIP. URIP SAJERONING PATI ?”

Ki Ageng Pengging menjawab.

“Kangjeng Sunan, saya tahu, Kangjeng Sultan Demak menganggap saya sebagai 'klilip' (Penghalang) beliau. Tidak usah berbasa-basi lagi. Saya siap mati sekarang. Saya bisa mengakhiri kehidupanku saat ini juga. Tapi, kalau saya melakukannya, sama saja dengan bunuh diri. Bunuh diri dalam keyakinan Shiwa maupun Islam, adalah hal yang tercela. Untuk itu, jadilah perantara kematianku!”

Sunan Kudus terdiam.

“Cabutlah keris Kangjeng,” lanjut Ki Ageng Pengging, “tusukkan siku kananku ini. Di saat ujung keris Kangjeng menancap di sikuku ini, saat itulah, aku akan melepaskan suksma dan Atmaku dari jasadku. Silakan!”

Sunan Kudus segera mencabut kerisnya. Sedangkan Ki Ageng Pengging sejenak bersedekap memejamkan mata. Disusul, beliau angkat siku kanannya ke depan. Sunan Kudus menusukkan kerisnya ke siku Ki Ageng Pengging. Dan disaat itulah, Ki Ageng Penggin melepaskan suksma dan Atmanya.

Tubuh Ki Ageng Pengging rebah ke kanan. Sunan Kudus memeriksa detak jantung Ki Ageng Pengging, dan Sunan Kudus yang sudah berpengalaman yakin, bahwa Ki Ageng Pengging telah wafat. Sejenak beliau membenahi jasad Ki Ageng, lantas Sunan Kudus keluar dari bilik Dalam Agung.

(Silakan membaca cerita ini langsung dari Babad Tanah Jawa untuk perbandingan : Damar Shashangka).

Sesampainya di luar, Sunan Kudus segera memerintahkan prajurit Demak berkemas. Sunan Kudus dan para prajurit Demak, tanpa banyak berkata-kata, segera meninggalkan Dalem Ki Ageng Pengging.

Di dalam bilik Dalem Agung, tepat pada saat itu, pelayan yang hendak menyediakan hidangan mohon masuk. Tapi tidak ada jawaban. Bergegas dia lari memanggil Nyi Ageng Pengging. Istri Ki Ageng Pengging berlari tergopoh-gopoh ke Dalem Agung, memancing perhatian beberapa prajurit Pengging. Karena tidak ada jawaban juga saat Nyi Ageng Pengging mohon masuk, maka segera saja beliau menerobos ke dalam. Dan terkejutlah Nyi Ageng Pengging melihat Ki Ageng Pengging telah terbujur kaku menjadi mayat.

Nyi Ageng Pengging jatuh pingsan. Beberapa prajurit Pengging tanpa dikomando segera berhamburan menaiki kuda masing-masing, menyusul rombongan Sunan Kudus.

Para Lurah Prajurit Pengging menyusul kemudian. Bendhe Beri (Gong kecil yang dibunyikan untuk mengumpulkan para prajurit : Damar Shashangka ), suaranya riuh rendah bercampur dengan pukulan kentongan bertalu-talu. Masyarakat Pengging yang sudah siap sedia sejak semalam, baik yang sudah ada di sekitar Dalem Ki Ageng Pengging maupun yang masih ada di rumah masing-masing, segera menaiki kuda masing-masing sembari membawa persenjataan perang lengkap.

Di pihak pasukan Demak, mendapati Bendhe Beri dan Kentongan berbunyi bertalu-talu, segera mempersiapkan diri. Walau belum tahu pasti apa yang terjadi, mereka telah siap sedia jika ptajurit Pengging menyerang.

Rombongan Sunan Kudus tersusul. Rombongan kecil Senopati Demak itu segera dikepung prajurit Pengging. Prajurit Pengging telah siap tempur. Senjata telah terhunus nyalang. Dada para prajurit Pengging bergemuruh mendidih.

Sunan Kudus memerintahkan seorang prajurit Demak mengibarkan bendera merah. Tanda bagi seluruh pasukan Demak yang ada disudut-sudut Pengging untuk siap tempur. Suasana tegang.

Bendera merah berkelebat-kelebat, disusul dari kejauhan, empat orang prajurit Demak mendadak muncul sembari memacu kuda dengan mengibarkan bendera serupa. Keempatnya meneruskan perintah Sunan Kudus yang tengah terkepung kepada para pasukan yang siap sedia di sudut-sudut Pengging.

