Jumat, 21 Januari 2011

KETEGASAN MELAKSANAKAN HUKUM ZINA

Berikut ada sebuah kisah yang menyayat hati yang menimpa keluarga Khalifah Sayidina Umar ra. disajikan setelah diedit sesuai Bahasa Indonesia, dirujuk dari web Jabatan Mufti Negara Brunei Darus Salam. Semoga ada manfaatnya.

http://www.brunet. bn/gov/mufti/ alhadaf/sept98/ h_hukum.htm

KETEGASAN MELAKSANAKAN HUKUM ZINA

Khalifah Sayidina Umar ibnu Khattab terkenal dengan ketegasannya dalam menjalankan hukum-hukum Allah. Karena ketegasannya itulah, orang merasa segan dan hormat kepadanya. Sayidina Umar mempunyai beberapa orang anak laki-laki, di antaranya ialah Abdul Rahman bin Umar. Ia juga terkenal dengan panggilan Abu Syahamah.

Suatu hari Abu Syahamah diuji oleh Allah dengan satu penyakit yang dideritanya selama kira-kira setahun. Berkat kesabaran dan usahanya akhirnya penyakit tersebut dapat disembuhkan. Sebagai ungkapan rasa syukur dan tanda gembira telah lulus dari ujian Allah ini, Abu Syahamah yang sudah lama tidak keluar rumah itu menghadiri majlis jamuan besar-besaran di sebuah rumah perkampungan Yahudi, dia dijemput kawan-kawannya yang juga terdiri dari kaum Yahudi. Abu Syahamah dan kawan-kawannya berpesta sehingga lupa kepada larangan Allah dengan meminum khamr sehingga mabuk.

Dalam keadaan mabuk itu, Abu Syahamah pulang melintasi pagar kaum Bani Najjar. Dia melihat seorang perempuan Bani Najjar sedang berbaring, lalu mendekatinya dengan maksud untuk memperkosa. Apabila perempuan itu mengetahuinya dia berniat untuk melarikan diri namun dia tidak mampu mengelak dari cakaran yang mengenai muka dan mengoyakkan baju Abu Syahamah. Malangnya sang korban tidak berdaya dan berupaya menahan Abu Syahamah yang sudah dikuasai oleh syaitan. Akhirnya terjadilah perkosaan tersebut.

Akibat perkosaan tersebut perempuan itu hamil. Setelah sampai masanya, anak yang dikandung oleh perempuan itu pun lahir, lalu dibawa ke Masjid Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk menghadap Amirul Mukminin dengan tujuan mengadukan perihal kejadian yang menimpa dirinya. Kebetulan yang menjabat posisi khalifah pada waktu itu adalah Sayidina Umar ibnu Khattab dari sang pelaku pemerkosaan.

"Wahai Amirul Mukminin, ambillah anak ini karena engkaulah yang lebih bertanggungjawab untuk memeliharanya daripada aku."

Mendengar pernyataan tersebut, Sayidina Umar merasa terkejut dan heran. Perempuan itu berkata lagi: "Anak bayi ini adalah keturunan darah daging anak tuan yang bernama Abu Syahamah." Sayidina Umar bertanya: "Dengan jalan halal atau haram?"

Perempuan itu dengan berani menjawab: "Ya Amirul Mukminin, Demi Allah yang nyawaku di tangan-Nya, anak ini tentu saja halal dan terlahir suci, namun karena melalui perkosaan oleh serorang pria yang bernama Abu Syahamah, maka anak ini haram."

Sayidina Umar semakin kebingungan dan tidak faham maksud perempuan Bani Najjar ini lalu menyuruh perempuan ini berterus terang.

Perempuan itu pun menceritakan kepada Sayidina Umar peristiwa yang menimpa dirinya sehingga melahirkan anak itu. Sayidina Umar mendengar pengakuan perempuan itu sehingga meneteskan air mata. Kemudian Sayidina Umar menegaskan: "Wahai perempuan jariyah (jariyah adalah panggilan budak perempuan bagi orang Arab), ceritakanlah perkara yang sebenarnya supaya aku dapat menghukum perkara kamu ini dengan sebenar-benarnya dan seadil-adilnya."

