Rabu, 20 Oktober 2010

KESULTANAN MAJAPAHIT ?

Kesultanan Majapahit

HERMANUS SINUNG JANUTAMA

KESULTANAN MAJAPAHIT REALITAS SEJARAH YANG DISEMBUNYIKAN

Tim Penulisan Sejarah Islam Era Majapahit
Lembaga hikmah dan Kebijakan Publik
PDM Kota Yogyakarta
SEKAPUR SIRIH

Saya bersyukur kehadirat Allah SWT atas karunia kesempatan yang telah dilimpahkan. Dan juga berterimakasih kepada junjungan Gusti Kangjeng Nabi Agung Muhammad SAW yang senantiasa melimpahkan berkah dan syafaat beliau. Juga berterimaksih kepada seluruh sayyid ulama leluhur tanah Jawa dan Nuswantara. Baik yang tercatat dalam sejarah maupun yang tidak. Yang telah rela, tulus dan ikhlas meninggalkan jejak-jejak, petunjuk-petunjuk, maupun riwayat-riwayat sejarah Islam di Nuswantara. Berkat jejak-jejak tersebut kami para anak-cucu ini dapat melacak dan mengeksplorasi. Sekalipun untuk itu, kami harus bekerja ekstra keras. Dan kami juga harus mengikuti laku leluhur untuk bekerja dengan titi, nastiti, lan ngati-ati.

Terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh rekan-rekan penulis, peneliti, dan pendukung lainnya. Yang rela melibatkan diri dalam Tim Penulisan Sejarah Islam Majapahit. Terutama kepada Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Lebih khusus lagi kepada Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik atas inspirasi, bantuan, dan dorongannya. Saya akhirnya memberanikan diri menuliskan gagasan-gagasan dan temuan-temuan menarik sepanjang sejarah Islam di Nuswantara, khususnya sejarah Kesultanan Majapahit.

Kesultanan, sepanjang pengertiannya memang pantas dikenakan kepada Negeri Majapahit. Hal ini disebabkan oleh rajanya yang memang telah muslim sejak awalnya. Di samping itu, Majapahit juga dengan demikian adalah sebuah Darussalam. Mengapa Darussalam? Karena, dalam bahasa Kawi ia setara dengan istilah hadiningrat. Istilah ini sesungguhnya cukup akrab di telinga kita. Mengingat ia masih dipergunakan hingga saat ini terutama di Jawa Tengah. Misalnya Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat. Penulisan sejarah Majapahit Darussalam ini seharusnya didahului dengan penulisan dan penelitian yang seksama di seputar masa awal Islam di Nuswantara. Yakni dari masa Gusti Kangjeng Nabi SAW masih hidup, setidaknya hingga era akhir Singasari (1292). Mungkin tulisan ini akan disusun kemudian setelah buku ini dianggap cukup untuk diterbitkan.

Namun untuk memberikan penjelasan singkat mengenai hal ini, saya menyertakan sekelumit singkat tentang sejarah Islam di Nuswantara sebelum Majapahit. Meskipun hanya sekilas, namun diharapkan penjelasan serba singkat itu dapat memberikan latar belakang bagi Negeri Majapahit muslim Nuswantara.

Kerja keras Tim Penyusun ini sungguh menimbulkan keheranan dan kagum dari pribadi saya. Kemauan dan tekad yang sangat gigih mendorong bapak-bapak ini untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi. Ekspedisi yang langsung ke situs-situs peninggalan Majapahit. Misalnya kunjungan ke Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur. Ini adalah kunjungan swadana yang apa adanya. Hingga pengantar ini selesai ditulis, komunitas Lembaga Hikmah telah berkunjung ke Trowulan sebanyak 8 kali, sejak Desember 2008. Bahkan sedang merencanakan ekspedisi ke Museum Nasional “Fatahillah�, Museum Uang, Museum Maritim, dan berkunjung ke Perpustakaan Nasional, serta Pusat Dokumentasi di Jakarta.

Di samping itu bapak-bapak Lembaga Hikmah juga melakukan kunjungan kepada para akademisi dan pakar yang terkait. Antara lain berkunjung dan wawancara dengan Prof. Dr. Tulus Warsito (UMY), Prof. Dr. Damardjati Supadjar (F. Filsafat, UGM), Prof. Dr. Timbul Haryono (FIB, UGM), Prof. Dr. Ribut (FIB, UGM), Prof. Dr. Popi Romli, Dr. Andi (FIB, UGM), dll. Semuanya adalah narasumber penting dalam penulisan ini.

Namun, melampaui semua itu adalah, tekad, niatan suci, dan keikhlasan dari seluruh rekan-rekan. Dengan begitu –termasuk penulis- berharap agar buku ini dapat menjadi amal saleh dan persembahan suci/dharmasiksa ke hadirat Allah SWT. Sehingga dengan upaya penulis yang tak seberapa ini dapat memperoleh ampunan serta rahmat dari Allah SWT. Allahumma taqobbal minnaa, yaa arhamarraahimiin.

PRAWACANA

JALUR SUTRA LAUT YANG MENGAGUMKAN

Menyebut Nuswantara berarti mengacu kepada area kepulauan pra kolonial yang menjadi cikal bakal Indonesia. Efek bola bumi mengijinkan Nuswantara ditinjau sebagai sentrum globe dunia. Menurut laporan Bilveer Singh , konferensi tahunan di Hawaii mengenai Indonesia menyangkut masalah posisinya yang sangat strategis. Nuswantara/Indonesia secara geografis terletak pada jalur perdagangan Internasional. Sekalipun saat ini kargo telah mengalami perkembangan teknologi secara mengagumkan, namun untuk kargo dalam jumlah raksasa hanya dapat dilakukan melalui lautan. Dan jalur transkontinental via lautan dari Amerika ke Eropa-Afrika hanya bisa dilakukan melalui kepulauan Nuswantara.

Lintasan transkontinental ini tak mungkin dilakukan melalui selatan Australia atau utara Kanada. Daerah tertutup oleh lautan es. Satu-satunya lintasan hanya melalui Nuswantara. Hal ini telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu, yakni disebut sebagai Jalur Sutra Laut (dari Eropa, Timur Tengah, ke Cina). Sedangkan lintasan darat disebut sebagai Jalur Sutra Darat.


Gb. 1. Nuswantara sentrum dunia


Gb. 2. Jalur Sutra Darat

Ke dua jalur perdagangan purba ini menepis anggapan bahwa masa lalu manusia merupakan peradaban yang statis dan tribalis. Ia adalah peradaban dunia yang mobil dan dinamis. Jalur Sutra Darat menghubungkan Muslim Timur Tengah dengan Muslim China melalui Arab, Persia, Afganistan, melalui Pegunungan Tianshan, terus ke Qinghai, Gansu, Cang An/Xian.

Sedangkan Jalur Sutra Laut menghubungkan Muslim Timur Tengah, Muslim Nuswantara, dan Muslim China. Yakni melalui Teluk Parsi atau Laut Arab, melalui Teluk Bengala, lalu masuk ke Selat Malaka (Gerbang Barat Nuswantara). Dari gerbang barat Nuswantara ini terdapat dua jalur laut. Pertama, melalui Laut China Selatan, Brunai, Ma’man Allah / Manila, tiba di Guangzhou/ Hong Chu, Quanzhou, Hangzhou, Yangzhou, dll, termasuk kota pelabuhan Kanton.
Kedua, karena Laut China Selatan termasuk lautan bergelombang besar, pelayaran dunia cenderung ke selatan melalui Palembang, Banten, Cirebon, Tuban (Majapahit), Warugasik/Gresik (Majapahit), Watugaluh/Surabaya (Majapahit), Banjarmasin, melalui Selat Makassar atau Perairan Maluku (Gerbang Timur Nuswantara), terus ke Ma’man Allah/Manila hingga ke Kanton.

SEGITIGA EMAS NUSWANTARA KARUNIA TUHAN YME

Inilah karunia Tuhan YME kepada muslim di Nuswantara/Indonesia. Yakni berwujud nuswa (sansekerta) atau nesos (yunani) yang artinya negeri kepulauan, negeri patirtan/perairan. Negeri-negeri muslim di seluruh Nuswantara berada di �segitiga emas�. Yakni dari Gerbang Barat (Selat Malaka), ke ujung Selatan di (pojok, ujung) Zawiyah/Jawa, hingga Gerbang Timur (Perairan Sulawesi-Maluku).

Dengan adanya Jalur Sutra Laut, maka seluruh perdagangan dan kargo yang melintasi lautan harus memasuki perairan Nuswantara. Konsekuensinya, setiap kapal dari seluruh dunia harus berlabuh di Nuswantara. Dan mereka harus membayar beaya labuhnya itu (semacam charge). Karenanya muslim Nuswantara merupakan muslim terkaya dan paling makmur di seluruh Islamistand/negeri-negeri muslim. Baik yang berada di Timur Tengah maupun yang berada di China. Masuk akal bila banyak pedagang asal Timur Tengah maupun asal China memutuskan untuk mukim di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Dan negeri-negeri manapun di Nuswantara adalah negeri yang mensejahterakan rakyat dan kawulanya. Mereka bebas mukim di Nuswantara di bawah raja-raja muslim ahli sufi dan tasawuf, atau imperial cult. Mereka membangun negeri-negeri yang saling bersaudara baik dalam hal agama Islam, maupun dalam arti genetik sesama keturunan Nabi Muhammad SAW.

Seluruh pemimpin dan kawula di bumi Nuswantara hanya tinggal beribadah dan berbakti kepada Tuhan YME. Dinamika perdagangan Jalur Sutra Laut telah menjadikan Nuswantara negeri yang tata titi tentrem kertaraharja. Subhanallah.

KILASAN SEJARAH ISLAM NUSWANTARA
SEBELUM KESULTANAN MAJAPAHIT

Tahun 675M, abad 7M, atau sejak 650, telah terbentuk sebuah segitiga silaturrahmi di Nuswantara, yakni antara daulat Ta Jik (Ta Ce di Swarnabhumi/Sumatera Utara), Ho Ling (Kalingga di pesisir utara Jawadwipa) - Kanton (Kwang Tung di China Selatan). Pada era Ratu Sima bertahta di daulat Kalingga (Jepara sekarang), telah terjadi relasi silaturrahmi antara daulat-daulat muslim di Nuswantara dengan daulat muslim di China. Jaringan ini meliputi berbagai aspek kehidupan dari mulai perdagangan, pemerintahan, hingga pendidikan agama Islam . Inilah salah satu jaringan (network) yang terjalin semenjak Imam Agung Ali bin Abi Thalib berkelana selama sekitar 23 tahun (632-655) keluar dan di luar pusat kepemimpinan Islam dunia, kota suci Madinah, dan Timur Tengah pada umumnya.

Saat itu Timur Tengah, khususnya di kota suci Madinah, kota suci Kuffah, dan markas pembangkang Muawiyah bin Abu Sufyan di Damaskus, tengah terjadi konflik politik berkepanjangan. Konflik itu telah mengakibatkan beberapa hal penting dalam sejarah muslim dunia. Pertama, berpindahnya pusat kepemimpinan Islam dunia (gingsir kedhaton) dari kota suci Madinah Munawwarah ke kota suci Kuffah di Persia (656M). Gingsir kedhaton ini dilakukan atas titah Baginda Ngali atau Imam Agung Ali bin Abi Thalib yang jumeneng natapandhita (bertahta sebagai Imam, sebagai sayyidin Panatagama Khalifatullah) selama 6 tahun dari 655-661M. Kelak gingsiring kadhaton Islam ini menjadi “sunnah� atau tradisi yang lazim dilakukan oleh daulat-daulat muslim di Nuswantara. Peristiwa ini terkait dengan peletakkan pondasi kosmologis purba bagi sebaran Islam -yang rahmatan lil ‘alamin- ke seluruh dunia . Lisan Jawa kuno menyebut prinsip ini sebagai “kiblat papat, kalima pancer� untuk makrokosmos. Untuk mikrokosmos, “sedulur papat, kalima pancer�. Pancer artinya sentrum/pusat, yaitu “khalifatullah� yang memancarkan rahmat Allah ke seluruh penjuru bumi.

Kedua, wafatnya Imam Agung Ali bin Abi Thalib tahun 661 di pusat kepemimpinan Islam, kota suci Kuffah di Persia. Era kepemimpinan Baginda Ali diwarnai dengan pembangkangan beberapa elit Arab terhadap kedhaton Kuffah. Beberapa peperangan internal terjadi. Misalnya perang Jamal, adalah pembangkangan Siti Aisyah bersama Tolhah dan Zubair. Siti Aisyah adalah putri Khalifah Abu Bakar, Khalifah Islam pertama (632-634). Beliau juga termasuk salah seorang janda GK Nabi Muhammad SAW. Peperangan kecil ini berakhir dengan menyerahnya Ibu Aisyah, sehingga terjadi perdamaian. Meskipun demikian dalam peperangan ini putra angkat Ibu Aisyah, Tolhah dan Zubair, wafat.

Perang Shiffin, adalah peperangan Imam Agung Ali bin Abi Thalib dengan kaum pembangkang. Mereka dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Muawiyah adalah termasuk salah seorang sahabat GK Nabi Muhammad SAW. Namun karir kepemimpinannya didasari oleh delik-delik politik semata. Bahkan tega melakukan penipuan politik terhadap Imam Agung Baginda Ngali dan sahabat-sahabat GK Nabi SAW lainnya. Kota Damaskus, markas besarnya, menjadi tempat berkumpul para petualang politik. Mereka berambisi untuk menguasai semua asset kepemimpinan Islam –sejak jaman GK Nabi SAW- yang luar biasa kaya. Damaskus juga merupakan kota besar dengan pelabuhan Libanon yang sangat ramai. Pelabuhan ini menghadap ke selat Gibraltar. Sebuah selat yanbg ramai dengan perdagangan sejak jaman kuno.

Sementara di kota suci Kuffah berkumpul para sahabat yang ahli ibadah, para sufi, dan para pekerja ilmu. Mereka tetap bekerja dengan ikhlas meskipun dalam kondisi terjepit. Mereka harus bekerja cepat (hanya dalam tempo 6 tahun) dan sistematis, karena serbuan dan penipuan politik yang dilakukan muslim Damaskus (Damsyik). Salah satu amanat ilmiyah Daulat Kuffah adalah menata sistem-sistem harakat dalam metode pembacaan Al Quran. Sulit membayangkan Alquran seperti yang dibaca muslim hari ini, tanpa penataan dan kerja keras Imam Agung Baginda Ngali dan para pekerja ilmu di Kuffah saat itu .

Mungkin sudah menjadi takdir Allah, kerja-kerja suci dan ilmiyah selalu memperoleh tentangan keras dari para petualang politik muslim. Mereka hanya berpikir seputar kekuasaan dan kelimpahan harta benda. Mereka tak pernah mau memahami betapa penting dan krusialnya penataan ilmiyah yang dilakukan Imam Agung Baginda Ngali bagi masa depan Islam, bahkan bagi masa depan kehidupan dunia secara keseluruhan. Mereka silau dengan gemerlapnya kekuasaan dunia muslim yang terhampar mahaluas ke seantero dunia saat itu .

Berturut-turut setelah wafatnya Imam Agung Baginda Ngali tahun 661, adalah wafatnya penerus kepemimpinan Islam dunia. Adalah Imam Hasan putra sulung Baginda Ngali di kota suci Kuffah. Setelah itu adalah wafatnya Imam Husein putra kedua Baginda Ngali di padang suci Karbala, dekat kota suci Kuffah (682M). Ketiga Imam Agung ini terbunuh oleh muslim petualang politik dan pecandu kekuasaan dari Damaskus. Bahkan pembunuhan ini telah terjadi sejak dua khalifah Islam sebelumnya. Mereka adalah Khalifah ke-2 Sayyidina Umar bin Khaththab dan Khalifah ke-3 Sayyidina Utsman bin Affan.

Menarik dicermati, orang-orang Yahudi dahulu membunuh nabi-nabi pemimpin agung mereka sendiri. Dan hal yang sama dilakukan muslim Arab saat itu, yaitu membunuh para Khalifah dan Imam (natapandhita dalam lisan Nuswantara), pemimpin agung mereka sendiri. Berikutnya, semenjak tahun 661 M, kepemimpinan Islam dunia berbalik sifat dan karakternya. Para Khalifah dan Imam Agung sebelum itu menjadi pemimpin bagi pencerahan moral dan pengetahuan manusia, pembawa rahmat Allah ke seluruh dunia. Sedangkan kepemimpinan kuasa Arab baik Umayyah (661-1492) maupun Abbasiyyah (750-996) adalah kepemimpinan kekaisaran dunia. Capaian-capaian kuasa mereka semata bersifat politik dan penguasaan harta benda. Karakter kuasa politik dan harta benda semata ini, mengakhiri ajaran suci Islam untuk membawa rahmat suci bagi semesta alam raya. Kepemimpinan rahmatan Islam (kasih sayang), menjadi kekuasaan pedang dan kekejaman.

Demikianlah karakter kuasa Arab yang berkembang setelah itu di sebagian dunia. Di Nuswantara berkembang kepemimpinan Islam dengan karakter yang sangat berbeda. Islam di Nuswantara sejak awal merupakan Islam yang indah dan santun. Islam yang mengutamakan kezuhudan seperti para pendeta, namun gagah berani seperti ksatria. Kesatuan sifat jamaliyah Allah dan sifat jalaliyah Allah menyempurna menjadi sifat kamaliyah Allah. Hal ini mengingatkan kita kepada sabda GK Nabi Muhammad SAW. “Siang seperti singa, malam seperti pendeta….�. Karakter Islam demikian ini dikatakan dengan lugas oleh Panembahan Senapati ing Alaga Mataram (1586-1601) : hamemangun karyenak tyasing sesama. Islam santun yang rahmatan lil ‘alamin. Islam yang menjadi rumah tempat berteduh bagi semua hati manusia dan kemanusiaan .

Ketiga, berakhirnya tradisi ilmiyah di Kuffah. Selama enam tahun di kota suci Kuffah, Imam Agung Baginda Ngali membangun semacam “serikat sahabat pekerja ilmu�. Serikat ini dibentuk demi membangun sistem ilmu pengetahuan dunia. Amanat ilmiyah pekerja ilmu ini menata system tanda harakat bagi aksara Al Quran sebagaimana telah dijelaskan di atas. Di samping itu yang cukup fenomenal, adalah rekonstruksi atas system dan notasi angka-angka dan huruf dari seluruh peradaban ilmiyah dunia saat itu. Kerja ilmiyah ini, membuka peluang bagi terbentuknya suatu system notasi dan angka yang dapat dipahami seluruh peradaban dunia. Tanpa upaya ilmiyah di kota suci Kuffah ini, sulit bagi kita membayangkan sebuah dunia dengan sistem angka dan aksara yang tunggal seperti sekarang.

