Sabtu, 06 Agustus 2011

DETIK-DETIK MENUJU PERANG BADAR

DETIK-DETIK MENUJU PERANG BADAR

oleh Ibnu Taimiyyah pada 29 Juli 2011 jam 2:25

Perang badar, termasuk perang yang diabadikan oleh al-Qur'an, biasa disebut “yaumul taqol jam’aani” karena selain menjadi perang pertama umat islam dengan kaum musyrik makah, juga menjadi bukti kebesaran islam dengan kemenangan gemilang dalam perang tersebut sehingga Rosul menjamin para veteran badar dengan syurga, menjamin tidak ada dalam dada mereka kenifaqan, anugerah yang sangat besar.

Akan tetapi, di sela-sela keagungan perang badar, penganut kristen melalui tangan-tangan orientalist tempoe doeloe, seperti golhizer dll, telah memanipulasi suatu bentuk PERANG, menjadi bentuk PENJARAHAN yang penuh kesan negatif dan destruktif.

Note ini mencoba menguak kembali detik-detik menuju peperangan gemilang tersebut dengan memperhatikan sumber-sumber primer, memberikan sedikit ulasan singkat, sehingga menampilkan sejarah APA ADANYA.

Adapun sumber-sumber diambil dari kitab-kitab:

  • Shirah nabawiyyah à Ibnu Hisyam
  • Shirah Nabawiyyah à Ibnu Ishaq
  • Kitab al-Maghazy à al-Waqidy
  • ‘Uyuunul AtsAr fie Funuunil Maghazy was Samaa’il was Siar à Ibnu Sayyidin Naas
  • Fiqh Shirah à Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy

Karena itu, sebelum menuju detik-detik sejarah tersebut, ada baiknya kita mengkaji kembali aktivitas nabi pada awal-awal kedatangan beliau ke MADINAH.

  1. Hal pertama yang dilakukan Nabi setelah datang ke yatsrib/madinah, adalah mempersaudarakan antara Muslim Muhaajirin/yang hijrah dengan Muslim anshor/penduduk asli. Hal ini banyak termaktub dalam kitab2 sejarah, seperti Ibnu Ishaq, ibnu Hisyam dll.
  2. Selain itu demi menjaga kerukunan antar umat beragama, Nabi juga membuat suatu kesepakatan bersama dengan Yahudi, yang dikenal dengan PIAGAM MADINAH

الرسول يوادع اليهود وكتابه بين المسلمين: قال ابن إسحاق: وكتب رسول الله -صلى الله عليه وسلم- كتابًا بين المهاجرين والأنصار، وادع فيه يهود وعاهدهم، وأقرَّهم على دينهم وأموالهم، وشرط لهم، واشترط عليهم:

بسم الله الرحمن الرحيم، هذا كتاب من محمد النبي -صلى الله عليه وسلم- بين المؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب، ومن تبعهم، فلحق بهم، وجاهد معهم، إنهم أمة واحدة من دون الناس، المهاجرون من قريش على رِبْعَتِهم يتعاقلون بينهم، وهم يَفدون عَانيهم1 بالمعروف والقِسط بين المؤمنين. وبنو عوف على رِبْعتهم يتعاقلون معاقِلَهم2 الأولى، كل طائفة تَفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين. وبنو ساعدة على رِبْعَتهم يتعاقلون معاقلَهم الأولى وكل طائفة منهم تَفْدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين، وبنو الحارث على رِبْعتهم يتعاقلون معاقلَهم الأولى، وكل طائفة تَفدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين، وبنو جُشَم على رِبْعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى، وكل طائفة منهم تَفْدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين، وبنو النجار على رِبْعَتهم يتعاقلون معاقلَهم الأولى، وكل طائفة منهم تَفْدِي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين، وبنو عَمْرو بن عَوْف على رِبْعَتهم يتعاقلون معاقلَهم الأولى، وكل طائفة تَفْدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين، وبنو النَّبِيت على رِبْعتهم يتعاقلون معاقلَهم الأولى، وكل طائفة تَفْدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين، وبنو الأوْس على رِبْعتهم يتعاقلون معاقلهم الأولى، وكل طائفة منهم تفْدي عانيها بالمعروف والقسط بين المؤمنين، وإن المؤمنين لا يتركون مُفْرَحًا بينهم أن يُعطوه بالمعروف في فِداء أو عقل.