Perempuan itu menjawab: "Ya Amirul Mukminin, penjelasan apa lagi yang tuan kehendaki dari aku? Demi Allah!, Sesungguhnya aku tidak berdusta dan aku sanggup bersumpah di hadapan mushaf al-Qur'an."

Lalu Sayyidina Umar mengambil mushaf al-Qur'an dan perempuan itu pun bersumpah mulai surah al-Baqarah hingga surah Yassiin. Kemudian dengan tegas mengatakan, "Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya anak ini adalah dari darah daging anakmu Abu Syahamah." Kemudian Sayidina Umar berkata: "Wahai jariyah! Demi Allah engkau telah berkata benar." Kemudian beliau berpaling kepada para sahabat, katanya, "Wahai sekalian sahabat Rasulullah, aku berharap kamu semua tetap di sini sehingga aku kembali."

Tak lama kemudian Sayidina Umar datang lagi sambil membawa uang dan kain untuk diberikan kepada perempuan malang itu: "Wahai jariyah, ambillah uang sebanyak tiga puluh dinar dan sepuluh helai kain ini dan halalkanlah perbuatan anakku terhadapmu di dunia ini dan jika masih ada lagi baginya, maka ambillah sewaktu berhadapan dengan Allah nanti." Perempuan itu pun mengambil uang dan kain yang diberikan oleh Sayidina Umar lalu pulang ke rumah bersama-sama dengan anaknya.

Setelah perempuan itu pulang Sayidina Umar berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Wahai sekalian sahabat Rasulullah, tetaplah kamu di sini sehingga aku kembali."

Sayidina Umar terus pergi menemui anaknya Abu Syahamah yang ketika itu sedang menghadapi hidangan makanan. Setelah mengucap salam dia pun berkata: "Wahai anakku, mendekatlah padaku dan marilah kita makan bersama-sama. Tidak kusangka, hari ini merupakan kesempatan terakhir kita berjumpa di dunia."

Mendengar perkataan ayahnya itu, Abu Syahamah terkejut sambil berkata, "Wahai ayahku, siapakah yang memberitahu bahwa hari ini adalah hari terakhir kita berjumpa di dunia? Bukankah wahyu itu sudah putus setelah wafatnya Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam."

Kata Sayidina Umar: "Wahai anakku, berkata benarlah sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Dia tidak dapat dilihat dengan pandangan mata dan Dialah Maha Luas Penglihatan-Nya." Sambung Sayidina Umar lagi: "Masih ingatkah engkau, hari ketika engkau pergi ke suatu majlis di perkampungan Yahudi dan mereka telah memberikan kamu minum arak/khamr sehingga kamu mabuk? Kemudian dalam keadaan mabuk kamu pulang melintasi perkampungan Bani Najjar di mana engkau bertemu dengan seorang perempuan lalu memperkosanya? Berkata benarlah anakku, kalau tidak engkau akan binasa."

Abu Syahamah mendengar kenyataan yang diucapakan ayahnya itu dengan perasaan malu sambil diam membisu. Dengan perlahan dia mengakui: "Memang benar aku lakukan hal itu, tapi aku telah menyesal atas perbuatanku itu."

Sayidina Umar menegaskan: "Tidak ada gunanya bagimu menyesal setelah berbuat sesuatu yang merugikan. Sesungguhnya engkau adalah anak Amirul Mukminin tidak ada seorang pun yang berkuasa mengambil tindakan atas dirimu, tetapi engkau telah mempermalukan aku di hadapan sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam."

Kemudian Sayidina Umar memegang tangan Abu Syahamah lalu membawa ke tempat para sahabat yang sudah sekian lama menunggu.

"Mengapa ayahanda melakukan ini?" Tanya Abu Syahamah.