Keempat, penistaan terhadap keluarga dan keturunan Gusti Kangjeng Nabi Muhammad SAW, khususnya terhadap keluarga Sayyidina Baginda Ngali. Delik politik memalukan dan tidak senonoh ini dilakukan oleh kedua rejim Kaisar Arab baik Dinasti Umayyah maupun Abassiyah. Kaisar Umayyah berkuasa di Damaskus selama 89 tahun (661-750), kemudian di Andalusia, Eropa, selama 742 tahun (750-1492). Kaisar Dinasti Abassiyah berkuasa di Baghdad selama 250 tahun (750-1000). Mereka adalah penguasa baru dunia Islam Arab. Hal ini berlangsung hampir selama 1000 tahun di dunia Islam Timur Tengah. Mereka menghina dan mencela Imam Agung Baginda Ngali, istri beliau Sayyidah Fathimah Zahra dan putra-putra beliau seperti Imam Hasan dan Husein. Bahkan wajib menghina Imam Agung Baginda Ngali dan keluarganya serta keturunannya di mimbar-mimbar suci seperti khutbah jum’at, khutbah Idul Fithri, khutbah Idul Adha, dan khutbah-khutbah lainnya.

Tentu saja situasi seperti ini membentuk budaya agama dan religiusitas yang tidak sehat. Secara psikologis, hal ini menjadi penyebab terjadinya was-was, histeria kolektif, dan truthphobia (takut kepada kebenaran). Mereka menjadi muslim yang keras, arogan, materialistik, dan menyukai kekejaman. Karakter yang demikian itu masih dapat kita saksikan dalam perilaku muslim di Timur Tengah hingga saat ini.

Keempat, terjadinya eksodus durriyah Nabi dan tradisi ilmiyah Kuffah ke China (lewat Jalur Sutra Darat) dan ke perairan Nuswantara (lewat Jalur Sutra Laut). Situasi sosial budaya yang tidak sehat di Timur Tengah seperti dijelaskan di atas, mengakibatkan para durriyah dan pendukungnya harus meninggalkan Timur Tengah.

Muslim Nuswantara: Hamemayu Hayuning Rat

Durriyah artinya keturunan GK Nabi Muhammad SAW. Terutama perkawinan keluarga Sayyid Baginda Ngali dan Sayyidah Fatimah Az Zahra. Baginda Ngali adalah sepupu GK Nabi SAW. Beliau putra pamanda Abu Thalib pamanda dan pembela GK Nabi SAW. Sementara Sayyidah Fatimah Az Zahra adalah putri bungsu GK Nabi Muhammad SAW. Di Nuswantara, khususnya Jawa, beliau juga disebut sebagai Gusti Ayu Partimah, Ibu Pertimah, Dewi Sri Pertimah, atau Dewi Sri. Budaya nasab resmi dan formalistik orang Arab sesungguhnya bersifat paternalistik. Ia tidak mengijinkan penyebutan nasab dari jalur seorang perempuan.

Di Nuswantara, hal ini diijinkan. Nasab tidak ditinjau semata-mata formalisme dan resmi saja. Budaya muslim Nuswantara menghormati perempuan lebih dari budaya dunia manapun. Misalnya dapat disaksikan pelestarian hal ini dalam budaya maternalistik di Minangkabau. Bahkan kepemimpinan perempuan di Nuswantara juga diijinkan. Misalnya kepemimpinan Sri Ratu Sima (Kalingga, 670), Sri Ratu Pramodhawardhani (Syailendra, 833), Sri Ratu Isyanatunggawijaya putri Mpu Sendok (Watugaluh, 947), Sri Putri Nurul A’la (Perlak, 1110), Sri Ratu Galuh Candrakirana (Kediri, 1117), Sri Ratu Ken Dedes (Singasari, 1222), Sri Ratu Gayatri Rajapadni (Majapahit, 1328), Sri Ratu Tribuana Tunggadewi (Dyah Wyat Kahuripan, 1328), Sri Ratu Rajadewi (Breng Daha, 1328), Sri Ratu Pramowardhani (Majapahit, 1389), dan Sri Ratu Suhita (Majapahit, 1429). Panglima-panglima dalam peperangan melawan Kumpeni di Nuswantara, juga lazim dilakukan oleh perempuan. Misalnya Cut Nyak Dien (Aceh), Cut Mutia (Aceh), Martha Tyahahu (Maluku), Nyahi Ageng Serang (Yogyakarta, 1829), Panglima Gusti Ayu Jayaningrat (Madiun, 1829), dan Panglima Gusti Ayu Sri Sumirah (Yogyakarta, 1829). Dunia pergerakan pendidikan Indonesia modern juga dipenuhi oleh kepemimpinan perempuan seperti RA Kartini (Jepara, 1921), dan Ibu Dewi Sartika (Bandung, 1925).

Itulah sebabnya, budaya sosial-politik muslim di Nuswantara –sejak awal- sangat berbeda dengan negeri-negeri Timur Tengah. Keluarga GK Nabi Muhammad SAW sangat dihormati, bahkan menjadi semangat dan inspirasi tradisi dan budaya Nuswantara. Hal ini dilakukan sebagai konsekuensi dari penghormatan terhadap GK Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Namun penghormatan ini tidak menjulang hingga mengkultuskan mereka. Apalagi sampai menghujat dan melaknat para khulafaur rasidin.

Di Timur Tengah respon terhadap penistaan menciptakan masyarakat pemuja Imam Agung Baginda Ngali dan keluarganya. Mereka juga juga balas menghujat tiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) dan sahabat-sahabat Nabi SAW. Di Nuswantara tidak demikian halnya. Penghormatan terhadap Imam Agung Baginda Ngali dan keluarga beliau tidak disertai penghujatan terhadap tiga khalifah dan para sahabat nabi. Bahkan mereka tetap dihormati dan dimuliakan sebagai suri teladan. Sifat dan karakter muslim Nuswantara karenanya menjadi santun, aristokrat, dan unik. Perhatikan wejangan (dalam pupuh dhandhanggula) Sunan Kalijaga di bawah ini. Beliau adalah seorang ulama besar dan Qadli (hakim syariat agama) di Majapahit, Demak, dan Nuswantara umumnya pada abad ke 16M.

Panggupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang sagara alas
Temahan rahayu kabeh
Sarwa sarira ayu
Ingideran ing widadari
Rinekseng malaekat
Sakhatahing rusul
Pan dadya sarira tunggal
Ati Adam, utekku Baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Artinya, bahkan hingga semua bangsa binatang. Ataupun batuan, arca, dan hutan belantara. Semuanya mendapatkan berkah dan salam. Mendapatkan hati yang indah dan suci. Yang dikelilingi para bidadari. Disaksikan para malaikat, serta sebanyak-banyak utusan Allah. Semuanya akan menyatu dalam hati sanubari. Nuraniku seperti Nabi Adam As. Pikiranku seperti Nabi Syits As. Kalamku seperti Nabi Musa As .

Napasku Nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakub pamiyarsaningwang
Yusup ing rupaku reke
Nabi Dawud swaraku
Njeng Suleman kasekten mami
Ibrahim kang anyawa
Idris ing rambutku
Sayyid Ngali kulitingwang
Abu Bakar getih daging Ngumar singgih
Balung Baginda Ngusman

Artinya, jiwaku suci seperti nabi Isa As. Penglihatanku seperti nabi Yakub As. Wajahku rupawan bagaikan Yusuf As. Suaraku indah bagaikan Dawud As. Gagah berani seperti nabi Sulaiman As. Semangat dan jiwaku dari nabi Ibrahim As. Kerapian tatanan hatiku seperti nabi Idris As. Semuanya terbungkus dalam akhlaqku yang seperti Imam Agung Ali bin Abithalib ra. Sifat Sayyidina Abu Bakar mengalir dalam darahku. Ketampanan Sayyidina Umar dalam dagingku. Dan ditopang kokohnya Sayyidina Utsman bin Affan ra.

Sungsumku Patimah kang linuwih
Aminah kang bebayuning angga
Ngayub minangka ususe
Sakehe wulu tuwuh
Ing sarira tunggalan Nabi
Cahyaku ya Muhammad
Panduluku rasul
Pinayungan adam syara’
Sampun jangkep sakathahing nabi wali
Dadya sarira tunggal

Artinya, Sayyidah Fathimah Az Zahra bagaikan sumsum hidupku. Sayyidah Siti Aminah adalah penyejuk hati. Tata cara makan sebagai Nabi Ayyub As. Sebanyak apapun bagaikan bulu yang tumbuh di kulit. Menyatu dalam hati sebagai cahaya Nabi Muhammad SAW yang menerangi hidupku. Penglihatanku semoga seperti penglihatan para rasul. Yang dinaungi oleh syariat manusiawi. Telah genap seluruh nabi dan wali. Semoga menyatu dan membentuk sifat mulia dalam diriku .

Demikianlah, di Nuswantara, seorang muslim tak perlu memaki para khulafaur rasyidin, apalagi memaki keluarga Nabi Muhammad SAW. Ora elok, kata orang Jawa. Hal itu pantang dilakukan, karena tidak sesuai dengan keindahan budi pekerti, atau akhlak karimah. Karenanya, muslim Nuswantara –sejak awalnya- telah melampaui semua perdebatan, permusuhan, dan persengketaan antara mazhab Sunni-Syiah, maupun aliran-aliran lainnya di Timur Tengah. Islam di Nuswantara sejak awalnya bukan jenis muslim epigon. Meniru dan berpura-pura seperti Timur Tengah, Barat atau China. Ia adalah genre muslim yang unik. Subhanallah wa bihamdih. Secara ekstrapolatif, religiusitas Islam di Nuswantara pantas menjadi agama dunia di masa depan. Agama yang membawa dunia kepada perdamaian dan keluhuran kemanusiaan. Hamemayu hayuning rat, begitu dituliskan dalam bahasa sansekerta dan Kawi/Jawa Kuno.

Tradisi Kuffah di Nuswantara, Mongol, dan China

Bencana politik di pusat kepemimpinan dunia Islam di Timur Tengah, mengakibatkan terjadinya eksodus para durriyah Nabi berikut tradisi ilmiyah Kuffah. Melalui Jalur Sutra Laut, para durriyah dan tradisi ilmiyah Kuffah ini melarikan diri ke perairan Nuswantara, lalu ke Kanton (China Selatan). Sedangkan lewat Jalur Sutra Darat mereka melarikan diri ke Xin Jiang (China Barat Laut).

Arus eksodus para durriyah dan tradisi ilmiyah Kuffah ke Xin Jiang (China Barat Daya, efek Jalur Sutra Darat) dan sekitarnya ini menjadi cikal bakal bagi Islam di Mongol. Sedangkan arus eksodus duriyah dan tradisi ilmiyah Kuffah ke Nuswantara lalu ke Kanton (China Selatan, efek Jalur Sutra Laut) menjadi cikal bakal Islam di perairan Nuswantara dan China. Perairan Nuswantara ketika itu meliputi Swarnabhumi utara (Pali), Swarnabhumi Selatan (Sriwijaya Malayu), Jawadwipa Kulwan (Sunda), Jawadwipa tengah dan timur (Holing/ Kalingga), dan Bakulapura atau kawasan Indonesia Tengah dan Timur sekarang.

Masuknya para durriyah dari Timur Tengah ke Nuswantara ini sering disamakan atau disebut dengan “para pelarian dari India� atau pelarian orang “keeling/kaling�. Demikian juga dengan para petualang dagang dari Arab sebelum GK Nabi Muhammad SAW lahir. Bangsa Arab termasuk dalam kategori orang Semit, bersama dengan bangsa Yahudi. Sedangkan bangsa India sekarang, termasuk dalam kategori orang Arya, bersama dengan bangsa Jerman, Iran, Afganistan, dll. Namun secara fisiologi umumnya mereka memiliki ciri-ciri yang hampir sama, sebagaimana umumnya orang-orang Timur Tengah. Sejarawan Gerini mencatat bahwa sekitar tahun 606 telah banyak pengikut GK Nabi Muhammad SAW yang mukim di Nuswantara. Mereka masuk melalui Barus dan Aceh di Swarnabumi utara. Dari sana menyebar ke seluruh Nuswantara hingga ke China selatan. Sekitar tahun 615 sahabat GK Nabi Muhammad SAW, Ibnu Mas’ud bersama kabilah Thoiyk, datang dan bermukim di Aceh. Mereka mendirikan kabilah Thoiyk. Catatan China menyebutnya Ta Chi atau Ta Jik. Catatan Nuswantara menyebut mereka sebagai Ta Ce atau Taceh (sekarang Aceh). Sekitar tahun 670 kepemimpinan durriyah di Jawadwipa berdiri dengan munculnya Sri Ratu Sima dari Kalinggawangsa (Jepara, Jawa Tengah). Mereka bisa jadi adalah para durriyah pelarian Timur Tengah yang mukim di Jawadwipa. Mereka juga disebut dari “keling�. Tahun 800, datang rombongan pelarian Timur Tengah ke Taceh. Mereka berjumlah sekitar 100 orang yang dipimpin oleh Nakhoda Khalifah. Semua muslim di Swarnabumi utara ini kemudian membentuk kerajaan Perlak. Yakni dari nama kayu peureula (sejenis kayu jati) yang sangat baik untuk bahan pembuatan kapal waktu itu. Dan mereka menamakan pelabuhan internasional di Perlak waktu itu sebagai Bandar Khalifah. Jadi jika di Timur Tengah berdiri kepemimpinan rejim Arab berupa Dinasti Umayyah dan Abassiyah, maka “Nakhoda Khalifah� atau kepemimpinan khalifatullah fil ard, sayyidin panatagama, berdiri kokoh di Nuswantara.

Percampuran para durriyah dengan orang-orang Nuswantara melestarikan genetika GK Nabi Muhammad SAW dan keluarga suci beliau. Hampir semua orang Nuswantara sekarang ini keturunan GK Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian mereka juga keturunan keluarga Imam Agung Baginda Ngali dan Sayyidah Fathimah Az Zahra. Di samping itu, dari uraian di atas tradisi Islam di Nuswantara merupakan kelanjutan dari tradisi para sahabat, ahli ibadah, para sufi, dan juga budaya ilmiyah dari kota suci Kuffah. Hanya saja bahasa yang digunakan adalah bahasa dan tradisi sansekerta, kemudian Melayu kuno, dan Jawa kuno.

Tradisi ilmiyah Kuffah di Timur Tengah melanjutkan diri dengan menerjemahkan buku-buku dari hampir seluruh budaya dunia ke dalam bahasa Arab. Misalnya menerjemahkan buku-buku karya Plato dari Yunani. Orang-orang Eropa kelak kemudian, memahami bahasa Yunani dari buku-buku terjemahan bahasa Arab ini. Jadi mereka tidak langsung mengenal bahasa Yunani seperti citra yang terjadi sekarang. Di Nuswantara, tradisi Kuffah ini melanjutkan diri juga dengan menerjemahkan buku-buku dari berbagai budaya dunia ke dalam bahasa Jawa Kuno atau Melayu Kuno. Misalnya penerjemahan Kakawin Ramayana karya Walmiki dari bahasa sansekerta ke bahasa Jawa kuno oleh seorang ulama Mdang Poh Pitu bernama Mpu Yogiswara (Sanjayawangsa, 900).

Fenomena unik yang khas Islam Nuswantara (kelanjutan dari tradisi ilmiyah di Kuffah) berikutnya adalah berdirinya universitas-universitas agama Islam. Khalifah dan para ulama durriyah di Swarnabhumi utara (Perlak) mendirikan universitas Islam Dyah Bukit de Cerek (840) dan Dyah Cotkala (850). Mereka didirikan untuk mengembangkan ajaran dan tradisi ilmiyah Islam di Nuswantara. Fenomena unik ini terjadi bahkan sebelum muncul tradisi sekolah di Andalusia dan Baghdad. Di Jawadwipa pengajaran dilakukan para ulama dengan membangun monumen-monumen berupa candi yang merupakan teks simbolik ajaran Islam sebagai pembawa rahmat ke seluruh alam raya. Hal ini kemudian juga diajarkan kepada durriyah di Champa sekitar abad 10. Sri Sultan Jayawarman (990) dari Champa ketika muda sempat belajar membuat candi ke kesultanan Sriwijaya, di Malayu, Swarnabumi Selatan. Tahun 730, seluruh Swarnabhumi/Sumatera telah menjadi daulat-daulat Islam. Sri Sultan Jayawarman juga belajar Islam dan teknologi candi di Jawadwipa selama kurang lebih 2 tahun. Di samping itu di Jawa (Timur) di sekitar Warugasik-Watugaluh kelak kemudian berdiri Madrasah Giri .

Struktur budaya sansekerta adalah budaya simbol, maka menjadi penting bagi para ulama durriyah saat itu untuk mempelajari dan menggunakan pranata simbol demi mensosialisasikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Hal ini harus dilakukan demi menetapi dhawuh atau titah GK Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan risalah Islam secara “bi lisani qoumihi�. Menyesuaikan dengan dinamika tradisi dan budaya sesuai konteks peradabannya.

Karenanya sungguh mengherankan jika di kalangan dunia Islam saat sekarang ini, ada upaya-upaya untuk memaksakan Arabisasi sebagai satu-satunya pola pengajaran Islam. Hal ini sudah tentu bertentangan dengan dhawuh GK Nabi Muhammad SAW di atas. Konteks social budaya Islam demikian itu diperburuk dengan upaya-upaya pelarangan penggunaan symbol-simbol, dengan alasan rasionalitas konvensional. Tentu saja hal ini membuat muslim modern di Nuswantara terputus dengan konteks sejarahnya. Mereka tak lagi mampu membaca budayanya sendiri. Mereka menjadi “tuna budaya� dan terjauhkan dari sejarahnya. Sungguh besar efek dari kondisi social budaya Islam modern hari ini. Mereka menjadi masyarakat yang gagal. Gagal menjadi diri mereka sendiri, gagal memahami diri sendiri, gagal melakukan introspeksi, dan gagal merencanakan masa depan.