Karena terlalu panjang, berikut saya kutip saja esensi piagam tersebut, bersumber pada FIQHU AS-SIRAH; Dirosah Manhajiyyah, ‘Ilmiyyah, karangan Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi

ISI PIAGAM MADINAH

  1. Ummat Islam, baik dari Quraish, Madinah maupun kabilah lain adalah SATU UMAT
  2. Semua umat Islam, dari kabilah mana saja, harus membayar diyat (denda) orang yang terbunuh di antara mereka dan menebus tawanan mereka sendiri dengan cara yang adil antar sesama umat Islam
  3. Umat Islam harus membantu siapa saja di antara mereka yang tidak mampu membayar hutang atau denda
  4. Umat Islam yang bertaqwa akan menindak siapa saja yang berbuat kezhaliman, kejahatan, permusuhan dan perusakan
  5. Seorang Mu’min tidak boleh membunuh orang Mu’min lainnya karena membunuh seorang Kafir. Seorang Mu’min tidak boleh membantu orang kafir untuk memerangi mu’min lainnya
  6. Jaminan Allah adalah satu; Dia melindungi orang-orang yang lemah atas orang-orang yang kuat. Orang mu’min saling menolong antara mereka dalam menghadapi gangguan Pihak lain
  7. Setiap mu’min wajib mengakui berlakunya perjanjian sebagaimana termaktub dalam naskah, jika ia benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir niscaya ia tidak akan memberikan pertolongan dan perlindungan kepada orang yang berbuat kejahatan. Apabila ia menolong dan melindungi orang yang berbuat jahat maka ia terkena laknat dan murka Allah pada hari kiamat.
  8. Di saat menghadapi peperangan, orang-orang Yahudi turut memikul biaya bersama-sama umat Islam.
  9. Orang2 Yahudi dari bani ‘auf dipandang sebagai bagian dari kaum Mu’minin. Kaum yahudi tetap pada agama mereka dan kaum muslimin juga tetap pada agamanya, kecuali orang yang berbuat kezhaliman dan kejahatan maka dia telah membinasakan diri dan keluarganya sendiri
  10. Baik umat Islam maupun kaum Yahudi, masing-masing memikul bebannya sendiri dalam melaksanakan kewajiban memberikan pertolongan secara timbal balik dalam melawan pihak lain yang memerangi salah satu pihak yang terkait dalam perjanjian ini.
  11. Jika terjadi pertentangan atau perselisihan yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan maka perkaranya dikembalikan kepada Allah dan Muhammad Rosulullah.
  12. Setiap orang dijamin keselamatannya untuk meninggalkan atau tetap di Madinah, kecuali (pencekalan/penangkalan) atas orang-orang yang berbuat kezaliman dan kejahatan.
  13. Sesungguhnya Allah lah yang akan melindungi pihak yang berbuat kebajikan dan taqwa

  1. Selain itu, Nabi juga melakukan beberapa Pakta Perdamaian dengan daerah-daerah sekitar Madinah.
    1. Pakta Perdamaian dengan suku Yahudi Madinah sebegaiamana di atas
    2. Pakta perdamaian dengan daerah sekitar; Bani dhamrah, Bani mudlij serta para sekutunya

  • Benturan Pertama; PERANG WADDAN

Ibnu Hisyam merekam sejarah terjadinya perang pertama ini dalam kitab shirahnya;

غَزْوَةُ وَدّانَ

وَهِيَ أَوّلُ غَزَوَاتِهِ عليه الصلاة والسلام

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ : حَتّى بَلَغَ وَدّانَ ، وَهِيَ غَزْوَةُ الْأَبْوَاءِ ، يُرِيدُ قُرَيْشًا وَبَنِيّ ضَمْرَةَ بْنِ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ مَنَاةَ بْنِ كِنَانَةَ فَوَادَعَتْهُ فِيهَا بَنُو ضَمْرَةَ ، وَكَانَ الّذِي وَادَعَهُ مِنْهُمْ عَلَيْهِمْ مَخْشِيّ بْنُ عَمْرٍو الضّمَرِيّ ، وَكَانَ سَيّدَهُمْ فِي زَمَانِهِ ذَلِكَ . ثُمّ رَجَعَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ إلَى الْمَدِينَةِ ، وَلَمْ يَلْقَ كَيْدًا ، فَأَقَامَ بِهَا بَقِيّةَ صَفَرٍ وَصَدْرًا مِنْ شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوّلِ . قَالَ ابْنُ هِشَامٍ : وَهِيَ أَوّلُ غَزْوَةٍ غَزَاهَا

Perang wadan adalah perang pertama yang dialami Rosulullah.

Ibnu Hisyam berkata: dan Nabi menjadikan Sa’ad bin ‘ubadah sebagai penggantinya di Madinah

Ibnu Ishaq berkata: hingga ketika Nabi sampai di daerah Wadan, dan ia disebut juga Perang Abwa’ dengan sasaran (pasukan) quraish dan Banu dhomroh, bani Dhomroh bin Bakr bin ‘Abdi manat bin kinanah mengajak damai, yang bertindak selaku perwakilan mereka bernama Mahsyi bin ‘amr adh-dhomary, ia adalah pemimpin mereka di zamannya. kemudian nabi kembali ke madinah dengan tidak berperang, beliau tinggal di Madinah akhir bulan shofar hingga awal permulaan bulan robi’ul awwal.