"Karena aku ingin menunaikan hak Allah ketika di dunia supaya aku dapat lepas dari tuntutan di akhirat kelak," jawab Sayidina Umar dengan tegas.

Abu Syahamah dengan cemas merayu: "Wahai ayahandaku, aku mohon dengan nama Allah, tunaikanlah hak Allah itu di tempat ini saja, jangan permalukan aku di hadapan sahabat Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam."

Jawab Sayidina Umar: "Engkau telah membuat malu dirimu sendiri dan engkau telah menjatuhkan nama baik ayahmu."

Setelah sampai di hadapan para sahabat mereka pun bertanya: "Siapakah di belakangmu wahai Amirul Mukminin?" Jawab Sayidina Umar: "Wahai sahabatku, sesungguhnya di belakangku ini adalah anakku sendiri dan dia telah mengakui segala perbuatannya, benarlah perempuan yang menyampaikan khabar tadi."

Kemudian Sayidina Umar memerintah budaknya (hambanya): "Wahai Muflih, pukullah anakku Abu Syahamah, dengan rotan sampai dia merasa sakit, jangan kasihani dia, setelah itu kamu aku merdekakan karena Allah."

Muflih agak keberatan untuk melakukannya kerana khawatir tindakannya itu akan memberi mudharat kepada Abu Syahamah, tetapi terpaksa mengalah apabila diperintah oleh Sayidina Umar. Tatkala dia memukul Abu Syahamah sebanyak sepuluh kali, terdengarlah teriakan sakit Abu Syahamah: "Wahai ayahandaku, rasanya seperti api yang menyala pada jasadku."

Jawab Sayidina Umar: "Wahai anakku, jasad ayahmu ini terasa lebih panas dari jasadmu."

Kemudian Sayidina Umar memerintah Muflih memukul sebanyak sepuluh rotan lagi. Berkata Abu Syahamah: "Wahai ayahandaku, tinggalkanlah aku supaya aku dapat mengambil sedikit kesenangan."

Jawab sayidina Umar: "Seandainya ahli neraka dapat menuntut kesenangan, maka aku pasti akan berikan kepadamu kesenangan."

Setelah itu Sayidina Umar menyuruh Muflih memukul Abu Syahamah sebanyak sepuluh rotan lagi. Abu Syahamah merayu: "Wahai ayahandaku aku mohon kepadamu dengan nama Allah, tinggalkanlah aku supaya aku dapat bertaubat."

Jawab Sayidina Umar dengan pilu: "Wahai anandaku, apabila selesai aku menjalankan hak Allah, jika engkau hendak bertaubat pun maka bertaubatlah dan jika engkau hendak melakukan dosa itu lagi pun maka lakukanlah dan engkau akan dipukul sperti ini lagi."

Selanjutnya Sayidina Umar menyuruh Muflih memukul Abu Syahamah sebanyak sepuluh kali sebatan lagi.

Abu Syahamah terus merayu: "Wahai ayahandaku, dengan nama Allah aku mohon kepadamu berilah aku minum seteguk air."

Sayidina Umar menjawab dengan tegas: "Wahai anandaku, seandainya ahli neraka dapat meminta air untuk diminum, maka aku akan berikan padamu air minum."

Perintah Sayidina Umar diteruskan dengan meminta Muflih memukul lagi sebanyak sepuluh rotan. Abu Syahamah mohon dia dikasihani: "Wahai ayahandaku, dengan nama Allah aku mohon kepadamu kasihanilah aku."

Sayidina Umar dengan sayu menjawab: "Wahai anakku, kalau aku mengasihani kamu di dunia, maka engkau tidak akan dikasihani di akhirat."

Sayidina Umar selanjutnya memerintahkan Muflih memukul lagi sebanyak sepuluh kali pukulan, Abu Syahamah dengan nada yang lemah berkata: "Wahai ayahandaku, tak kasihankah ayahanda melihat keadaan aku begini sebelum aku mati?"