Kegagalan di atas menyudutkan muslim modern kepada pragmatisme akut. Mereka menjadi pemuja keberhasilan material, harta benda, dan kuasa politik. Semua itu menjadi satu-satunya orientasi hidup dan seluruh gerak kehidupannya. Inilah semangat dan inspirasi hidup muslim modern saat ini yang “sama dan identik� dengan orientasi hidup kaum materialis, sekuler, dan tanpa iman. Dalam kebutaan cultural seperti itu maka ruh “amal perjuangan� berubah menjadi radikalisme, terorisme, dan anarkisme. Semua kehilangan aspek kesuciannya karena semata berlandaskan rasa iri, dengki, dan dendam kesumat, lantaran kalah dalam perebutan gemerlapnya dunia.

Mongol

Di sisi lain, arus eksodus durriyah Nabi SAW dan tradisi ilmiyah dari kota suci Kuffah yang melalui Jalur Sutra Darat, menjadi cikal bakal Islam di Mongol, membentuk tradisi Kerajaan Islam Mongol. Semenjak Jengis Khan, Mongol sudah menjadi imperium Islam di Asia Tengah. Imperium ini memuncak pada abad 10 dan 11. Yakni ketika Hulagu, Pangeran Muslim Mongol, membumihanguskan Baghdad (996). Beliau saat itu menggunakan slogan-slogan sebagai “Pembawa Bencana dari Allah untuk Menghukum Para Pendosa (Baghdad)�. Karena dinasti Kaisar Abassiyah Baghdad, selama 3 abad telah menjadi penguasa (Islam) yang tiran, kejam, dan penista durriyah Nabi SAW.

Kesamaan latar sejarah ini juga menjelaskan kepentingan kunjungan utusan Imperium Mongol ke Singasari. Yaitu ketika jaman Sri Sultan Kertanegara (1268-1292) bertahta di Singasari. Kunjungan I Khubilai Khan, Kaisar Mongol, mengutus Meng Chei. Kunjungan II, setahun kemudian, mereka mengutus Shieh Pie, dkk. Namun fenomena histories ini masih memerlukan penelitian lebih jauh. Kelak kemudian tahun 1408 Laksamana Muhammad Ceng Ho meminta maaf atas kesalahpahaman mendiang Kubilai Khan Sultan Mongol, kepada Sri Ratu Suhita di Daha, Majapahit.

Nuswantara-China

Arus eksodus durriyah dan tradisi ilmiyah Kuffah dari Timur Tengah ini menjadi latar belakang histories terjadinya “segitiga silaturrahmi� Tajik/Taceh-Kalingga-China/ Champa. Dan relasi silaturrahmi ini akan terus terjalin secara harmonis di Nuswantara berabad-abad kemudian. Bahkan jaringan kekerabatan antar durriyah ini membentuk negeri perairan muslim durriyah yang disebut Nuswantara. Penataan, penjagaan, dan pengamanan terhadap kawasan muslim duriyah di segitiga Nuswantara (hingga China) ini sering dan terus menerus dilakukan. Bisa jadi untuk mengantisipasi kedatangan armada kaisar Dinasti Umayyah (Andalusia, Spanyol sekarang) dan kaisar Dinasti Abassiyah (Baghdad). Di jaman Khalifah Utsman (645-655), Muawiyah bin Abu Sufyan dititahkan Khalifah membentuk Armada Maritim Khalifah Islamiyah di Damaskus. Muawiyah bin Abu Sufyan diangkat menjadi Al Amirul Bahr (atau Admiral dalam lisan Eropa). Namun setelah Khalifah Utsman wafat, armada ini tidak lagi dipergunakan untuk kepentingan Islam, melainkan untuk kepentingan kuasa politik kaisar Muawiyah.

Demikian halnya setelah tahun 750, berdirinya Dinasti kaisar Abbasiyah di Baghdad menjadi pesaing politik dinasti kaisar Umayyah. Secara maritim kaisar Abassiyah juga membangun armada untuk kepentingan kerajaannya. Namun tabiat politiknya sama dengan dinasti Umayyah. Ia juga yaitu menistakan keluarga suci GK Nabi Muhammad SAW, khususnya keluarga Imam Agung Baginda Ngali. Mereka juga menghujat keluarga GK Nabi SAW dan keluarga Baginda Ngali dalam khutbah-khutbahnya. Dua daulat politik ini menjadi ancaman bagi kepemimpinan durriyat di Nuswantara. Namun kepemimpinan durriyat di Nuswantara diuntungkan fakta sejarah, bahwa mereka kemudian lebih direpotkan oleh peperangan menghadapi Eropa dan sekitarnya.

Ekspedisi Maritim Internal

Meskipun begitu, secara historis tercatat ekspedisi-ekspedisi maritim dari sultan-sultan muslim di Nuswantara/Jawa. Semuanya bertujuan menjaga silaturrahmi dan keamanan perairan Nuswantara. Hal ini terus berlangsung selama kurun 1000 tahun (sekitar tahun 800 sampai 1800).

Tahun 840, abad 9M, berdiri Kesultanan muslim durriyah-Kuffah di Perlak, Aceh sekarang, di sisi barat Selat Malaka. Kerajaan ini merupakan kebangkitan kepemimpinan para durriyah-Kuffah di dunia Islam. Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak adalah keturunan durriyah-Kuffah sejak jaman Tajik tahun 650. Gelar “Saiyidin Maulana� secara jelas menunjukkan identitas durriyahnya.

Kemudian tahun itu juga Bandar Perlak berganti nama menjadi Bandar Khalifah. Pergantian nama ini seakan mengumumkan kepada dunia Islam bahwa Pelabuhan dan negeri Perlak di Nuswantara adalah kekhalifahan yang sesungguhnya. Kepemimpinan Islam dunia dari para durriyah Nabi SAW yang meneruskan Imamah dan Nubuwah. Di sisi lain, bandar ini sangat strategis karena merupakan gerbang (Selat Malaka) memasuki perairan Nuswantara-China.

Kepemimpinan durriyah-Kuffah di Nuswantara ini juga membangun Universitas Islam non-Timur Tengah pertama di dunia. Yaitu Universitas Islam Dyah Bukit de Cerek di Perlak Tunong dan Universitas Islam Cotkala di Perlak Baroh. Kepemimpinan muslim di Swarnabhumi utara ini dipegang oleh dua keluarga durriyah-Kuffah, yaitu keluarga Azizah dan Makhdum. Universitas ini –dan juga universitas Islam lainnya di Nuswantara- kelak menjadi tempat menimba ilmu para ulama dan pelajar dari mancanegara.

Tahun 947, abad 10 M, Sri Baginda Sultan Sendok (Mpu Sendok, durriyah turunan dari Ratu Sima, Kalingga) membentuk kota Watugaluh bersama turunan keluarga durriyah Makhdum dari Perlak. Kolaborasi durriyah Isyana -Makhdum ini mengembangkan pelabuhan Warugasik/Gresik dan Watugaluh menjadi pelabuhan internasional di Jalur Sutra Laut.

Kolaborasi dua keluarga durriyah ini (Isyana-Makhdum) yang juga symbol kekerabatan Jawadwipa-Swarnabhumi kelak menurunkan sultan-sultan yang ulama (satriya pinandhita). Mereka adalah sultan-sultan di Jawadwipa seperti kesultanan Kahuripan, Kadhiri, Singhasari, Majapahit, Demak, Cirebon (dari turunan Sunda), Pajang, Mataram, hingga Yogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sekarang.

Di samping itu mereka juga menurunkan trah ulama “pangemban praja� (pandhita sinatriya). Keturunan Isyana menjadi para Sunan atau Wali tanah Jawi seperti Sunan Giri. Dan trah Makhdum seperti Kyahi Ageng (Syekh Al akbar) Hibatullah Makhdum, Kyahi Ageng Maimun Makhdum, Kyahi Ageng Abu Kasan (suami Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, wafat 1082), Syekh Ngali Syamsu Zein , bahkan kelak menurunkan para Sunan/ Wali tanah Jawi seperti Sunan Ngampel, Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), Sunan Drajat, dll.

Singkatnya, durriyah Nabi SAW di Nuswantara membentuk pasangan “priyagung/priyayi agung� tanah Jawa/Nuswantara, yakni jalur Janandaru atau satriya pinandhita, atau raja-pemerintah ulama. Dan jalur Dewandaru atau ulama pangemban praja. Pasangan priyayi agung demikian inilah yang disebut oleh peneliti anthropolog politik asal USA, Prof. Dr. Mark Read Woodward, sebagai imperial cult. Kelak kepemimpinan sultan dan ulama di Nagari Kedhiri (1117-1222) menjadi ahli waris dari imperium Islam besar Isyana-Makhdum dengan aset pelabuhan internasional (Jalur Sutra Laut selatan) Watugasik (Gresik sekarang) dan Watugaluh (Ngampel, Surabaya sekarang).

Tahun 996-1006, abad 11M, Sri Sultan Dharmawangsa Teguh penerus durriyah dari Isyanawangsa melakukan ekspedisi ke selat Malaka. Beliau memerintah di Watugaluh, Jawadwipa Timur. Ekspedisi ini bisa jadi untuk pengamanan perairan durriyah-Kuffah Nuswantara. Di samping itu beliau juga memblokade pelabuhan Palembang (Sriwijaya) untuk menyelenggarakan musyawarah perdamaian “sesama duriyah-Kuffah� baik dari Kesultanan Perlak, Kesultanan Sriwijaya, maupun Kesultanan Jawadwipa. Kesultanan di Perlak waktu itu sedang terjadi pertikaian sengit antara Perlak Baroh (keluarga Azizah) dengan Perlak Tunong (keluarga Makhdum).

Kedaulatan Sri Sultan Dharmawangsa Teguh di Watugaluh saat itu didukung oleh keluarga besar durriyah dari Gusti Ayu Fatimah binti Maimun dan suami beliau Kyahi Ageng Sayyid Abu Kasan. Paman Fatimah (adik Kyahi Ageng Maimun Makhdum) yang bernama Kyahi Ageng Sayyid Muhammad Saleh adalah menantu Sultan Perlak saat itu, yakni SMAM Ibrahim SJB (976-1012). Sri Sultan Dharmawangsa Teguh sendiri memiliki permaisuri putri Perlak. Bahkan hampir semua sultan di Jawadwipa hampir bisa dipastikan memiliki permaisuri putri keturunan durriyat Malayu dan atau Perlak. Hal itu terdapat dalam catatan-catatan mengenai sultan-sultan Sunda, Medang Poh Pitu (Gresik), Kahuripan, Kediri, Singhasari, Majapahit, bahkan sampai Mataram, Ngayogyakarta, dan Surakarta Hadiningrat sekarang ini.

Tahun 1042, Watugaluh pusat pemerintahan Isyanawangsa (Medang ) berganti nama menjadi kesultanan Kahuripan dengan pusat kepemimpinan di kota Wutan Mas. Yang bertahta saat itu adalah Sri Sultan Airlangga. Beliau membangun Kota Wutan Mas, membangun Pelabuhan Watugaluh, memperbaiki pelabuhan Kambang Putih di Tuban. Singkatnya, Jawadwipa mencapai salah satu masa keemasannya di kala itu. Hal ini kelak juga diwariskan kepada Kadhiri/ Panjalu di Daha/Dahanapura.

Tahun 1117, abad 12M, Sri Sultan Kamesywara (Bamesywara, 1117-1130) cucu Sri Sultan Airlangga di Jenggala/Wutan Mas, Kahuripan, menikah dengan Putri Candrakirana. Putri Galuh Candrakirana. Gusti Ayu Galuh Candrkirana ini juga cucu Sri Sultan Airlangga dari Daha/Dahanapura, Kedhiri Panjalu. Pernikahan ini menyatukan kembali negeri Kedhiri (semula Kahuripan) dari era palihan nagari tahun 1049 (menjadi Jenggala/Kahuripan dan Daha/Kedhiri). Kesultanan Islam warisan Sultan Airlangga ini kembali mencapai era kejayaan dan kemakmuran bagi kawula muslim Jawa. Kesultanan ini berpusat di Kedhiri Panjalu dengan pusat kepemimpinan di Daha atau Dahanapura. Kemakmuran Kedhiri Panjalu demikian ini kemudian dilanjutkan oleh Sang Prabu Sri Sultan Jayabaya. Beliau adalah adik dari Sri Sultan Kamesywara atau Bamesywara.

Sri Sultan Kamesywara dan Permaisurinya, terkenal sebagai pasangan legendaris dalam cerita Raden Inu Kertapati dan Dewi Galuh Candrakirana. Mereka juga dusebut sebagai Pangeran Panji Semirang Asmarataka dan Putri Galuh Candrakirana dalam Serat Smaradhana. Serat ini dituliskan oleh seorang ulama Kedhiri bernama Mpu Dharmajaya. Adik beliau, Sang Napanji Sri Sultan Jayabhaya ketika jumeneng nata (bertahta) terkenal dengan karya Serat Jangka Jayabaya atau Nubuwwah Al Islamiyyah (dalam bahasa arab). Kemakmuran dan tradisi intelektual Islam seperti ini menjadi latar kejayaan kesultanan Majapahit.

Tahun 1270, abad 13M, Sri Sultan Kertanagara dari kesultanan Singasari (semula Kedhiri Jenggala) melakukan pengamanan dan silaturrahmi ke seluruh Nuswantara, terutama sekitar selat Malaka. Ekspedisi itu disebut sebagai Pamalayu. Beliau bersilaturrahmi ke Malayu atau Sriwijaya di Swarnabhumi Selatan (Jambi dan Palembang sekarang) dan Champa (Thailand, Vietnam, dll). Permaisuri Kertanegara adalah durriyat dari Malayu/Swarnabhumi. Adik perempuan Sri Sultan Kertanegara bahkan diboyong hijrah ke Mekah untuk naik haji dan diperistri Syarif Mekah saat itu.


Kejayaan Kesultanan Majapahit

Tahun 1328, abad 14M, Mahamantri Gajahmada (Gajah Ahmada?) menjalankan ekspedisi Palapa atas seluruh wilayah kepemimpinan durriyat antara Nuswantara dan China. Ekspedisi silaturrahmi ini atas titah Ratu muslim Majapahit Rajapadni, Sri Ratu Tribhuana WTW, dan Prabu Sri Sultan Hayam Wuruk (hayyun wara’= hidup prihatin, apa adanya, sederhana).

Di samping itu Sri Sultan Hayam Wuruk sendiri melakukan silaturrahmi ke wilayah-wilayah internal di Majapahit. Hal mana dicatat dalam Kitab Nagarakertagama. Secara letterlijk Negarakertagama searti dengan madinah dalam bahasa arab. Negarakertagama atau madinah berarti negeri tempat agungnya kemuliaan agama. Era Majapahit ini kepemimpinan durriyah Nabi SAW termasuk mengalami salah satu kejayaannya lagi di Nuswantara.

Silaturrahmi dan pengamanan perairan kepemimpinan duriyyah di Nuswantara oleh Mahamantri Gajahmada ini memperoleh banyak dukungan. Dukungan itu antara lain dari Laksamana Hang Tuah (Selat Malaka), dari Adipati Adityawarman (Pelabuhan Palembang), dan dari Mahapatih Mpu Nala (lautan timur Nuswantara). Mereka bersama-sama menjaga gerbang maritim dan lautan Barat Nuswantara.

Tahun 1405, abad 15M, giliran Laksamana Muhammad Cheng Ho bersilaturrahmi ke seluruh wilayah durriyah di Nuswantara, bahkan sampai ke Mekkah. Nama lengkapnya dalam lisan arab adalah Muhammad Husen bin Ali (Ma Ho Sen Li). Jadi beliau adalah keturunan Ma atau GK Nabi Muhammad SAW, Nabi dan Rasulullah Agung. Saat itu secara teoritik syarif Mekkah dijabat oleh Syeh Hassan II. Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho juga membangun ratusan mesjid di wilayah kepemimpinan para durriyah ini. Termasuk pembangunan masjid-masjid di wilayah Majapahit saat itu. Jadi menurut catatan terdapat banyak sekali masjid di Majapahit. Ia terdapat di hampir setiap kadipaten Majapahit. Semua ini atas prakarsa Kaisar Yung Lo (1403-1424), dan Kaisar Hsuan Te (1425-1436). Mereka adalah para kaisar muslim dari Dinasti Ming di China. Ketika Laksamana Muhammad Cheng Ho wafat, seluruh umat Islam Majapahit/Nuswantara melakukan shalat ghaib di masjid-masjid yang telah didirikan Cheng Ho, baik di seluruh Majapahit dan di seluruh Nuswantara. Namun ratusan masjid ini bisa jadi telah lapuk dan musnah karena terbuat dari kayu. Atau telah dipugar menjadi bangunan masjid modern. Namun beberapa masjid era Majapahit masih dapat kita jumpai, misalnya di daerah Majenang dan Karanganyar, Jawa Tengah.

Tahun 1481, adalah era Sunan Gunung Jati/Pangeran Syarif Hidayatullah (1448-1578), putra Syarif Mekkah Syeh Barakat I (1425-55) dan Gusti Ayu dari kesultanan Sunda. Beliau bermarga Al Atthas atau Alatas. Beliau dinobatkan tahun itu sebagai Imam Agung bagi kepemimpinan para duriyah di Nuswantara atau bahkan dunia muslim internasional. Beliau bergelar “Gusti Kangjeng Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala Sayyidin Panatagama�. Beliau berkraton di Masjid Ciptarasa, Cirebon. Sementara itu, dunia Islam di seluruh Timur Tengah sudah powerless (tak lagi memeiliki kuasa) akibat Perang Salib (1130) dan runtuhnya Granada di Andalusia (1492).

Beliau juga menobatkan Raden Patah, atau Pangeran Jinbun, atau Raden Sayyid Kasan Al Akbar, menjadi Panglima Armada Sabilillah Laut di pelabuhan Majapahit, Demak Bintara. Beliau bergelar Syah Alam Akbar I. Kepemimpinan atas Armada Sabilillah Majapahit di Demak Bintara ini terus bergulir hingga Syah Alam Akbar Tsaniy (II, Sayyid Adipati Yunus Al Idrus). Kemudian berlanjut dengan Syah Alam Akbar III, yaitu Sayyid Raden Trenggana Al Akbar, dan lalu Syah Alam Akbar IV, yaitu Sayyid Sunan Prawata Al Akbar.

Khalifah Rasulullah Syarif Hidayatullah juga memprakarsai ekspedisi Perang Sabilillah Armada Majapahit di Demak Bintara ke Selat Malaka (1521). Ekspedisi Selat Malaka abad 16M ini demi menyelamatkan gerbang Maritim Nuswantara dari serbuan Kumpeni Portugis (tahun 1512 mereka berhasil menduduki Malaka). Peperangan sabilillah di Selat Malaka ini, membawa Syah Alam Akbar Tsaniy atau Adipati Yunus Al Idrus ke gerbang syahid. Perang sabilillah ini, kelak terus menerus berlanjut dengan peperangan sabilillah berikutnya di tanah Jawa/ Nuswantara. Bahkan tidak pernah berhenti selama kaum kolonial bercokol di Nuswantara.