KESIMPULAN: Hal ini menunjukan bahwa tujuan awal dari perang Wada/Abwa, sebenarnya adalah menjaga perbatasan dari infiltrasi pihak-pihak yang tidak senang terhadap negara baru open society based religy value ini.

Selain itu, pendekatan persuasif/perdamaian tampaknya menjadi solusi yang tebaik bagi daerah-derah tetangga bahkan termasuk terhadap pemerintahan Makah. Hal ini terbukti dengan pengajuan Pakta damai Bani Dhamrah walau sangat disayangkan (pasukan) Quraish tidak mau melakukan hal yang sama, padahal lalu lintas perdagangan mereka sangat bergantung dari teritorial negara Baru, Negara Madinah.

Nabi mengirim beberapa satuan (sariyyah) ke beberapa perbatasan makah-madinah.

  • Satuan haritsah bin abi malik

Ibnu ishaq dalam kitabnya sebagaimana dikutip Ibnu Hisyam menyatakan;

سَرِيّةُ عُبَيْدَةَ بْنِ الْحَارِثِ وَهِيَ أَوّلُ رَايَةٍ عَقَدَهَا عَلَيْهِ الصّلَا ةُ وَالسّلَامُ

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ : وَبَعَثَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فِي مُقَامِهِ ذَلِكَ بِالْمَدِينَةِ عُبَيْدَةَ بْنَ الْحَارِثِ بْنِ الْمُطّلِبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيّ فِي سِتّينَ أَوْ ثَمَانِينَ رَاكِبًا مِنْ الْمُهَاجِرِينَ لَيْسَ فِيهِمْ مِنْ الْأَنْصَارِ أَحَدٌ ، فَسَارَ حَتّى بَلَغَ مَاءً بِالْحِجَازِ بِأَسْفَلَ ثَنِيّةِ الْمُرّةِ ، فَلَقِيَ بِهَا جَمْعًا عَظِيمًا مِنْ قُرَيْشٍ ، فَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمْ قِتَالٌ إلّا أَنّ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقّاصٍ قَدْ رُمِيَ يَوْمَئِذٍ بِسَهْمٍ فَكَانَ أَوّلَ سَهْمٍ رُمِيَ بِهِ فِي الْإِسْلَامِ .

وَبَعْضُ الْعُلَمَاءِ يَزْعُمُ أَنّ رَسُولَ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ بَعَثَهُ حِينَ أَقْبَلَ مِنْ غَزْوَةِ الْأَبْوَاءِ ، قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إلَى الْمَدِينَةِ

Sariyyah ‘abdullah bin harits adalah royyah/bendera pertama yang nabi ikatkan

Ibnu ishaq berkata; Nabi mengutus ‘ubaidah bin harits bin muthollib bin ‘abdi manaf bin qushoy beserta 60 atau 80 pasukan berkuda dari muhajirin, dan tidak ada satu pun seorang anshor/penduduk muslim madinah. Kemudian mereka bergerak hingga mencapai sumur di hijaz di bawah daerah tsamaniyyah murroh. Mereka bertemu dengan sekelompok besar pasukan quraish, akan tetapi tidak terjadi perang di antara mereka, kecuali Sa’ad bin abi Waqosh melepaskan panah. Maka dialah orang pertama yang melepaskan panah dalam islam

Sebagian ‘ulama memperkirakan terjadinya pengiriman satuan tersebut adalah ketika nabi pulang dari perang abwa dan belum sampai Madinah.

Kesimpulan: TERNYATA SETELAH PERANG ABWA, PARA KUFFAR QURAISH TAMPAKNYA MEMPUNYAI STRATEGI LAIN UNTUK MENGHADAPI NABI DAN UMAT ISLAM MADINAH, INI TERBUKTI BAHWA SATUAN TERSEBUT BERTEMU DENGAN SEJUMLAH PASUKAN BESAR WALAU TIDAK TERJADI PEPERANGAN, KARENA PASUKAN KAFIR MAKKAH MENINGGALKAN POSISI.