Sayidina Umar menjawab: "Wahai anakandaku, aku akan heran kepadamu sekiranya engkau masih hidup dan jika engkau mati kita akan berjumpa di akhirat nanti."

Sayidina Umar terus memerintahkan Muflih memukulkan rotan lagi sebanyak sepuluh rkali. Dalam keadaan semakin lemah Abu Syahamah berkata; "Wahai ayahandaku, rasanya seperti sudah sampai ajalku....."

Sayidina Umar dengan perasaan sedih berkata: "Wahai anandaku, jika engkau bertemu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sampaikan salamku kepadanya, katakan bahwa ayahandamu memukul dirimu sehingga kau mati."

Di saat yang semakin kritis ini Sayidina Umar terus menyuruh Abu Muflih memukul lagi sebanyak sepuluh kali rotan. Setelah itu Abu Syahamah dengan kondisi yang semakin lemah berusaha memohon simpati kepada para hadirin: "Wahai sekalian sahabat Rasulullah, mengapa kamu tidak meminta pada ayahandaku supaya memaafkan aku saja?"

Kemudian salah seorang sahabat pun menghampiri Sayidina Umar dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, hentikanlah pukulan atas anakmu itu dan kasihanilah dia."

Sayidina Umar dengan tegas berkata: "Wahai sekalian sahabat Rasulullah, apakah kamu tidak membaca ayat Allah dalam surah an-Nuur ayat 2 yang tafsirnya: "Jangan kamu dipengaruhi belas kasih pada keduanya dalam menjalankan hukum Allah." Mendengar penjelasan Sayidina Umar itu, sahabat Rasulullahpun diam tidak membantah, sementara itu Sayidina Umar terus memerintah Muflih memukul sepuluh pukulan lagi. Akhirnya Abu Syahamah mengangkat kepala dan mengucapkan salam dengan suara yang sangat kuat sebagai salam perpisahan yang tidak akan berjumpa lagi sehingga hari kiamat.

Kemudian berkata Sayidina Umar: "Wahai Muflih, pukullah lagi sebagai penuntasan hak Allah." Muflih pun meneruskan pukulan untuk ke seratus kalinya.

"Wahai Muflih, cukuplah pukulanmu itu," perintah Sayidina Umar apabila melihat anaknya tidak bergerak lagi. Setelah itu Sayidina Umar mengisytiharkan: "Wahai sekalian umat Islam, bahwasannya anakku Abu Syahamah telah pergi menemui Allah." Mendengar pengumuman itu ramailah umat Islam datang ke masjid sehingga masjid menjadi sesak. Ada di antara mereka sedih dan terharu, malah ramai yang menangis melihat peristiwa tersebut.

Menurut sumber lain, dari Kitab Sirah Umar bin al-Khattab al-Khalifatul Rasyid umumnya masyarakat berpendapat kematian Abu Syahamah adalah disebabkan oleh pukulan rotan ayahnya sendiri Sayidina Umar Radhiyallah 'Anhu. Setelah selesai jenazah Abu Syahamah dikebumikan, pada malamnya Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi Wasallam yang wajah baginda seperti bulan purnama, berpakaian putih manakala Abu Syahamah duduk di hadapan baginda dengan berpakaian hijau. Setelah itu Rasululah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata: "Wahai anak bapak saudaraku, sampaikan salamku pada Umar dan beritahu kerpadanya bahwa Allah telah membalas setiap kebajikannya karena tidak mengabaikan hak Allah dan suatu kebahagiaan baginya sebab Allah telah menyediakan baginya beberapa mahligai dan beberapa bilik di dalam Jannatun Na'im. Bahwa sesungguhnya Abu Syahamah telah sampai pada tingkatan orang-orang yang benar di sisi Allah Yang Maha Kuasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silaturahmi

Mengenai Saya

Foto saya
Orang Jawa, Islam yang nJawani, yang senantiasa berusaha saling asah, asih dan asuh serta hidup berdampingan dengan siapa saja secara damai tanpa saling mengganggu