Buku sederhana ini akan memperjelas diskusi mengenai Majapahit ini. Yakni rentang waktu antara abad 13 sampai 16. Salah satu era keemasan kepemimpinan Islam di Nuswantara. Namun untuk kelengkapan latar belakang, narasi dan deskripsi mengenai kilasan sejarah Islam di Nuswantara akan dilanjutkan terlebih dahulu.

Tahun 1613-1645, abad 17M, adalah era kepemimpinan durriyah Nuswantara dibawah Yang Mulia Sultan Agung Hanyakrakusuma. Secara nasab, beliau keturunan durriyat dari Sayyid Abdurrahman atau Kyahi Ageng Selo. Sultan Agung Hanyakrakusuma juga bergelar Maulana Mataram Abdul Muhammad Sultan Matarami. Tahun 1627-1629 beliau menitahkan peperangan sabilillah Mataram menggempur Batavia dari cengkeraman JP Coen. Beliau menggempur Batavia sekaligus untuk mengenang dan memuliakan 100 tahun berdirinya kesultanan Islam Jayakarta (sebelum menjadi Batavia), yaitu tahun 1527.

Pasca Majapahit: Peperangan Sabilillah

Sejak Andalusia runtuh (1492), daulat-daulat durriyah di Nuswantara menjadi sasaran utama kolonialisme. Dinasti Abassiyah telah lama runtuh (1006). Dinasti-dinasti arab kemudian hanya menjadi kerajaan-kerajaan kecil di Timur Tengah. Mereka mudah ditaklukkan karena mudah sekali tersulut konflik internal dan perpecahan. Sementara daulat-daulat durriyah di Nuswantara terbentengi oleh luasnya perairan laut yang gerbangnya terletak di Selat Malaka.

Di atas telah dijelaskan bahwa Khalifah Rasulullah Syarif Hidayatullah memprakarsai ekspedisi Perang Sabilillah Armada Majapahit ke Selat Malaka (1521). Pangkalan armada tempur ini terletak di Demak Bintara. Peperangan armada sabilillah laut Majapahit ini demi menyelamatkan gerbang maritim Nuswantara dari serbuan Kumpeni Portugis (tahun 1512 mereka berhasil menduduki Malaka). Sabilillah laut ini, membawa Adipati Yunus Al Idrus ke gerbang syahid. Perang sabilillah kelak akan terus menerus berlanjut selama kaum kolonial bercokol di Nuswantara.

Kumpeni tidak pernah mengakui kekalahannya di selat Malaka ini. Namun fakta sejarah menunjukkan, bahwa berkat perang agung sabilillah lautan ini, kumpeni portugis urung memasuki area selatan perairan Nuswantara. Mereka tidak berani ke perairan Jawa. Mereka meluaskan wilayah jajahannya ke timur, yaitu ke perairan Maluku.

Tahun 1613-1645, abad 17M, daulat durriyah Nuswantara dalam kepemimpinan Yang Mulia Sultan Agung Hanyakrakusuma. Secara nasab, beliau keturunan durriyat dari Sayyid Abdurrahman atau Kyahi Ageng Selo . Sultan Agung Hanyakrakusuma juga bergelar Maulana Mataram Abdul Muhammad Sultan Matarami. Tahun 1627-1629 terjadi perang agung sabilillah Mataram Islam. Benteng Batavia dalam cengkeraman JP Coen. Beliau menggempur Batavia sekaligus untuk mengenang dan memuliakan 100 tahun berdirinya kesultanan Islam Jayakarta (sebelum menjadi Batavia), yaitu tahun 1527. Jayakarta didirikan oleh ulama dan sultan-sultan Jawa demi menghadapi Kumpeni Belanda. Raden Tubagus Pasai diangkat menjadi sultan di Jayakarta. Beliau bergelar Sultan Fatahillah.

Kumpeni Belanda-VOC juga tak pernah mengakui kekalahan mereka dalam peperangan agung sabilillah ini. Namun faktanya, berkat perang agung sabilillah ini JP Coen tewas tahun 1629. Tubuhnya dimakamkan di Museum wayang, Jakarta. Sedangkan kepalanya dipenggal dan di tanam di makam Imogiri. Yaitu ditanam di salah satu anak tangga naik menuju makam Sultan Agung. Kumpeni-VOC tak berani keluar dari Batavia, setidaknya hingga Sultan Agung wafat tahun 1645.

Tahun 1748-1755, abad 18M, adalah era kepemimpinan Pangeran Mangkubumi atau Sayyid Sujana. Beliau juga keturunan Kyahi Ageng Selo/ Sayyid Abdurrahman. Beliau memimpin perang sabilillah Mataram melawan Kumpeni-VOC di Jawa. Beliau dibantu para sayyid dan ulama Jawi/ Nuswantara lainnya. Mereka antara lain Kyahi Ageng Sayyid Mertapura berikut seluruh santri-santrinya di Sukawati (Sragen sekarang). Kemudian Pangeran Garendhi yang sempat bertahta sebagai Amangkurat V di Kartasura. Beliau memimpin laskar Tionghoa muslim pelarian dari Kanton tahun 1644 dan dari Batavia tahun 1712. Kemudian Adipati Kediri, Sayyid Untung Surapati. Beliau didukung laskar Madura dan Makassar yang datang ke Jawadwipa. Pangeran Samber Nyawa (Sayyid Raden Mas Said) juga ikut bergabung dengan angkatan sabilillah ini.

Akibat perang sabilillah ini Kumpeni-VOC gagal menguasai seluruh Jawa (Kontrak Ponorogo, 1748) dan Pangeran Mangkubumi berjaya mendirikan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (1755).

Tahun 1825-30, abad 19M, peperangan sabilillah melawan Kumpeni Belanda berkobar lagi. Bahkan kali ini lebih dahsyat dan lebih besar. Pangeran Dipanegara, putra Sri Sultan HB III, cucu Sri Sultan HB II, seorang sayyid, ulama, dan pangeran, memimpin perang sabilillah melawan Kumpeni Belanda. Beliau di dukung para sayyid lainnya seperti Pangeran Ngabehi Jayaningrat (putra HB II), Pangeran Mangkubumi sepuh (putra HB I), Pangeran Senthot Alibasah (putra Pangeran Ranggaprawiradirja, Madiun), Kyahi Ageng Maja (Raden Bagus Kholifah, Majasanga), berikut 56 keluarga bangsawan Jawa dan seluruh abdinya, serta 60 ribu muslim sabilillah Jawa. Dukungan juga diperoleh dari angkatan perang Pangeran Surayuda, wedana Malangbong, di Jawa Barat.

Sekali lagi historiografi kolonial enggan mengakui kekalahannya. Padahal faktanya mereka mengalami rugi besar sekitar 25.000.000 gulden. Dan Kumpeni-VOC ditutup oleh kerajaan Belanda karena bangkrut. Pemerintah penjajah berganti dari Gubernur Jendral VOC menjadi Gubernur Jendral Kerajaan Belanda.

Pasca peperangan sabilillah Jawa, muslim Nuswantara masih terus saja berjuang merebut kemerdekaan negeri Indonesia tercinta dari cengkeraman Belanda , dan juga Jepang setelah itu. Kilasan dinamika sejarah muslim durriyah di Jawa/ Nuswantara merupakan jalan panjang dan penuh liku-liku perjuangan suci. Hal ini yang menyebabkan Islam begitu mendalam dan berurat berakar di Nuswantara, bahkan hingga ke pelosok-pelosok pedesaan dan suku-suku terasing.

HISTORIOGRAFI ISLAM YANG ANEH

Pada bagian ini penulis hendak menguraikan secara serba singkat dan terbatas beberapa persoalan. Pertama, keheranan-keheranan menyangkut berbagai konsep pendekatan yang terapkan untuk membaca sejarah Orang Nuswantara. Keheranan paradigmatik atau epistemik (secara lebih luas) ini senantiasa menjadi inspirasi yang melatar belakangi penyusunan buku ini.
Di antara berbagai keheranan itu adalah mengapa tradisi tua dalam alam kehidupan Orang Nuswantara/ Jawa sulit dicari dalam ruang sejarah? Bahkan dalam sejarah negeri dan bengsanya sendiri? Setiap kali membaca latar sejarah bangsa sepertinya berhadapan dengan sebuah narasi yang bukan masa lalu Orang muslim Nuswantara. Bahkan kadang kala narasinya terkesan naïf dan pandir. Keheranan demikian sepintas seperti melampaui dan atau sudah bukan lagi persoalan rasional atau tidak, ilmiah atau tidak, metodik atau tidak, serta modern atau tidak.

Persoalannya, sebagai bagian dari Orang Nuswantara/ Jawa, sering kali menemukan masa lalu yang “berbeda� secara cukup signifikan. Masa lalu yang “bukan saya�, “bukan kami� Orang muslim Nuswantara. Dengan kata lain, masa lalu yang tidak menjelaskan dan tidak korelatif dengan kenyataan sosial-historis yang dialami Orang Nuswantara modern saat ini. Tentu saja ini menimbulkan sebuah “epistemological gap� atau jurang pemutus pemahaman yang mendasar. Seolah tak pernah ada “korelasi logis� antara Orang Nuswantara dahulu dan sekarang. Dan ini jelas-jelas menyalahi asas logika pertama yakni verba volant atau rantai sebab akibat. Harus ada kesinambungan sebab-akibat antara masa lalu Orang
muslim Nuswantara dengan realitasnya yang sekarang.

Yang kedua adalah mengenai munculnya mekanisme pikiran kolektif Orang Nuswantara yang cenderung melupakan para leluhur dan pendahulu bangsa. Penyebabnya adalah karena mendengar/ membaca/ mengenal para leluhur dan ruang waktu yang melingkupinya tidak menimbulkan rasa bangga dan percaya diri. Malahan sebaliknya, mental kolektif Orang Nuswantara menjadi underconfident, tak percaya diri. Seakan tak ada sama sekali bagian sejarah Nuswantara yang layak dijadikan referensi dan pegangan hidup.

Akibatnya, hampir semua Orang muslim Nuswantara melakukan tindakan epistemological suicide. Mereka melakukan “bunuh diri pikiran�. Mengharap terhinggapi amnesia sejarah. Berusaha melupakan sejarah, atau setidaknya berpura-pura lupa terhadap sejarah. Menerapkan lam nafi terhadap sejarah bangsa sendiri, la tarikhu. Sebuah tindakan pikiran untuk menihilkan sejarah bangsa sendiri. Kemudian setelah itu berpijak pada eksepsi afirmatif illa tarikhuhum. Bahwa sejarah “orang lain�/ “mereka� lebih memorable and referrensiable. Tentu saja “tarikhuhum� berkonotasi kepada sejarah modernisme yang cenderung western. Atau kalaupun beroriemtasi kepada sejarah Orang Nuswantara, harus yang western version atau colonial version.

Akibat yang paling komprehensif adalah hilangnya kemampuan kolektif kita untuk melakukan ekstrapolasi dan prediksi ke masa depan. Hal ini disebabkan oleh terus menerus mengalami kegagalan setiap kali melakukan rekonstruksi dan atau reformasi diri. Konsekuensinya, Orang Nuswantara menjadi mudah terombang-ambing, rentan, dan hanya mampu berpikir emosional.
Nampaknya suatu tindakan epistemik alternative perlu dilakukan di titik ini. Semacam reconstruction Muhammad Iqbal terhadap Orang muslim Pakistan. Atau ihya’ Al Ghazali terhadap Orang muslim Timur Tengah. Atau rerepen Sunan Paku Buwana X, dan sesanti jumenengan Sri Sultan HB X bagi Orang muslim Nuswantara/ Jawa.

Namun seperti kita ketahui, tindakan epistemik demikian hanya mungkin dilakukan oleh para pemimpin, tokoh, dan pahlawan dunia. Sulit membayangkan hal itu dalam dunia kawula alit seperti saya. Meskipun begitu, toh saya ingin berbuat sesuatu untuk persoalan epistemology seperti ini. Setidaknya dalam lingkup saya, dunia tradisi, dunia para kawula alit. Dunia yang atmosfernya cenderung pikul dhuwur, pendhem jero. Atmosfer yang andhap asor dan lembah manah.

Dalam atmosfer seperti itu, eksplorasi ini cenderung ekstensional bukan intensional. Lebih internal, bahkan eksistensial. Eksplorasi dalam atmosfer seperti itu menjadi sebuah ngudi sangkan paran dan susur leluhur di kedalaman sejarah Nuswantara. Sebuah caos bekti eksistensial se-Orang muslim Nuswantara/ Jawa. Eksplorasi afirmatif, demi keteduhan dan ketentraman epistemology, serta kenyamanan nurani. Agar berbakti dan mengabdi kepada para leluhur menjadi bermakna dan berarti.

Inilah ngrukti para leluhur. Beliau-beliau yang agung dan mulia di sisi Tuhan YME. Yang mana gen-gen keagungan dan kemuliaan beliau-beliau itu telah-sedang-akan selalu mengisi rangkaian mitokondria DNA saya dan seluruh Orang (muslim) Nuswantara hingga kelak tumekaning kiyamat kubro.

AGAMA BRAHAM/MILLATU IBRAHIM

Jika dicermati dengan seksama religi yang berkembang di Nuswantara adalah agama Abraham atau millatu Ibrahim. Hal ini tertera misalnya dalam Catatan Fa Xian/ Fa Shien sepulang dari India di era tahun ke-7 Kaisar Xiyi (411M) . Fa Xian adalah seorang ulama senior di China saat itu. Ia singgah di Yapoti (Jawa dan atau Sumatra) selama 5 bulan. Ia menulis,

“Kami tiba di sebuah negeri bernama Yapoti (Jawa dan atau Sumatra). Di negeri itu Agama Braham sangat berkembang., sedangkan Buddha tidak seberapa pengaruhnya.�

Catatan ini menjelaskan agama yang berkembang di era awal sejarah Nuswantara. Tapak kaki Purnawarman (395-434M) pada prasasti Tarumanagara secara langsung menunjukkan korelasi dengan millatu Ibrahim. Tradisi menyematkan tapak kaki pada batu/ prasasti ini juga adalah tradisi simbol Islam pra-Muhammad, yakni Maqam Ibrahim. Atsar Nabi Ibrahim (3500 SM, abad 34 SM) ini menunjukkan prakarsanya dalam membangun dan melestarikan baitullah Ka’bah di Haramain.

Menyematkan telapak kaki sebagai tanda juga dilakukan Nabi Muhammad SAW (571-632M). Telapak kaki Beliau SAW terdapat di museum Nasional Turki, di Masjid Jami’ Newdelhi, India, dan di Mesir. Di Nuswantara, di bekas area kerajaan Tidore, Maluku, juga terdapat situs yang dipercayai masyarakat setempat sebagai tapak Nabi Muhammad SAW . Demikian juga dengan �tapak Rasul� yang dipercayai masyarakat Makassar dan Papua.

Gb. 10. (arah jarum jam) Tapak Nabi Ibrahim (3500 SM), tapak Purnawarman (395-434M), tapak Nabi SAW (571-632M) di Mesir, tapak Nabi SAW di Newdelhi, dan tapak Nabi SAW di Museum Turki.

Tradisi menyematkan tapak kaki ini juga terdapat di Kutai, Kalimantan Timur. Tradisi millatu Ibrahim lainnya adalah �memberi hadiah� atau berderma. Salah satunya diwujudkan dalam budaya kuno penyembelihan sapi. Yaitu untuk kemudian dibagikan kepada rakyat dan ulama. Tradisi ini masih dilestarikan hingga oleh umat Islam hingga saat ini. Yaitu dalam Iedul Adha atau Iedul Qurban. Baik Raja Purnawarman (Tarumanagara) maupun Raja Maulawarman (Kutai) melaksanakan ritual ibadah ini.

Qurban oleh Purnawarman, Tarumanagara, tertera pada prasasti Tugu, Cilingcing, Jakarta. Sedangkan oleh Maulawarman, Kutai, tertera pada Prasasti Batu Yupa/ Muara Kaman, tepian sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kedua prasasti menceritakan kedua raja agung itu masih melaksanakan adat millatu Ibrahim. Mereka menyembelih 1.000 ekor sapi. Dagingnya dibagikan kepada seluruh rakyat dan ulamanya.

Tradisi kurban dengan menyembelih sapi pasti bukan tradisi Hindu. Bagi agama umat Hindu Dharma, sapi merupakan hewan suci dan keramat. Penyembelihan sapi pasti akan dilarang. Oleh karena itu Qurban menyembelih sapi –hingga 1000 ekor- sudah pasti merupakan tradisi millatu Ibrahim. Tradisi ini terus bertahan di kalangan umat Islam sekarang ini.

Tarumanagara terletak di tepian sungai Cisedane, Jawa Barat, dan menghadap ke laut Jawa. Sedangkan Kutai di tepian sungai Mahakam, Kalimanatan Timur, menghadap ke Selat Makassar. Kedua kerajaan tersebut sama-sama langsung berhubungan dengan kesibukan lalu lintas perdagangan dunia (Jalur Sutra Laut) saat itu.

ASUMSI HINDUISME

Damais adalah seorang profesor sejarah antropologi asal Perancis. Peneliti ini keheranan dan mempertanyakan tesis-tesis tentang sejarah Nuswantara. Antara lain adalah terjadinya penaklukan para petualang �hindu� ke Nuswantara. Mereka lari dari negeri asal mereka ke Nuswantara ini karena �satu dan lain hal�. Tesis ini tak pernah memiliki argumen secara proporsional.

Faktanya, di Nuswantara tidak pernah terdapat peninggalan �bahasa� kaum hindu. Yang menonjol adalah kosa kata Sansekerta yang memperkaya bahasa-bahasa Melayu Kuno, Jawa Kuno, dan Bali Kuno. Sebagian besar bahkan merupakan bahasa dan istilah teknik. Kata-kata sansekerta ini pun, asalnya bukan dari �para pendatang Hindu� itu. Melainkan ia berasal dari kitab-kitab kuno yang dibaca orang Nuswantara jaman dahulu. Secara linguistis, jelas tidak terdapat peninggalan bahasa lisan �orang India kuno� di Nuswantara.