Isyarat itu terlihat oleh para pemimpin pasukan Demak, baik yang ada di utara, timur, selatan dan barat. Serta merta, seluruh pasukan Demak keluar dari tempat persembunyiannya. Bergemuruh suaranya. Diiringi pekikan-pekikan nama Tuhan. Seperti kebiasaan mereka.

Para prajurit Pengging yang mengepung Sunan Kudus, hanya melihat sepasukan dari dua arah, namun mereka mendengar suara pekikan-pekikan pasukan lain yang tak terlihat berada diseberang wilayah mereka. Mereka menyadari, posisi mereka kini terkepung. Wilayah Pengging benar-benar terkepung.

“Heh kalian rakyat Pengging!! Kaliah hanya rakyat biasa! Ini urusan orang besar! Kembalilah pulang ke rumah masing-masing!!” Teriak Sunan Kudus!

Seorang Lurah Prajurit Pengging maju beberapa langkah dengan kudanya.

“Bagi kami lebih baik mati bersama junjungan kami!”

Sunan Kudus menjawab.

“Ingat posisi kalian! Kalian sudah terkepung! Dan ingat pula akan anak istri kalian! Jika pasukan Demak menyerang, seluruh wilayah ini akan dibakar! Kalian boleh berani menumpahkan darah kalian! Tapi apakah kalian juga akan tega melihat anak istri kalian ikut menjadi korban !?”

Nyali prajurit Pengging menciut begitu mendengar gertakan Sunan Kudus! Seketika mereka teringat akan anak istrinya yang kini juga tengah terkepung dan terancam. Seluruh pasukan Pengging menjadi gamang. Sunan Kudus melihat itu semua, lantas Sunan Kudus berkata lagi.

“Sarungkan senjata kalian! Urusan kami hanya dengan Ki Ageng Pengging! Uruslah jenazah junjungan kalian! Kangjeng Sultan Demak, akan memberikan pengampunan bagi kalian semua!”

Kepanikan melanda prajurit Pengging. Bayangan anak dan istri mereka membuat keberanian mereka menciut! Dan, Lurah Prajurit Pengging yang paling senior segera memerintahkan seluruh prajurit Pengging menyarungkan senjata. Disusul, Lurah Prajurit Pengging memerintahkan memberikan jalan kepada rombongan Sunan Kudus yang terkepung.

Sunan Kudus segera memerintahkan pasukan bergerak kedepan! Bendera putih kini dikibarkan. Disusul beberapa prajurit dari kejauhan kembali meneruskan pesan itu sembari membawa bendera putih juga. Dan pemimpin pasukan Demak yang telah bersiap-siap di posisi masing-masing, begitu melihat bendera merah berganti bendera putih, segera memerintahkan pasukan masing-masing untuk menyarungkan senjata.

Pekik nama Tuhan berkumandang berkali-kali. Pasukan Demak merasa telah memenangkan pertempuran atas berkat Tuhan.

Dipihak lain, prajurit Pengging masih menyimpan bara amarah! Seandainya mereka berhadap-hadapan di garis depan seperti saat peperangan Majapahit dan Demak dulu, pasti mereka tak segan-segan menumpahkan darah.

Terdengar teriakan Lurah Prajurit Pengging memerintahkan seluruh prajurit kembali ke Pengging.

Duka menyelimuti Pengging. Jenasah Ki Ageng Pengging segera disucikan. Upacara Sraddha tergelar. Para Pandhita Shiwa Buddha berdatangan. Pengging berkabung. Para sisa bangsawan Majapahit, mendengar kabar wafatnya Ki Ageng Pengging, segera menuju Pengging. Upacara pembakaran mayatpun dilaksanakan.

Sebulan setelah wafatnya Ki Ageng Pengging, Nyi Ageng Pengging yang jatuh sakit, menyusul. Beliau wafat. Kembali Pengging berduka. Mendung menyelimuti Pengging.

Mas Karebet, menjadi yatim piatu. Dan Nyi Ageng Tingkir, janda Ki Ageng Tingkir, membawa Mas Karebet kecil ke Tingkir. Mas Karebet diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir. Mas Karebet lantas dikenal dengan nama JAKA TINGKIR.

Kelak di kemudian hari, Mas Karebet atau Jaka Tingkir, berhasil mendirikan Kesultanan Pajang dan menjadi Raja Tanah Jawa. Dan beliau bergelar SULTAN ADIWIJAYA.

(9 Januari 2010, by Damar Shashangka)



Sumber : http://www.facebook.com/notes.php?id=100000208925277&style=1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silaturahmi

Mengenai Saya

Foto saya
Orang Jawa, Islam yang nJawani, yang senantiasa berusaha saling asah, asih dan asuh serta hidup berdampingan dengan siapa saja secara damai tanpa saling mengganggu