Damais juga mengutarakan bahwa para penulis sejarah Nuswantara tidak pernah menjelaskan secara jelas. Yaitu apa yang dimaksud dengan �koloni-koloni hindu� di jaman dahulu. Damais menyatakan bahwa istilah �hindu� adalah tidak tepat. Kosekuensinya, kalimat �Raja-raja Hindu Majapahit� atau �Pulau Hindu� (untuk Bali) sama sekali tidak benar. Beberapa tokoh di Bali lebih suka jika mereka disebut sebagai penganut agama Syiwa. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa mereka sangat berbeda dengan agama Hindu Dharma atau Brahmaisme India.

Menurut Damais istilah hindu yang dipergunakan sejarawan Belanda merujuk kepada istilah hindoesch, Indische, Indie, atau Indo . Pengertian kata-kata ini mutlak berarti �Hindia� Belanda. Hal ini bersesuaian dengan istilah Oost Indische/Hindia Timur untuk dunia Islam (Islamistand) sebelah timur Granada. Dan West Indische/Hindia Barat untuk Islamistand di sebelah barat Granada, Spanyol. Dalam peta dunia dapat dilihat bahwa Granada adalah kota yang ditetapkan kaum kolonial sebagai garis bujur bumi 0 derajat.

Berdasarkan prasasti-prasasti dan dan dokumen kuno Nuswantara asli, kesan bahwa kebudayaan Nuswantara berhutang budi kepada �masyarakat Hindu� di jaman dahulu harus dihilangkan. Sebaliknya, justru mereka yang berhutang budi kepada peradaban Nuswantara. Pandangan ini juga dikemukakan oleh Damais.

Keanehan tesis-tesis di atas, terdapat misalnya pada buku The Sculpture of Indonesia. Buku tersebut karya Jan Fontein, terbitan Harry N. Abrams, Inc., New York, USA (1990). Dalam buku itu dikatakan bahwa inskripsi Citarum �berhubungan� dengan Dewa Wisnu. Kemudian dinyatakan bahwa mereka adalah para pengikut Brahmanisme. Padahal telah dijelaskan, bahwa prasasti-prasasti Tarumanegara ataupun Kutai adalah jelas-jelas berlatar belakang tradisi Abrahamik atau millatu Ibrahim.

ISLAMLESS SEJARAWAN KOLONIAL

Nancy K. Florida, seorang Filolog berkebangsaan Amerika Serikat menarik untuk diperhatikan. Dia mengatakan Filologi kolonial memberi gambaran keliru atas sastra Jawa. Mereka menganggap karya-karya agung para pujangga Jawa abad ke-9 sampai 14, sebagai “puncak dari kebudayaan Hindu-Buddha�.Menurut pandangan itu, zaman emas tersebut diakhiri oleh kedatangan Islam pada akhir abad ke-15. Jadi Islam dipandang sebagai penghancur keindahan Hindu-Budha. Risalah ini bisa dibaca misalnya dalam buku “Membaca Postkolonialitas (di) Indonesia�, editor Budi Susanto, SJ, Penerbit Kanisius, 2008.

Nancy kemudian menggulati naskah-naskah Jawa kuna. Ia sampai pada satu titik kesumpulan. Filologi kolonial berada dalam suatu struktur (pikiran) yang disebutnya �tidak-akan-melihat� kenyataan budaya Jawa yang sesungguhnya. Filologi Barat adalah proyek penjajahan colonial. Karenanya selalu gagal �melihat signifikansi Islam� dalam teks-teks Jawa (Islamless). Mereka bersikeras mempertahankan struktur (pikiran) �tidak-akan-melihat-Islam� itu. Dengan demikian Nancy sebenarnya bukan hanya melihat gambaran kebudayaan sastra Jawa. Ia telah menguak sejarah Islam Jawa yang sebenarnya.

Struktur pikiran yang “tidak-akan-melihat� seperti di atas, salah satunya tampak dari pernyataan HJ de Graaf dkk. Yaitu dalam buku “China Muslim di Jawa abad XV dan XVI� pengantar Riklefs, dan diterbitkan oleh Tiara Wacana, Yogyakarta. Mereka mengatakan bahwa para penafsir sejarah Indonesia mengenal nama-nama penguasa Majapahit (hanya) dari karya-karya ilmuwan/sejarawan Belanda. Misalnya Pararaton karya Brandes atau buku-buku yang lebih kemudian.

Mereka juga mengatakan bahwa tulisan atau laporan mengenai raja-raja Jawa yang benar adalah yang sesuai dengan sejarah dinasti-dinasti Jawa yang sudah direkonstruksi oleh ilmuwan Belanda. Pernyataan de Graaf ini secara langsung menunjukkan bahwa cara pandang/pikiran/yang tidak melalui, meniru, dan menyesuaikan diri, dengan pikiran kolonial mutlak dianggap keliru. Persoalan paradigmatik termasuk persoalan yang sangat aneh dan mengkhawatirkan. Ia telah mengakibatkan fakta-fakta sejarah Jawa/Nuswantara menjadi menggelikan dan menimbulkan ketidak-nyamanan logis. Lebih jauh lagi, pandangan “tidak-akan-melihat-Islam� telah membawa para pengikutnya kepada suatu awan berpikir yang pandir. Mereka telah menjadi lucu karena terlalu lama berpura-pura.

Sesungguhnya berpikir dan berpandangan “apa-adanya� mengenai sejarah Jawa/Nuswantara merupakan kunci penting. Yakni sebelum kita membahas dan berdiskusi mengenai sejarah dan historiografi Nuswantara lebih lanjut. Sepertinya kita harus menetapi prinsip “Banteng Mataram�. Yaitu kita harus “wani, jujur, lan prasaja�. Prinsip ini memberi sebuah lompatan. Dari pikiran “tidak-akan-melihat-Islam� menjadi “selalu-melihat-Islam�. Kita harus berani melepas beban epistemic/ paradigmatic itu. Hal ini akan membawa kita kepada berpikir yang sehat, prasaja, atau apa-adanya. Atau erleben, kata Immanuel Kant.

Sejarawan Eropa yang juga keheranan melihat awan berpikir ini adalah Louis-Charles Damais sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Damais kemudian hidup dan menikah di Batavia. Pernyataan-pernyataannya kontroversif, terutama bagi para sejarawan kolonial.

Setiap hipotesis menjadi sangat lemah sebelum melangkah lebih jauh. Dan tampaknya penulis-penulis yang membahas “koloni-koloni hindu� itu tidak pernah menetapkan dengan jelas apa yang mereka maksudkan dengan istilah (hindu) tersebut. Bahkan istilah hindu itu sendiri juga sebenarnya tidak tepat.

Akibat pemakaian istilah yang terlalu kabur tersebut, misalnya istilah “koloni hindu� sengaja tidak dijelaskan lebih lanjut. Dan juga munculnya istilah –dalam karya penulis-penulis yang tidak sempat menggunakan sumber-sumber asli- seperti Raja-raja Hindu Majapahit atau Pulau Hindu (untuk Bali), dsb. Hal ini adalah sama sekali tidak benar.

Pernyataan ini terdapat pada buku “Epigrafi dan Sejarah Nuswantara, Pilihan Karangan Louis-Charles Damais�, yang diterbitkan EFEO-Jakarta 1995. Di dalam buku itu Damais juga menyatakan, Akhirnya, sama sekali tidak ada kata dari salah satu bahasa yang dipakai secara lisan di India pada jaman dahulu yang tersisa dalam bahasa-bahasa di Indonesia. Pada hemat kami, suatu dominasi politik oleh orang-orang India (yang konon beragama hindu atau budha) sama sekali tidak mungkin.

MAJAPAHIT DALAM PROTOKOL JAYABAYA

Dari uraian di atas, maka historiografi susunan para sejarawan kolonial secara umum berseberangan dengan tradisi lisan klasik di Jawa/Nuswantara pada umumnya. Tradisi lisan klasik itu salah satunya termaktub dalam Jangka Jayabaya. Jangka ini selama ribuan tahun lestari tertanam dalam ingatan kolektif Orang Nuswantara. Jangka Jayabaya menyatakan bahwa mula pertama yang datang ke Nuswantara adalah para utusan Gusti Kangjeng Nabi Ibrahim AS (sekitar 3500SM). Bukan petualang hindu/budha.

Jangka Jayabaya dinisbatkan kepada Prabu Jayabaya histories. Beliau adalah raja Jawa di Kedhiri (1135-1159). Menurut Prasasti Hantang (1135), beliau adalah raja besar dan membawa Kedhiri ke Jaman Keemasan. Bahkan menurut berita China (Chou-Ku-Tei) di Kerajaan Kedhiri telah berlaku uang emas/ dinar dan peraturan-peraturan mengenai pajak.

Jangka Jayabaya berarti NubuwwwahAl-Islamiyah jadi bukan ramalan, melainkan sebuah peletakkan periodisasi jaman yang telah, sedang dan akan dilaksanakan oleh Orang Nuswantara. Ia semacam GBHN (garis besar haluan Negara). Namun rentangan waktunya sangat panjang, sekitar 2100 tahun. Sejak orang Nuswantara masih millatu Ibrahim hingga kemudian memeluk dienul Muhammad atau Islam.

Jangka Jayabaya mengakar dan melestari dalam keyakinan kolektif Orang Nuswantara secara lisan. Karenanya ketika muncul era tulisan dalam susastra Jawa/Nuswantara sekitar abad 17M, penulisan Jangka Jayabaya memiliki banyak sekali versi. Ada Jangka Jayabaya Pasundan, Mataram, Jawatimur, dll. Para penulisnya pun sangat banyak. Misalnya R. Ng. Ranggawarsita (1803-73), KH Kasan Besari II, BPH Soemodidjojo, Tumenggung Mangunagara, KPH Tjakraningrat, BPH Soerja Widjaja, BPH Soerjanagara, dll. Semuanya ditulis tangan/ seratan tangan.

Kaliyoga-Kala Teteka: Era Kesultanan Kedhiri

Secara singkat, Jayabaya membagi rentangan waktu 2100 tahun menjadi 3 Trikali (jaman besar), yakni Swara (periode awal), Yoga (periode tengah), dan Sangara (periode akhir). Setiap kali tersebut memuat 7 Saptama Kala (jaman kecil) . Kaliswara terdiri dari 7 kala: Kukila, Budha, Brawa, Tirta, Rwabara, Rwabawa, dan Purwa. Kaliyoga: Brata, Dwara, Dwapara, Praniti, Teteka, Wisesa, dan Wisaya. Kalisangara : Jangga, Sakti, Jaya, Bendu, Suba, Sumbaga, dan Surata.

Jaman Kedhiri (1117-1222) sampai Singasari (1222-1292) termasuk dalam Kala Teteka – Kaliyoga. Kala Teteka artinya banyak orang dari mancanegara mulai berdatangan ke Nuswantara. Kala Teteka ini juga terdiri dari 3 jaman , yakni jaman Sayaga, Prawasa, dan Bandawala.

Era Kedhiri-Jenggala adalah era di mana Timur Tengah sedang dilanda kerusuhan besar, yakni Penghancuran Baghdad (oleh Mongol) dan Perang Salib (oleh Eropa). Inilah mahapralaya di belahan Timur Tengah. Maka banyak orang Timur Tengah mengungsi ke segala penjuru dunia, termasuk Nuswantara/ Jawa. Jaman sayaga artinya jaman siap-siap, atau berhati-hati. Jaman prawasa artinya jaman ketika manusia di seluruh dunia saling berebut kekuasaan. Sesama kedaulatan Islam saling menghancurkan. Baghdad hancur, Fatimiyah di Mesir hancur, Turki Saljuk juga hancur.

Orang-orang muslim Mongol menganggap kaum muslimin di Timur Tengah (Bani Umayah dan Abbasiyah) telah terlalu banyak melakukan dosa dan kezaliman. Tahun 1253, Pangeran Hulagu Khan, cucu Sultan Mongol Jengis Khan, membawa mahabala Mongol untuk menghancurkan Ismailiyah. Mahabala Mongol ini semula mengajak Khalifah Mu’tashim (1242-58) untuk bersama-sama menghancur Ismailiyah. Namun Banghdad menolak. Maka tahun 1256, Benteng Ismailiyah “Alamaut� berikut ribuan penduduknya dihancur leburkan oleh Hulagu tanpa ampun.

Bulan September 1257, Hulagu memberi ultimatum agar Khalifah Baghdad menyerahkan diri, namun ditolak. Maka bulan Januari 1258 Benteng kota Baghdad dihancurkan Hulagu. 10 Februari 1258, Hulagu membumi hanguskan Kota Baghdad kecuali Masjid Besarnya. Khalifah Baghdad, berikut 300 pejabat, dan qodhi menyerahkan diri. Tanggal 20 Februari 1258, semuanya dibunuh tanpa sisa. Baghdad menjadi lautan darah dan api. Mahabala Mongol membawa panji-panji bertuliskan:

“Pembawa bencana yang dikirim Allah untuk manusia (muslim) sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka�

Mungkin Bani Umayah dan Abassiyah berikut bani-bani muslim lainnya di Timur Tengah sudah terlalu bergelimang harta, kejayaan, dan dosa. Sejak 20 Februari 1258, untuk pertamakalinya dunia muslim Timur Tengah terbengkelai tanpa seorang Khalifah.

Tokoh ulama yang diharapkan sebagai pembaharu saat itu adalah Imam Muhammad Al Ghazali yang termasyhur (wafat 1110). Beliau mengingatkan umat muslim dunia saat itu agar meninggalkan kehidupan muslim yang bergelimang harta, tahta, dan wanita seperti itu. Beliau mengingatkan agar manusia muslim kembali kepada tradisi spiritual yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Buku-buku karya beliau antara lain Ihya’ Ulumuddin, Al Munkidz min Adz Dzalal, Misykatul Anwar, Kimia Kebahagiaan, dll.

Peringatan ulama waratsatul ambiya telah disampaikan, namun manusia muslim saat itu tetap saja berkubang dalam kehinaan dunia. Maka kemudian Allah SWT berkenan mengirimkan mahabala Mongol.

Jaman berikutnya adalah jaman bandawala. Pada jaman ini, seluruh raja-raja dan kawula Nuswantara meningkatkan kemampuan perangnya. Orang Nuswantara yang semula tata titi tentrem kerta raharja, harus bersiaga mempertahankan Nuswantara Darussalam. Hal ini terlaksana ketika nantinya, pasukan Mongol utusan Khubilai Khan juga memasuki Pulau Jawa di era Kertanegara raja terakhir Singasari.

Uniknya, utusan dan bala Mongol “Sang Penghukum� itu tidak melanjutkan dengan serbuan mahabala seperti yang mereka lakukan terhadap muslim di Timur Tengah. Bahkan sekalipun Kertanegara melakukan penistaan terhadap mereka. Kedatangan mereka yang kedua juga dalamjumlah yang sedikit, sehingga mudah diusir oleh R. Wijaya dan Pangeran Jayakatwang. Mungkin karena kehidupan muslim Nuswantara saat itu tidak bergelimang dalam harta, tahta dan dosa, sehingga serbuan Mahabala dianggap tidak diperlukan. Bahkan Mongol-China (pusat pemerintahan mereka sudah pindah dari Mongol ke Beijing) di era Majapahit mengirimkan armada silaturrahmi mereka untuk meminta maaf dan menjalin Ukhuwah Islamiyah. Armada silaturrahmi itu dipimpin oleh Laksamana Muhammad Cheng Ho tahun 1405.

Kaliyuga-Kalawisesa: Era Kesultanan Majapahit

Era Majapahit dalam jangka Jayabaya termasuk dalam era Kalawisesa . Jaman ini berarti jaman bertahtanya kebaikan dan kesucian manusia. Orang-orang suci, wali-wali tanah Jawa/ Nuswantara menjadi pemimpin dan pemerintah Nuswantara. Inilah mulabuka dari jaman imperial cult yang menjadi thesis Mark R. Woodward. Masa kepemimpinan para sufi dan ahli tashawuf di Jawa/Nuswantara.

Kalawisesa dibagi menjadi 3 jaman, yakni jaman mahapurusa/mapurusa, nisditya, dan kindaka . Mahapurusa artinya jaman puncak kemakmuran. Majapahit/Nuswantara memuncak menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Atau gemah ripah loh jinawi, tata iti tentrem kertaraharja seperti dahulu kala abad 7-10M.

Nisditya/nisdetya artinya musnahnya sifat angkara murka atau durkamurkan. Nuswantara hidup dalam puncak keindahan akhlak Islam yang membawa dan menyebarkan rahmatan lil ngalamin. Representasi jaman ini diwakili oleh silaturrahmi Maha Amangku Patih Gajahmada ke seluruh pelosok Nuswantara. Di samping itu, juga silaturrahmi yang dilakukan oleh Maha Prabu Hayam Wuruk ke seantero wilayah Jawa dan sekitarnya. Sikap saling menghormati, silaturrahmi ini kemudian saling gayung bersambut dengan kekaisaran China.

Kindaka artinya jaman air, tirta (air yang berkah dan menyuburkan), atau warih (air yang berkah mensucikan jiwa raga Orang Nuswantara). Swarga patirtan ini muncul di mana-mana di Nuswantara baik secara alamiah (umbul, sendang, mata air, sungai, tlaga, dll) maupun secara planologi. Tata kota Majapahit dan seluruh negeri-negeri Nuswantara setelahnya diatur berdasarkan konsep petirtaan. Yakni konsep perkotaan yang mengutamakan aliran dan sebaran air untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Jadi kebudayaan muslim material yang memuncak di Baghdad dan Timur Tengah pada umumnya hanya berumur 400 tahun saja sejak Rasul Suci wafat. Kemuncak peradaban Islam secara utuh spiritual-material terbangun setelah mahapralaya terjadi di Timur Tengah.

Maka peradaban muslim Nuswantara merupakan bauran estetik aneka peradaban muslim sebelumnya baik di Timur Tengah, China-Mongol, maupun di Nuswantara itu sendiri. Bauran estetik ini melahirkan kombinasi genetic yang sangat unik. Sehingga Orang Nuswantara hingga saat ini secara fisik merupakan bauran wajah arab-persi-Jawa-china. Bauran sifat jalaliyah Allah (keperwiraan, arab-persi), dengan sifat jamaliyah Allah (keindahan, china), membentuk sfat kamaliyah Allah (sempurna). Manusia gagah perwira yang menjunjung tinggi kemuliaan akhlak dan keluhuran ruhani. Para satriya pinandhita hambak talering kautaman. Dan tanah di mana mereka menjalani kehidupan sucinya adalah tanah keramat yang mereka sebut Nuswantara .

Kaliyoga Akhir- Kalawisaya: Era Armada Sarjawala Majapahit di Demak

Akhir dari Kaliyoga atau periode tengah ini adalah kalawisaya. Artinya jaman yang penuh dengan fitnah. Pada jaman ini adalah dimulainya Kolonialisme dari Granada di Spanyol ke seluruh dunia muslim (Islamistand) hingga Nuswantara. Era ini penuh fitnah karena gentingnya situasi Nuswantara/ Jawa. Banyak ajaran keutaman budi Islam yang disembunyikan. Para wali, kyahi ageng, dan panembahan, melakukan hijrah ke pesisir selatan Jawa. Mereka mulai membangun pertahanan terakhir Orang muslim Nuswantara.

Kalawisaya terbagi menjadi 3 jaman yakni paeka, ambondan, dan aningkal. Dimulai dari sengkalan ulama Majapahit bernama Mpu Prapanca. Yaitu terdapat dalam serat Kandha: sirna ilang kertaning bhumi. Artinya, tahun 1400 saka atau 1478 masehi. Dari tahun 1478 ini dimulailah jaman penuh fitnah ini. Orang muslim Nuswantara berada dalam konflik berkepanjangan dengan kaum Kolonial dimulai oleh Portugis, Spanyol, dan kelak Belanda/Nederland serta Jepang.

KESULTANAN MAJAPAHIT 2

DARI SILATURAHMI CHENG-HO (1405)
HINGGA
MASA VACUUM1403-06
Paragreg (Gegeran Agung) di Majapahit
selama 3 tahun

Setelah 17 tahun terbagi menjadi dua wilayah, tahun 1403 terjadi upaya menyatukan kembali Majapahit. Hal ini dilakukan oleh sultan-sultan dan para pembesar Majapahit. Majapahit dipersatukan kembali oleh Prabu Wikrama Wardhana dan Ratu Kusuma Wardhani.

Bhre Wirabhumi menyerahkan pemerintahan kepada kakak dan iparnya atas seluruh kerajaan Majapahit baik di Barat maupun di Timur. Beliau memilih hidup menyepi dan berkelana mencari kesejatian hidup. Kejadian ini menimbulkan kegemparan di Majapahit selama kurang lebih 3 tahun.

Insight 1405-1407 : Pelayaran I Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho

Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho berdasarkan dekrit KaisarYung Ho (dengan wewenang tak terbatas) berlayar untuk pertamakalinya ke Majapahit di Nuswantara. Bertolak dari Nanking:
  1. 60 buah Kapal Laut besar ukuran 134x55 m.
  2. 225 buah kapal pengiring.
  3. 28.000 prajurit dari Fukien
  4. Haji Wan Jing Hong sebagai Wakil Cheng Ho
  5. Haji Yoe Hsien/Al Husein menjadi asisten Panglima
  6. Haji Al Hasan (Imam di Si An) sebagai Juru Bahasa
  7. Haji Ma Huan dan Haji Fei Shin sebagai Juru Pencatat
Sebelum sampai di Cho-po/Jowo/Jawa, mereka berlabuh di Kerajaan Muslim Champa. Selama di Champa:
  1. Menumpas Armada Bajak Laut Co Chin
  2. Haji Bong Tak Keng diangkat menjadi duta besar Champa
  3. Membangun masjid dan shalat berjamaah
Berlabuh di Kerajaan Siam:
  1. Menghentikan Upeti dari Raja Malaka berupa 40 pohon emas
  2. Membangun Puri untuk duta besar
  3. Membangun masjid dan shalat berjamaah
Berlabuh di Kerajaan Sambas di Puni (Kalbar), Cheng Ho mendirikan Perserikatan Muslim Tionghoa.

1406-1429 : Wikrama Wardhana memerintah Majapahit selama 23 tahun

Majapahit yang telah bersatu kembali diperintah oleh Prabu Wikrama Wardhana dan Ratu Kusuma Wardhani. Wikrama Wardhana/ Bhre Hyang Wisesa mempersiapkan putrinya (cucu Bhre Wirabhumi) yang bernama Suhita menjadi penggantinya. Dengan bertahtanya Suhita (putri Wikrama Wardhana dan cucu Bhre Wirabhumi), maka Majapahit bersatu dapat dilestarikan.

Kunjungan I Laksamana Sayyid Haji Muhammad Cheng Ho
1406 : Silaturahmi ke Kabupaten Majapahit di Tuban

Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho bermaksud memulihkan persahabatan dengan Majapahit. Hal ini dilakukan karena dahulu Khubilai Khan (1254-1294) pernah menyerbu Jawa di masa Singasari. Singasari adalah leluhur Majapahit.

Cheng Ho adalah seorang She-Ma (Muslim) dari Kerajaan Muslim Ming di Tiongkok. Ia dari suku Han, nama dan gelarnya antara lain: Ma Ho, Tay Jien, Sam Poo Kong/San Pao Kung, Sam Po Bo, dan Geng He.

Rombongan silaturrahmi Laksamana Haji Muhammad Cheng Ho, masuk melalui pelabuhan Majapahit di Tuban. Beliau disambut oleh Syah Bandar Tuban, seorang Muslim (keturunan) Arab. Di Tuban, Rombongan Cheng Ho melakukan berbagai aktifitas:
  1. Mendirikan Masjid dan Shalat berjamaah
  2. Mendirikan serikat Muslim Tionghoa
  3. Membuka kantor dagang
  4. Kyahi Abdurrakhim hidup sekitar masa ini. Beliau adalah ayah dari Arya Teja I/ Haji Gan Eng Cu. Beliau pernah ditugaskan ke Mannallah/ Manila/ Filipina namun kembali lagi ke Tuban.

Silaturrahmi ke Breng Daha pusat Majapahit melalui Gresik dan Canggu

Cheng Ho mengirim 170 utusan untuk menyampaikan surat kepada Sultan Majapahit di Breng Daha (Majapahit Barat). Namun akibat sisa kerusuhan Paregreg, rombongan utusan Cheng Ho dikira hendak menambah kekacauan. Maka terpaksa semua utusan dibunuh oleh pasukan Sultan Wikramawardhana yang telah menguasai Bhreng Daha.

Cheng Ho dan rombongan, silaturahmi ke Tumapel (Majapahit Timur, sekitar Malang Mojokerto). Beliau menemui Sultan Wikramawardhana. Akibat kesalahpahaman tersebut Laksamana Cheng Ho menuntut ganti rugi dari Sultan Wikrama Wardhana sebesar 60.000 tail emas. Sang Prabu menyetujui. Laksamana Cheng Ho kemudian menyanggupi untuk:
  1. Membangun masjid-masjid di hampir seluruh kota Majapahit. Antara lain Lasem, Tuban, Tse Tsun/ Gresik, Jiao Tung/ Joratan, Cangki/ Mojokerto, dll.
  2. Membangun kantor-kantor dagang di pelabuhan Majapahit.
  3. Membentuk Komunitas Cina Muslim Hanafi

Ketika hendak balik ke Tiongkok, Sultan Wikrama Wardhana hanya mampu memenuhi 1/6 dari tuntutan Laksamana Cheng Ho. Namun hal itu bisa dimaklumi.

Silaturrahmi ke Semarang, Cirebon, dan Sunda Kelapa

Dari Bhreng Daha, Canggu dan Gresik, Rombongan Cheng Ho bersilaturrahmi ke Semarang, Cirebon, dan Sunda Kelapa (kelak menjadi Jayakarta/ Batavia/ Jakarta). Di kota-kota besar Majapahit tersebut Cheng Ho dan rombongannya membentuk Komunitas China Muslim Hanafi, membangun masjid, dan shalat berjamaah.

Silaturahmi ke Palembang (Kukang)

Rombongan Cheng Ho singgah di Kadipaten Majapahit di Palembang. Di sana mereka melakukan:
  1. Menumpas Bajak Laut Chen Tsu Yi, seorang asal Hokkian.
  2. Mengangkat Shi Chin Qing, seorang Muslim China yang mukim di Palembang, menjadi Ketua Komunitas China Muslim Hanafi di Kukang/ Palembang. Shi Chin Qing ini juga sangat besar jasanya dalam penumpasan Bajak Laut Chen Tsu Yi.

Setelah itu mereka juga singgah ke Bandar-bandar besar Nuswantara saat itu seperti Kuala Tungkal dan Riau.

Silaturahmi ke Malaka

Ketika bersilaturahmi ke Bandar Malaka, rombongan Cheng Ho disambut baik oleh Prameshwara/ Sultan Iskandar Syah. Oleh Prameshwara rombongan diperkenankan bertempat tinggal di sebuah bukit. Sampai sekarang bukit itu dinamakan Bukit China.
Raja Bandar Malaka berterimakasih kepada Cheng Ho atas berhentinya upeti kepada Raja Siyam. Untuk itu dibuat sebuah Prasasti Cheng Ho di Bandar Malaka.

1407 : Prameshwara Malaka/Sultan Iskandarsyah Bersilaturrahmi ke Kanton

Prameswara Malaka/Sultan Iskandarsyah ikut ke Tiongkok untuk bersilaturahmi. Beliau disertai oleh 540 orang pengiringnya. Di Kanton beliau disambut oleh Haji Ha Shoui dan berkenan tinggal beberapa lama di Kanton.

Sepulang dari Kanton, beliau Sultan Malaka Iskandarsyah, mendirikan pangkalan armada laut Islam di Malaka .

1408 : Kunjungan II Cheng Ho ke Majapahit/Nuswantara

Armada Cheng Ho mendirikan masjid-masjid dan kantor-kantor dagang di Semarang, Sembung/Cirebon, dan Ancol/Sunda Kelapa (Kelak menjadi Jayakarta/Batavia/Jakarta). Setelah itu mereka menuju ke Seilon (Srilanka) dan Kalikut/ India.

1409 : Kunjungan III Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara

1413 : Kunjungan IV Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara
  1. Armada Cheng Ho membawa 63 kapal
  2. Setelah singgah di Nuswantara, Cheng Ho meneruskan perjalanannya ke Teluk Aden
  3. Menyumbang satwa liar untuk kebun binatang Sultan Burma/ Chempa.
  4. Armada Laksamana Sayyid Haji Muhammad Cheng Ho singgah selama 1 bulan di Semarang untuk perbaikan kapal. Masjid Tionghoa Hanafi Semarang sering kali digunakan untuk shalat berjamaah. Antara lain juga oleh Sayyid Ma Hwang dan Haji Feh Tsin.

1414 : Sultan Muhammad Syah bertahta di Malaka

Sultan Iskandar Syah wafat di tahun ini. Kemudian putra beliau diangkat menjadi penggantinya, bergelar Sultan Muhammad Syah. Selama satu setengah abad Malaka menjaga perairan Nuswantara/Majapahit. Sultan-sultan berikutnya adalah Sultan Mudhafar Syah, sultan Mansyur Syah.

Laksamana Hang Tuah

Muncul tokoh bernama Hang Tuah terkenal sebagai pelaut Malaka yang gagah berani. Dialah senopati laut armada Malaka yang setia menjaga selat Malaka. Penjaga gerbang laut Nuswantara ini pernah berkunjung ke pusat Majapahit di Jawa Timur.

Keadaan kerta raharja atau tentram, aman dan sejahtera ini terus bertahan hingga nanti masuknya Armada Portugis tahun 1511.

1416 : Berdirinya kota Demak Bintara

Demak Bintara semula berupa area hutan Danalaya. Kemudian oleh para wali, ulama, kyahi Jawa mulai dibuka dalam rangka mempersiapkan armada sabilillah laut Jawa menghadapi berbagai perubahan konstelasi dunia saat itu.

1416 : Kunjungan V Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara

Pada silaturahmi ini Cheng Ho melalui Haji Bong Tak Keng mengutus Haji Gan Eng Cu untuk menangani Komunitas China Muslim Hanafi di Manila (Mannallah), Filipina. Pada saat bertugas di Mannallah/Manila/Filipina ini, lahirlah putri beliau yang kemudian disebut Nyahi Ageng Manila.

1419 : Laksamana Haji Kung Wu Ping Wafat

Haji Bong Tak Keng bertugas di Campa, menangani Komunitas Cina Muslim Hanafi. Salah satu pembesar Cheng Ho, Laksamana Haji Kung Wu Ping wafat di Ancol, Jayakarta/Batavia/Jakarta. Beliau dimakamkan di Masjid Ancol yang didirikan oleh Cheng Ho .

1421 : Kunjungan VI Cheng Ho ke Majapahit/ Nuswantara
  1. Armada Cheng Ho membawa 41 kapal besar
  2. Haji Gan Eng Cu dipindahkan dari Mannallah/Manila Filipina ke Tuban. Beliau memboyong seluruh keluarganya termasuk Nyahi Ageng Manila. Di sana beliau diangkat menjadi Kapitan China Muslim di Tuban. Beliau bergelar Adipati Tuban Arya Teja I.
  3. Majapahit juga mengangkat dua orang duta besar bernama Sayyid Haji Ma Hong Fu dan Haji Bong Tak Keng (anak mantu dan mertua). Mereka mukim di Majapahit Timur (Tumapel).

1424-1449 : Sayyid Haji Muhammad Hong Fu (Ma Hong Fu) menjadi Duta Besar Muslim Ming di Tumapel (Majapahit Timur)

Sayyid Haji Muhammad Hong Fu dibantu oleh saudaranya Sayyid Haji Muhammad Yung Long. Ma Yung Long adalah penulisdan sekaligus “kurir� sehingga sering kali bepergian bolak-balik Majapahit-Peking/ China.

Sayyid Haji Ma Hong Fu adalah putra dari Sayyid Panglima Perang Yunnan. Beliau juga adalah menantu Haji Bong Tak Keng yang juga mukim di Tumapel, Majapahit Timur.

Insight: 1424-1425 :
Kaisar IV Ming : Hsung Tsi Berkuasa Selama 1 Tahun di China

Kaisar III Ming: Yung Lo wafat tahun 1424. Beliau diganti oleh putra beliau: Hsung Tsi. Kaisar ini sangattidak menyukai Cheng Ho, sehingga ekspedisinya tertahan selama beberapa waktu. Namun beliau hanya berkuasa selama setahun.

1425-1436 : Kaisar V Ming: Hsuan Te/ Hsun Tung Berkuasa Selama 11 Tahun di China
Kaisar IV Ming Hsung Tsi wafat tahun 1425. Beliau digantikan putranya: Hsuan Te. Beliau berkuasa selama 11 tahun.


1429: Wikrama Wardhana lengser keprabon (wafat?)

1429-1447 : Prabhustri Suhita memerintah Majapahit selama 17 tahun
  1. Dinobatkan demi persatuan Majapahit. Bergelar Prabhustri Suhita. Catatan Muhammad Yung Long/ Ma Yung Long menyebut beliau ini sebagai Raja Su Keng Ta, jadi bukan Prabuistri.
  2. Memerintah Majapahit selama 17 tahun dengan dibantu oleh saudara lelakinya: Kertawijaya. Ia adalah salah seorang putra dari Wikrama Wardhana juga.

1430 : Kunjungan VII (terakhir) Cheng Ho ke Nuswantara/ Majapahit
  1. Saat itu Cheng Ho sudah berusia 60 tahun. Beliau membuat sebuah prasasti di Fukien yang berisi kisah perjalannya sebanyak 7 kali dan mengunjungi 30 negeri.
  2. Armada beliau membawa 36 kapal besar, 20.000 orang pasukan, dan ratusan jung/ kapal kecil. Negeri-negeri yang dikunjungi untuk bersilaturahmi antara lain Sailon, Kalkuta, Arabia, Parsi, Aden, Madagaskar, Ormuz, Aden, dan Mogadhisu. Perjalanan pulang, armada ini singgah dulu di berbagai kota di Nuswantara/ Majapahit seperti Malaka, Siam, Champa, Kalimantan dan pulau Jawa.

1432 : Cheng Ho Membantu Prabhuistri Suhita menyatukan Majapahit Timur (Tumapel) dan Majapahit Barat (Bhreng Daha)

Tumapel (Majapahit Timur) akhirnya menyatukan diri dengan Bhreng Daha (Majapahit Barat). Hal ini bisa terjadi karena Suhita adalah putri Wikrama Wardhana dari salah satu istri beliau. Ibu Suhita (Istri Wikrama Wardhana) ini ternyata adalah putri dari Wirabhumi, iparnya. Karenanya darah Wikrama Wardhana dan Wirabhumi menyatu kembali pada diri Prabuistri Suhita.

Laksamana Muhammad Cheng Ho terlibat langsung pada peristiwa ini. Beliau dibantu oleh R. Arya Teja I (Bupati Tuban/ Haji Gan Eng Cu). Setelah peritiwa itu saudara R. Arya Teja I/ Haji Gan Eng Cu yang bernama Haji Gan Eng Wan (bergelar R. Arya Suganda), ditugaskan untuk menjadi Adipati Tumapel.

1432 : dari Maret-Juli, Armada Cheng Ho berlabuh di Surabaya

Rupanya ini adalah silaturahmi terakhir Laksamana Sayyid Haji Muhammad Cheng Ho. Sepulang dari Majapahit, beliau wafat di kampung kelahirannya Kun Ming, Tiong Kok. Kamunitas Muslim China Hanafi Semarang melaksanakan shalat ghaib di Masjid Sam Poo Kong.

1447-1451 : Prabu Kertawijaya memerintah Majapahit selama 4 tahun
  1. Prabuistri Suhita wafat di tahun ini. Penggantinya adalah Prabu Kertawijaya yang masih saudara tiri Suhita. Beliau juga putra Wikrama Wardhana.
  2. Setelah Suhita dinobatkan menjadi raja Majapahit demi perdamaian negeri, Kertawijaya membantu pemerintahan tersebut. Ketika Suhita wafat, Kertawijaya dinobatkan menjadi raja berikutnya.
  3. Namun karena sudah termasuk tua, beliau hanya sebentar (4 tahun) memerintah Majapahit.
  4. Ia bergelar Wijaya Parakrama Wardhana

1448 : Haji Gang Eng Wan (bergelar R. Arya Suganda) wafat di Tumapel

1448 : Sunan Gunung Jati Lahir

1451-1453 : Sri Rajasawardhana/ Bhre Pamotan memerintah Majapahit selama 2 tahun
  1. Bhre Pamotan yang bergelar Shri Rajasawardhana adalah masih putra dari Wikrama Wardhana. Jadi ia adalah masih saudara seayah Prabhustri Suhita dan Kertawijaya/ Wijaya Parakrama Wardhana.
  2. Sebelum menjadi raja, beliau membantu kedua saudaranya dalam memerintah Majapahit. Namun Bhre Pamotan juga sudah sangat tua, sehingga hanya 2 tahun memerintah Majapahit. Pada tahun 1453 ia meninggal dunia.
  3. Bhre Pamotan/ Rajasa Wardhana berputra Bhre Kertabhumi (kelak Bhrawijaya V). Namun karena terdapat masa vacuum Majapahit, ia akhirnya tidak bertahta, mungkin karena ia masih sangat kecil.

KESULTANAN MAJAPAHIT 3

DARI CANDRA SENGKALA “ILANG SIRNA KERTANING BHUMI� (1478)
HINGGA
ARMADA SABILILLAH DEMAK (1521)

1466-1474 : Bhre Pandan Salas/ Singha Wikrama Wardhana memerintah Majapahit Barat di Bhreng Daha selama 8 tahun

Bhre Pandan Salas bergelar Prabu Singha Wikrama Wardhana. Putranya bernama Rana Wijaya dipersiapkan menggantikan tahtanya. Beliau memerintah Majapahit Barat berpusat di Bhreng Daha (Kediri).

1466M/1388 Saka : (Dwi Naga Salira Wani) Masjid Demak Bintara Mulai Dibangun
  1. Panglima Demak Bintara pertama adalah Syah Alam Akbar I, yang ketika masih muda bernama Ruhuddin (Raden) Fatah atau Raden Kasan, memiliki nama Tionghoa Pangeran Jin Bun. Ia adalah putra dari Bhrawijaya V/Bhre Kertabhumi + Gusti Ayu Andarawati (Putri Cempa), yakni seorang putri dari wilayah kerajaan Islam Majapahit di Cempa.
  2. Candra sengkala ini terdapat di pintu utama masjid Demak. Angka tahun ini besar kemungkinan menunjukkan tahun awal pendirian masjid Demak.
  3. Kyai Ageng Sela pada awal pembangunan masjid Demak “memegang� petir di halaman Masjid Demak. Beliau melakukan hal itu di hadapan wali-wali lainnya. Peristiwa ini kemudian abadikan sebagai ornamen pintu utama masjid. Peristiwa ini merupakan pertanda mulai dibangunnya Demak Bintara.
  4. Kyahi Ageng Sela bernama Sayyid Abdurrahman adalah putra Kyahi Ageng Sayyid Getas Pendawa (Kyahi Ageng Tarub III), cucu dari Kyahi Ageng Tarub II (Kyahi Ageng Sayyid Bondhan Kejawan) + Dewi Nawangsari

Bhre Kertabhumi Maneges

Bhre Kertabhumi manages. Beliau berkelana dan berguru kepada Sunan Ngampel di Ngampel Denta , Surabaya.

Bhre Kertabhumi Menjadi Adik Ipar Sunan Ngampel

Di Ngampel Denta Bhre Kertabhumi dinikahkan dengan Gusti Ayu Andarawati Al Akbar. Gusti Ayu Andarawati Al Akbar adalah adik Sunan Ngampel atau R. Rakhmat Al Akbar. Beliau berdua adalah putra-putri Syekh Ibrahim Al Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja). Jadi silsilah beliau berdua adalah:

R. Rakhmat Al Akbar dan Gusti Ayu Andarawati Al Akbar bin/binti Syekh Ibrahim Al Akbar (Campa) bin Syekh Maulana Al Akbar (Gujarat, India).

Nama-nama Al Akbar-As Shaghir, Al Kubro-As Sughro, adalah nama-nama khas keturunan Imam Besar Ali bin Abithalib. Beliau adalah Amirul Mukminin, Khalifah Umat Islam seluruh dunia bertahta di Kuffah tahun 656-661M.

1468-1478 : Bhre Kertabhumi (Bhrawijaya V) menobatkan diri sebagai raja Majapahit Timur di Tumapel selama 10 tahun

Kertabumi menjadi raja Majapahit Timur dan berpusat di Kota Tumapel, bekas ibukota Majapahit Timur (di masa Wikrama Wardhana). Ia adalah putra Bhre Pamotan/Rajasa Wardhana, sebelum masa vakum pemerintahan Majapahit. Bhre Wirabhumi bergelar Sultan Bhrawijaya V. Beliau adalah cikal bakal raja-raja di Jawa. Memiliki banyak istri dan 117 anak.

1474-1519 : Rana Wijaya/Girindra Wardhana memerintah Majapahit Barat di Breng Daha selama 45 tahun

Beliau adalah Sunan Giri Sepuh/Prapen?

1478M/ 1400 Saka : Prapanca’s Ilang Sirna Kertaning Bhumi

Mpu Prapanca memperkirakan akan datangnya sebuah era keruntuhan Islam di seluruh dunia. Sesanti beliau berbunyi ilang sirna kertaning bhumi yang juga sebagai candra sengkala (penanda tahun oleh para pujangga jaman dahulu) sebagai 1400 tahun saka atau 1478 Masehi.

1478: Sultan Girindrawardhana Menyatukan Kembali Majapahit Barat-Timur

Tahun 1478, Sultan Girindrawardhana mempersatukan kembali Majapahit. Bhre Kertabhumi menyerahkan tahta Tumapel. Majapahit bersatu kembali dan diperintah Girindra Wardhana selama 41 tahun.

Sultan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) Berkelana

Setelah mengundurkan diri dari tahta Majapahit Timur di Tumapel, Sultan Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) melarikan diri/berkelana ke Barat. Beliau lalu mempersiapkan berdirinya Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara. Hal ini dilakukan demi menghalau masuknya Portugis ke Selat Malaka. Sebagaimana diramalkan oleh Ulama Besar Majapahit Mpu Prapanca.

Beliau mempersiapkan semua ini bersama-sama para wali tanah Jawa. Di samping itu juga melibatkan putra-putra beliau, antara lain:
  1. R. Fatah Al Akbar/P. Jimbun/Sayyid R. Bagus Kusen dari Ibunda Gusti Ayu Andarawati Al Akbar. Beliau adalah putra Sultan Bhrawijaya V yang kelak terpilih menjadi Panglima Perang Armada Sabilillah Lautan Majapahit. Gelarnya Syah Alam Akbar I.
  2. R. Harya Katong/Bethara Katong/P. Lembu Kanigara/R. Joko Piturun (Dari istri Nyahi Ageng Bagelen, dimakamkan di Bagelen, Purworejo). Beliau menjabat Adipati Majapahit di Ponorogo. Ulamanya Kyahi Ageng Mirah/Kyahi Ageng Muslim putra bin Kyahi Ageng Gribig , Jatinom (Klaten). Mereka dimakamkan di Ponorogo.
  3. R. Harya Gugur/P. Lembu Kenanga/R. Kudha Penoleh (juga dari istri Nyahi Ageng Bagelen ). Beliau menjabat Adipati Majapahit di Pamekasan, Madura.
  4. Kangjeng Ratu Pembayun, istri Kyahi Ageng Wuking I/ Sri Hamengkurung Handayaningrat yang menjabat sebagai Adipati Majapahit di Pengging . Makam beliau berada di Masaran, Butuh, Sragen.
  5. Pangeran Bondhan Kejawan/R. Lembu Peteng/Kyahi Ageng Tarub III. Makam beliau di Sela, Purwadadi.
  6. Pangeran Bondhan Surati, seperti kakaknya juga menjadi Kyahi Ageng Bondhan Surati. Makam beliau berada di wilayah Sada, Paliyan, Gunung Kidul.

1479M/1401 Saka: Candra Sengkala Penyu (Kura-kura) di Masjid Demak, berdirinya Masjid Demak Bintara
  1. Candra sengkala penyu di dinding pengimaman Masjid Demak ini menunjukkan tahun berdirinya masjid Demak Bintara. Kepala berarti angka 1, kakinya berjumlah empat berarti angka 4, badan penyu berarti angka 0, dan ekor penyu berarti angka 1. Jadi keseluruhan simbol tersebut berarti angka tahun 1401 Saka atau 1479 masehi.
  2. Masjid Demak Bintara didirikan oleh Wali Sanga. Teras masjid Demak ini merupakan pusaka dari Majapahit sebagai tanda restu dan legalitas Majapahit atas berdirinya Kerajaan Demak Bintara. Pusaka Majapahit tersebut berupa saka pendapa Majapahit Timur di Tumapel, yang diantarkan langsung oleh Prabu Brawijaya V dan putra beliau Pangeran Bondan Kejawan dan Pengeran Bondan Surati.
  3. Pangeran Bondan Kejawan ini mengundurkan diri sebagai penerus Brawijaya V, ia memilih hidup sebagai ulama-kyai bernama Kyahi Ageng Tarub III.
  4. Pangeran Bondan Surati juga menjadi Ulama-Kyahi diwilayah selatan Jawa.

1480(?) : Adipati Yunus Lahir

Adipati Yunus lahir. Beliau adalah putra R. Muhammad Yunus (Wong Agung Jepara, adipati Majapahit di Jepara) + putri Pembesar Majapahit. Nama beliau sesungguhnya adalah R. Abdul Qadir Al Idrus. Silsilahnya adalah sebagai berikut:
R. Abdul Qadir Al Idrus bin R. Muhammad Yunus Al Idrus bin Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) bin Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam.
Ayah Pati Unus adalah R. Muhammad Yunus Al Idrus seorang Bupati Majapahit di Jepara. Beliau bergelar Wong Agung Jepara.
Imam Besar Hadramawt Syekh Muhammad Al Faqih Al Muqaddam, leluhur Pati Unus adalah seorang Ulama besar sangat terkenal di abad 12-13 M yang merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad, Sayyidus Syuhada Imam Husayn (Qaddasallohu Sirruhu) putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra.

1481: Syah Alam AkbarI Dinobatkan

Senapati Sarjawala di Demak Bintara yang pertama adalah Syah Alam Akbar I, yang ketika masih muda bernama Ruhuddin (Raden) Fatah atau Raden Kasan. Beliau memiliki nama Tionghoa Pangeran Jin Bun. Ia adalah putra dari Bhrawijaya V/Bhre Kertabhumi + Gusti Ayu Andarawati (Putri Cempa), yakni seorang putri dari wilayah kerajaan Islam Majapahit di Cempa.

A. Ong Tien (Putri Ming Hong Ki) datang ke Cirebon

Putri Kaisar Ming Hong Ki yakni putri Ong Tien datang ke Cirebon. Beliau dikirimkan ayahandanya untuk bergabung dengan Sunan Gunung Jati. Putri Ong Tien akhirnya menjadi istri Sunan Gunung Jati. Pernikahn inisekaligus menjadi lambang dukungan Kaisar Ming terhadap Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala.

Sebagai cenderamata kepada S. Gunung Jati, Kaisar Ming menghadiahkan nama China untuk beliau yakni Tan Beng Hoat. Di samping itu beliau dihadiahi sepasang dipan yang terbuat dari batu Giok.

Sunan Gunung Jati ketika itu berusia 40 tahun. Istri beliau yang keturunan raja Sunda baru saja wafat. Beliau bernama Nyahi Ageng Pakungwati.

B. Sunan Gunung Jati dinobatkan Menjadi Imam Nuswantara

S. Gunung Jati dinobatkan menjadi Imam di Nuswantara. Beliau bergelar: Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala. Hal ini dilakukan Orang muslim Nuswantara untuk mengantisipasi runtuhnya wewenang Islam di Eropa dan Timur Tengah. Upacara ini dilakukan di Masjid Cipta Rasa, Cirebon.

1486: Putri Ong Tien Wafat

Istri Susuhunan Jati Khalifah Rasulullah Senapati Sarjawala, yakni Gusti Ayu Ong Tien, wafat. Beliau baru 5 tahun mendampingi sang Khalifah.

***

31 Maret 1492 : Runtuhnya Granada di Spanyol

Secara perlahan-lahan seluruh wilayah daulat Islamiyah di Spanyol -yang sebelumnya dikuasai Dinasti Ummayah- menyerahkan diri kepada Ratu Isabella (Spanyol) dan Raja Ferdinand (Portugis).

1 April 1492 : Dekrit Alhambra

“April Mop�, Jum'at Wage, 1 April 1492M, 23 Jumadilawal 1409, tahun Wawu, Windu Kuntara, 23 Jumadilawal 897H adalah hari diberlakukannya Dekrit Alhambra. Dekrit Alhambra yang ditandatangani oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, diberlakukan. Masjid Alhambra yang terbesar kedua di dunia, kemudian berubah fungsi menjadi gereja Katolik Kerajaan Spanyol.

Dengan berlakunya dekrit ini, seluruh dunia muslim (Islamistand) dianggap telah menjadi hak milik Spanyol dan Portugis. Islamistand dibagi menjadi dua wilayah, yakni Hindia Timur (Oost Indische) atau Nuswantara dan Hindia Barat (West Indische) atau benua Amerika sekarang.

Hal ini merupakan suatu pernyataan dari kaum Kolonial bahwa seluruh Islamistan secara legal-formal telah menjadi milik Spanyol dan Portugis. Raja Ferdinand segera menyiapkan Armada besar untuk menguasai Oost Indische/ Hindia Timur/ Nuswantara. Mereka menyandarkan hak mereka atas wilayah tersebut kepada Dekrit Alhambra ini.

Demikian halnya dengan Spanyol, mereka menyiapkan Armada yang dipimpin Christopher Colombus ke West Indische (Amerika).

Dekrit Alhambra

“The Kings Ferdinand and Isabella, by the grace of God, King and Queen of Castile, Leon, Aragon and other dominions of the crown - to the prince Juan, to dukes, marquees, counts, the holy orders, priors, knight commanders, lords of the castles, cavaliers, and to all Jews, men and women of whatever age, and to anyone else this letter may concern - that health and grace be unto them. It is well known that in our dominion, there are certain bad Christians that became 'Judaized' and committed apostasy against our Holy Catholic faith, much of it the cause of interactions between Jews and Christians. Therefore, in the year 1480, we ordered that the Jews be separated from the cities and towns in our domains and that they be given separate sectors, hoping that with such separation the situation would be remedied, and we ordered that the Inquisition be established in such domains; and at the end of twelve years it has worked and the Inquisition has found many guilty persons. Furthermore we are informed by the Inquisition and others of the great harm that persists to the Christians as they interact with the Jews, and in turn these Jews try by all manners to subvert our Holy Catholic faith and are trying to prevent faithful Christians to grow close to their beliefs.

These Jews have instructed these Christians in the ceremonies and observances of their laws, circumcising their children, and giving them books with which to pray, and declaring unto them the days of fasting, and meeting with them to teach them the histories of their laws, notifying them when to expect the celebration of Passover and how to observe it, giving them the unleavened bread and ceremonially prepared meats, and instructing them in things from which they must abstain, both with regard to food items and other things requiring observance of the laws of Moses, making them fully understand that there is no other law or truth outside of this. And this is made clear based on the confessions from such Jews as well as those perverted by them that it has resulted in great damage and detriment of our Holy Catholic faith.

And since we knew the true remedy of such damages and difficulties lay in the interfering of all communications between the said Jews and the Christians and sending them forth from all our dominions, we sought to content ourselves with ordering the said Jews from all the cities and villages and places of Andalusia where it appeared that they had done the most damage, and believing that this would suffice so that those and other cities and villages and places in our reigns and holdings would be effective and would cease to commit the aforesaid. And because we have been informed that neither this, neither is the case nor the justices done for some of the said Jews found very culpable in the said crimes and transgressions against our Holy Catholic faith have been a complete remedy to obviate and to correct such opprobrium and offense. And to the Christian faith and religion it appears every day that the said Jews increase in continuing their evil and harmful purposes wherever they reside and converse; and because there is no place left whereby to more offend our holy faith, as much as those which God has protected to this day as in those already affected, it is left for this Holy Mother Church to mend and reduce the matter to its previous state, due to the frailty of the human being, it could occur that we could succumb to the diabolical temptation that continually combats us, therefore, if this be the principal cause, the said Jews if not converted must be expelled from the kingdom.

Because when a grave and detestable crime is committed by some members of a given group it is reasonable that the group be dissolved or annihilated, and the minors by the majors will be punished one by the other; and those who permit the good and honest in the cities and the villages, and by their contact may harm others, must be expelled from the group of peoples, and despite minor reasons, will be harmful to the Republic, and all the more so for the majority of these crimes, would be dangerous and contagious. Therefore, the Council of eminent men and cavaliers of our reign and of other persons of knowledge and conscience of our Supreme Council, and after much deliberation, it is agreed and resolved that all Jews and Jewesses be ordered to leave our kingdoms and that they not be allowed to ever return.

We further order in this edict that all Jews and Jewesses of whatever age that reside in our domain and territories leave with their sons and daughters, servants and relatives large or small, of all ages, by the end of July of this year, and that they dare not return to our lands and that they do not take a step across, such that if any Jew who does not accept this edict is found in our kingdom and domains or returns will be sentenced to death and confiscation of all their belongings.

We further order that no person in our kingdom, notwithstanding social status, including nobles, that hide or keep or defend any Jew or Jewess, be it publicly or secretly, from the end of July and following months, in their homes or elsewhere in our reign, risking as punishment loss of all their fiefs and fortresses, privileges and hereditary rights.

So be it that the Jews may dispose of their households and belongings in the given time period, for the present we provide our compromise of protection and security so that by the end of the month of July they may sell and exchange their belongings and furniture and any other item, and dispose of them freely per their assessment, that during said time no one is to do them harm or injury or injustice to their persons or to their goods, which would be unjustified, and those who would transgress this shall incur the punishment that befalls those who violate our royal security. We grant and give permission to the above mentioned Jews and Jewesses to take with them and out of our reigns their goods and belongings, by sea or by land, excepting gold and silver or minted money or any other item prohibited by the laws of the kingdom. Therefore, we order all councils, magistrates, cavaliers, shield-bearers, officials, good men of the city of Burgos and of other cities and villages of our kingdom and dominions, and all our vassals and subjects, that they observe and comply with this letter and all that is contained in it, and that they give all the type of help and favor necessary for its execution, subject to punishment by our sovereign grace and by confiscation of all their goods and offices for our royal house. And so that this may come to the notice of all, and that no one may pretend ignorance, we order that this edict be proclaimed in all the plazas and meeting places of all cities and in the major cities and villages of the diocese, that it be done by the town crier in the presence of the public scribe, and that no one nor anybody do the contrary of what has been defined, subject to the punishment by our sovereign grace and annulation of their offices and confiscation of their goods to whosoever does the contrary. And we order that it be evidenced and proven to the court with signed testimony specifying the manner in which the edict has been carried out.

Given in this city of Granada the thirty first day of March in the year of our Lord Jesus Christ 1492. Signed, I, the King, I the Queen, and Juan de Coloma, Secretary of the King and Queen who has written it by order of our Majesties.�

1493 : Perjanjian Caetera Antara Potugis dan Spanyol

1494 : Perjanjian Tor de Silas Antara Portugis dan Spanyol

1500 : R. Abdul Qadir Al Akbar Al Idrus (Adipati Yunus) Menikah dengan Gusti Ayu binti Al Fatah Al Akbar

Pada usia 20 tahun, Adipati Yunus menikah dengan Gusti Ayu putri binti P. Fatah Al Akbar. P. Fatah juga memiliki darah Champa/China dari ibunya Ratu Ayu Andarawati istri Brawijaya V dan Arya Damar (sebagai garwa triman). Dari pernikahan ini mendapat dua orang putra gagah berani. Yang pertama sebut saja Cucu R. Fatah (belum diperoleh keterangan) dan yang kedua dikenal sebagai Sayyid R. Abdullah Al Idrus.

Setelah pernikahan ini beliau diangkat menjadi Adipati Majapahit di Jepara (meneruskan ayahnya: R. Muhammad Yunus, Wong Agung Jepara).

1506 : Pelayaran I Christophorus Colombus
  1. Christophorus Colombus mantan terpidana mati di Spanyol ditugaskan Ratu Isabela untuk berlayar melintasi lautan Pasifik menuju ke daratan Amerika, atau disebut juga sebagai Hindia Barat. Amerika kemudian menjadi tempat pembuangan bagi para narapidana dari Spanyol.
  2. Perjanjian Tor de Silas
  3. Pelayaran Vasco de Gama
  4. Pelayaran Alburqurque
  5. Pelayaran Magelhans

***

1509 : Benteng Mataram Islam Kotagedhe berdiri
  1. Benteng Mataram Kotagedhe didirikan ketika Demak Bintara baru 36 tahun berdiri. Pemrakarsanya Kyai Ageng Sela (Sayyid Abdurrahman) dan putranya Kyai Ageng Anis/ Henis/Ngenis dari Grobogan, Boyolali. Kyai Ageng Henis dimakamkan di Makam Pajang Laweyan, belakang Masjid peninggalan Pajang di Laweyan, Solo. Sedangkan makam Nyai Ageng Henis dimakamkan di tengah langgar/mushala pusaka Kerajaan Islam Mataram Kotagedhe.
  2. Di lingkungan Benteng Mataram Kotagede sudah tinggal keluarga Pangeran Jayaprana (keturunan Majapahit) dan keluarga Kyai Ageng Mangir.
  3. Peristiwa dan situs ini menjadi penanda bagi sistem petanda bahwa Kerajaan Islam Mataram telah dipersiapkan 77 tahun sebelumnya oleh para raja, wali, ulama, dan kyai di tanah Jawa.
  4. Hal ini terjadi karena para leluhur tanah Jawa telah mempersiapkan sebuah benteng pertahanan Islam di pesisir selatan pulau Jawa.
  5. Panembahan Senapati kelak dinobatkan menjadi Panglima Perang di area pertahanan ini tahun 1586M (77 tahun kemudian).

1510-1547 Sultan Daeng Matanre bertahta di Gowa-Tallo, Sulawesi Selatan selama 37 tahun

Sultan Daeng Matanre menyatukan seluruh kekuatan di Sulawesi Selatan menjadi satu kekuatan Gowa-Tallo. Peristiwa ini menjadi penting terkait dengan dukungan ahli-ahli pembuat kapal kayu dalam mempersiapkan 375 unit kapal untuk Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara.

1511 : Malaka Jatuh ke Tangan Portugis
  1. Kerajaan Malaka penjaga selat Malaka, dikuasai Portugis. Selat malaka adalah pintu masuk pintu masuk Armada Kolonial ke Nuswantara.
  2. Adipati Yunus Al Idrus dinikahkan dengan Putri Ayu binti Sunan Gunung Jati Al Athas. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai seorang putra gagah berani yang gugur syahid di medan perang Malaka.
  3. Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah Al Athas juga keturunan China dari Dinasti Ming Islam, sehingga memiliki nama China sebagai Tan Eng Hoat.
Catatan:
Secara probabilistik di Nuswantara Majapahit terbentuk wajah-wajah kombinasi Parsi-China.

Adipati Yunus Diangkat Menjadi Senapati Sarjawala

Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah Al Athas sebagai sesepuh para waliyullah mengangkat Adipati Yunus sebagai Senapati Sarjawala. Beliau menjadi Panglima Tertinggi Armada Sabilillah Majapahit. Armada ini merupakan gabungan dari Demak-Banten-Cirebon. Markas besarnya adalah di Pelabuhan Armada Laut Majapahit Demak Bintara.

1512 : P. Pandanaran Hijrah ke Selatan
  1. Pangeran Adipati Majapahit di Pandanarang I, hijrah dari pesisir utara (Semarang) ke pesisir selatan (Tembayat, Klaten). Di Tembayat beliau bergelar Sunan Tembayat/ Sunan Pandanarang/ Risang Guru Hyang Wisnumurti.
  2. Beliau hijrah bersama istrinya dan dikawal oleh Syeh Dumba.

1512: Kerajaan Samudra Pasai Jatuh ke Tangan Portugis

Salah satu penjaga selat Malaka yakni Kerajaan Samudra Pasai jatuh ke tangan Portugis. Putra Mahkota kerajaan bernama Tubagus Pasai/Fatahillah/Faletehan/Faltehan melarikan diri ke Demak dan bergabung dengan Armada Laut Sabilillah. Kelak beliau ini menggantikan posisi Adipati Yunus.

Jatuhnya Malaka dan Pasai ke Portugis merupakan ancaman bagi keindahandan ketentraman hidup di Nuswantara yang muslim sejak dahulu kala. Apalagi Portugis membawa Naskah Alhambra (1492), Caetera (1493), dan Tor de Sillas (1494). Ini berarti awal dari sebuah penguasaan atas seluruh tanah Hindia Timur atau Nuswantara oleh Armada Kolonial/ Portugis.
Dengan demikian ramalan Prapanca terbukti. Bahwa Nuswantara yang tata titi tentrem kerta raharja dan gemah ripah loh jinawi akan segera sirna. Akan segera berganti dengan jaman Kalabendu, yakni jaman penguasaan Armada Kolonial di seluruh dunia muslim. Ilang sirna kertaning bhumi.

Maka untuk menghalau mahapralaya ini tidak ada kemungkinan lain kecuali melawannya dengan perang suci, perang sabilillah. Para wali di tanah Jawa dan seluruh Nuswantara kemudian bersatu dan seia sekata untuk maju kemedan laga. Sesepuh untuk peperangan sabilillah Nuswantara ini adalah Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah/Sayyid R. Tan Eng Hoat. Seorang ulama keturunan Parsi-China dan berdarah keturunan Nabi Muhammad SAW.

Tomi Pires (mata-mata Portugis) masuk ke Tuban

Pengelana dan mata-mata Portugis bernama Tomi Pires datang keTuban. Ia datang satu abad setelah Gan Eng Cu menulis tentang kekagumannya di Tuban.

1513 : Ekspedisi Pengintaian Dikirim ke Malaka

Sunan Gunung Jati mengirim sepasukan pengintai yang bertugas menembus Benteng Portugis di Malaka. Pasukan ini kembali ke Demak Bintara dan melaporkan betapa dahsyatnya persiapan dan kesiapan Armada Laut Kolonial Portugis. Tak ada jalan lain bagi Armada Laut Majapahit Nuswantara, selain melakukan persiapan secepatnya secara besar-besaran.

Armada Majapahit Nuswantara segera menghubungi saudaranya yang berada di Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka adalah para “sayyid Bugis� jago-jago maritim yang terkenal ke seluruh dunia. Mereka menguasai area maritime yang sangat luas dari Formosa/ Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Maluku hingga ke Australia. Para sayyid Bugis ini dikenal sebagai Penguasa Lautan di Benua Timur.

Dengan bantuan dari sesama “sayyid�/ keturunan Rasulullah SAW di Gowa, maka Armada Sabilillah Laut Majapahit membangun 375 buah kapal dengan ukuran besar.
Di samping itu di daratan, terjadi persiapan dan penataan para wali, ulama, dan kyahi demi menghadapi kemungkinan terburuk dari mahapralaya ini. Bala bencana akan segera datang sebagai air bah dan badai yang dahsyat. Tak mungkin melawannya dan takmungkin membendungnya, seakan sudah menjadi ketetapan Ilahi. Maka yang bisa dilakukan kaum muslimin hanya memohon pertolongan Allah SWT belaka.

Sejak saat itu maka seluruh Nuswantara/ Majapahit hanya memiliki satu tekad yakni melaksanakan perang suci, sabilillah. Tak ada jalan lain. Kolonialisme adalah sebuah takdir yang harus diterima kaum Muslimin dunia, termasuk yang hadup di Nuswantara/ Majapahit. Sudah 1000 tahun sejak Rasulullah SAW masih hidup, kaum muslimin menjadi Tuan bagi ummat manusia, sayyidul ummah. Di atas hamparan geografis yang maha luas, meliputi seluruh dunia. Dan melaksanakan perang suci, sabilillah menjadi satu-satunya kewajiban dan pilihan yang bisa dilakukan kaum muslimin saat itu. Hanya dengan ini saja cara kaum muslimin bertahan.

Maka sejak Kyahi Ageng Prapanca menyatakan sabdanya ilang sirna kertaning bhumi, menandakan akan terjadinya sebuah perubahan. Perubahan besar pada jaman dan dunia tempat manusia menggantungkan hidupnya. Tak mungkin manusia menghindari. Sunan Kalijaga berpesan dalam hal ini, manuta mili playuning banyu, nanging ywa kongsi keli. Ikutilah arus perubahan jaman itu, namun jangan sampai hanyut. Sebuah pilihan yang sulit.

1513 : Sultan Daeng Matanre Membangun Kapal-kapal Armada Sabilillah

Para ahli teknologi maritim dari Gowa-Tallo sejak 1513 mulai membuat kapal-kapal laut untuk Armada Laut Sabilillah Nuswantara/ Majapahit. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Armada Sabilillah Laut Majapahit di Demak Bintara benar-benar sebuah Armada Kesatuan seluruh Nuswantara. Bukan hanya Demak-Banten-Cirebon (di P. Jawa) yang bersatu, namun juga Gowa-Tallo berikut seluruh sekutunya di seluruh Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Australia.

Sementara yang bela adalah Kekuatan Islam di Sumatera Utara. Terutama Kerajaan Malaka dan Pasai sebagai penjaga arus masuknya kapal layar ke Nuswantara dari Selat Malaka.

1521 : Perang Sabilillah Melawan Kumpeni Portugis di Selat Malaka

Demak Bintara: Syah Alam Al Akbar II/Adipati Unus/P. Sabrang Lor/Senapati Sarjawala menghadang Portugis di Selat Malaka. Peristiwa ini disebut sebagai ekspedisi Sabrang Lor, terjadi peperangan selama 3 hari 3 malam. Armada Kolonial Kumpeni Portugis saat itu sudah menguasai Malaka dan Pasai.

Penguasaan Portugis terhadap wilayah raja Malaka dan Pasai merupakan langkah awal bagi mereka dalam melaksanakan 3 Naskah (Dekrit Alhambra, Caetera, dan Tor de Sillas) di perairan Nuswantara.

Meskipun tidak diakhiri dengan perjanjian dengan Pihak Portugis di Selat Malaka, namun Perang Besar Sabilillah di Selat Malaka ini menjelaskan mengapa Kumpeni Portugis kemudian mengarahkan ekspedisinya ke Indonesia Timur seperti Manado, Ambon, dan Maluku. Kumpeni Portugis mengurungkan niatnya memasuki Jawa.

Para syuhada yang gugur syahid pada Sabilillah ini adalah Adipati Yunus sendiri, berikut dua orang putra beliau. Satu cucu dari R. Fatah dan satunya lagi cucu dari Sunan Gunung Jati. Panglima sementara dipegang oleh R. Hidayat sampai seluruh Armada Sabilillah Majapahit kembali ke Jawa.
  1. Demak Bintara: Syah Alam III (Raden Trenggana) menghadang Portugis di Selat Malaka, bersama-sama dengan Cirebon dan Banten. Mobilisasi ini sekaligus mengakhiri kepemimpinan Demak Bintara, karena penerus Trenggana (Sunan Prawata) memilih menjadi ulama-kyahi dari pada menjadi putra mahkota Demak.
  2. Putra Trenggana (Raden Prawata) mengundurkan diri sebagai calon pengganti Sultan Syah Alam III. Beliau menjadi ulama-kyai bergelar Batara Guru/ Sunan Prawata. Sunan Prawata beristrikan Ratu Kalinyamat.
  3. Sunan Prawata tewas dibunuh Arya Penangsang. Istrinya (Ratu Kalinyamat) didampingi 2 orang saudarinya (sebut saja Putri Penderek Kalinyamat 1 dan 2) melakukan munajat/bertapa, menuntut balas kematian Sunan Prawata.
  4. Ratu Kalinyamat bertemu Danang Sutawijaya (kelak menjadi Panembahan Senapati). Danang Sutawijaya berjanji akan menuntutkan balas kepada Arya Penangsang.
  5. Arya Penangsang mengundurkan diri dari menghendaki tahta Demak dan Pajang dan wafat sebagai kyai bergelar Seda Lepen. Makamnya terdapat di Kadilangu dan Kaliwungu.
  6. Sebagai rasa terima kasih, Ratu Kalinyamat mengawinkan Danang Sutawijaya dengan Putri Penderek Kalinyamat 1 dan 2. Dari perkawinannya dengan mereka, Danang Sutawijaya dikaruniai seorang putera yang kelak sangat sakti mandraguna bernama Raden Rangga.

1. Terjadi eksodus para sunan, wali, dan kyahi dari pesisir utara ke pesisir selatan. Peristiwa ini menunjukkan terjadinya perpindahan pusat pemerintahan dalam menghadapi kolonialisme dari Demak ke Mataram. Kerajaan Pajang sebagai pengantara saja.
2. Sultan Hadiwijaya (Raja Pajang) mempersiapkan berdirinya Mataram dengan menugaskan Tiga Serangkai: Kyai Ageng Pemanahan, Panembahan Senapati, dan Kyai JuruMartani.
3. Sultan Hadiwijaya bertahta di Pajang didampingi penasihat Kyai Ageng Singaprana II.


***

1515 : Belanda menjadi Negara Bagian (Jajahan) Spanyol

Kerajaan Belanda menjadi jajahan Kerajaan Spanyol di bawah duli Ratu Isabela. Kerajaan Spanyol waktu itu baru 19 tahun menguasai Andalusia. Dalam masa ini maskapai dagang orang-orang Belanda ikut meramaikan wilayah jajahan Spanyol termasuk Nuswantara.

1518 : R. Fatah Al Akbar/P. Jin Bun Wafat

Panglima Tertinggi Armada Sabilillah Laut Pertama, yakni Raden Fatah/Pangeran Jin Bun/Raden Bagus Kasan, bergelar Syah Alam Al Akbar I, wafat. Sunan Gunung Jati dan Armada Sabilillah harus memilih pemimpin baru. Mereka harus mengangkat kembali seseorang yang telah dipersiapkan Allah SWT untuk memimpin Armada Sabilillah Laut Majapahit ini. Seseorang yang akan memagku amanat dan bergelar Syah Alam Al Akbar II (tsaniy).

Sebelum wafat, R. Bagus Kasan berwasiat supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Adipati Demak Bintara berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Sayyid R. Abdul Qadir bin Yunus Al Akbar Al Idrus, Adipati Majapahit di Jepara. Beliau menjadi Syah Alam Al Akbar II atau AtsTsaniy.

1519-1521 : Rana Wijaya/Prabu Girindra Wardhana Raja Majapahit wafat

1537 : Sunan Pandanarang wafat di Tembayat, Wedi, Klaten
  1. Sunan Pandanaran/ Sunan Tembayat (ketika masih di Semarang bernama Pangeran Adipati (Majapahit) di Pandanarang I) wafat di Tembayat, Wedi, Klaten.
  2. Beliau wafat setelah mukim 25 tahun di sana. Metode syiar Islamnya disebut sebagai anjala wukir kamulyanta. Artinya, menjaring para kesatriya (arab: mujahid) yang hidup dalam kemulyaan dan keluhuran budi pekerti. Kelak Sultan Agung Hanyakrakusuma memindah makam beliau ke puncak bukit Tembayat tahun 1633, demi memuliakan beliau. Dan membangun candi “bla-bla?� sebagai pintu-pintu gerbang menuju Makam Sunan Tembayat.
  3. Juga bergelar Risang Guru Hyang Wisnumurti, artinya Sang juru dakwah/ ulama yang mengajarkan perihal keutamaan Rasulullah SAW.

1542 : Candi Sukuh berdiri

Candi Sukuh berdiri di lereng Lawu, Sukaharja. Candi ini dipersembahkan untuk Sultan Brawijaya V dari putra beliau Syah Alam Al Akbar I (Pangeran Jimbun/ R. Fatah/ Sayyid Raden Bagus Kusen Al Akbar) di Demak Bintara. Hal ini bisa dilihat dari lambang penyu/ kura-kura yang menjadi simbul utama candi. Simbul penyu’ kura-kura ini merupakan simbol Demak Bintara (terdapat di dinding pengimaman Masjid Demak).

Candi ini sebagaimana raja-raja Majapahit sebelumnya (misal, Candi Tigawangi dan Wanacala di Kedhiri), digunakan untuk menyepi dan tahanuts. Hal ini ditandai dengan relief Sudamala (artinya pertobatan, pensucian diri dari kehidupan dunia).

1544: Mata-mata Portugis Antonio de Paiva dari Malaka menyusup ke Gowa-Tallo

1549: Sunan Prawata wafat
  1. Sunan Prawata adalah sultan ke IV Demak Bintara. Ia bergelar Sultan Syah Alam IV. Ia adalah adik Sultan Syah Alam III/ Raden Trenggana.
  2. Permaisurinya adalah Ratu Kalinyamat. Selir-selirnya antara lain adalah Putri Semangkin dan Putri Prihatin.
  3. Sunan Prawata wafat dibunuh Arya Penangsang, yang menuntut tahta Kesultanan Demak Bintara.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silaturahmi

Mengenai Saya

Foto saya
Orang Jawa, Islam yang nJawani, yang senantiasa berusaha saling asah, asih dan asuh serta hidup berdampingan dengan siapa saja secara damai tanpa saling mengganggu