  • Satuan Hamzah ke daerah Saifil Bahr

[ سَرِيّةُ حَمْزَةَ إلَى سَيْفِ الْبَحْرِ ]

وَبَعَثَ فِي مَقَامِهِ ذَلِكَ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطّلِبِ بْنِ هَاشِمٍ ، إلَى سَيْفِ الْبَحْرِ ، مِنْ نَاحِيَةِ الْعِيصِ ، فِي ثَلَاثِينَ رَاكِبًا مِنْ الْمُهَاجِرِينَ لَيْسَ فِيهِمْ مِنْ الْأَنْصَارِ أَحَدٌ . فَلَقِيَ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ بِذَلِك السّاحِلِ فِي ثَلَاثِ مِئَةِ رَاكِبٍ مِنْ أَهْلِ مَكّةَ . فَحَجَزَ بَيْنَهُمْ مَجْدِيّ بْنُ عَمْرٍو الْجُهَنِيّ . وَكَانَ مُوَادِعًا لِلْفَرِيقَيْنِ جَمِيعًا ، فَانْصَرَفَ بَعْضُ الْقَوْمِ عَنْ بَعْضٍ وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمْ قِتَالٌ .

وَبَعْضُ النّاسِ يَقُولُ كَانَتْ رَايَةُ حَمْزَةَ أَوّلَ رَايَةٍ عَقَدَهَا رَسُولُ اللّهِ لِأَحَدِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ . وَذَلِكَ أَنّ بَعْثَهُ وَبَعْثَ عُبَيْدَةَ كَانَا مَعًا

Kemudian Nabi mengutus Hamzah bin ‘Abdul Mutholib bin Hasyim ke saifil Bahr, di daerah ‘ish’. Dengan 30 pasukan kuda dari muhajirin dan tidak menyertakan seorangpun muslim asli madinah. Kemudian mereka bertemu dengan Abu Jahal bin Hisyam di pantai tersebut dengan 300 pasukan kuda Makah. Kemudian Majdi bin ‘Amr al-Juhani (yang terkait Perdamaian dengan kedua belah Pihak) menahan kedua pasukan tersebut, hingga terjadi perdamaian. Hingga kedua pasukan kembali tanpa peperangan.

Sebagian orang berpendapat bahwa bendera Hamzah adalah bendera pertama yang Nabi ikatkan. Hal ini karena pengiriman utusan Hamzah dan ‘Ubadah terjadi secara bersama-sama.

Kesimpulan : TELAH SANGAT TERLIHAT UPAYA KAFIR QURAISH UNTUK MENDESAK POSISI NEGARA MADINAH DENGAN MENGIRIM SATUAN-SATUAN KE DAERAH PERBATASAN DENGAN JUMLAH YANG CUKUP DIPERHITUNGKAN. SELAIN ITU PAKTA INI MENGGAMBARKAN BAHWA MEMANG SEBENARNYA PERANG BUKANLAH PILIHAN UTAMA UMAT ISLAM, WALAU TERNYATA SUDAH DUA KALI PIHAK QURAISH MEMPERSIAPKAN PASUKAN YANG CUKUP BESAR. BUKANKAH SEBAIKNYA KAFIR QURAISH MELAKUKAN PAKTA PERDAMAIAN SEBAGAIMANA DAERAH-DAERAH SEKITAR, MENGINGAT NILAI STRATEGIS MADINAH BAGI RUTE PERDAGANGAN MEREKA ??

  • Perang Buwath

[ غَزْوَةُ بُوَاطٍ ]

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ : ثُمّ غَزَا رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوّلِ يُرِيدُ قُرَيْشًا . : قَالَ ابْنُ هِشَامٍ : وَاسْتَعْمَلَ عَلَى الْمَدِينَةِ السّائِبَ بْنَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ . قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ : حَتّى بَلَغَ بُوَاطٍ ، مِنْ نَاحِيَةِ رَضْوَى ، ثُمّ رَجَعَ إلَى الْمَدِينَةِ وَلَمْ يَلْقَ كَيْدًا ، فَلَبِثَ بِهَا بَقِيّةَ شَهْرِ رَبِيعٍ الْآخَرِ وَبَعْضَ جُمَادَى الْأُولَى .

Perang Buwath

Ibnu Ishaq berkata: kemudian nabi berangkat untuk berperang dengan sasaran Quraish. Ibnu Hisyam berkata; Nabi menjadikan Sa’ib bin ‘Utman bin Mazh’un sebagai pengganti sementara di madinah. Ibnu Ishaq berkata: Hingga sampai di buwath di bilangan Rodhwa, kemudian pulang dengan tanpa pertempuran.

  • Perang ‘ASYIIROH

قال ابن إسحاق: في أثناء جمادى الأولى يعني من السنة الثانية ثم غزا قريشا حتى نزل العشيرة من بطن ينبع فأقام بها جمادى الأولى وليالي من جمادى الآخرة ووادع فيها بني مدلج وحلفاءهم من بني ضمرة

Ibnu Ishaq berkata: di pertengahan bulan Jumadil ‘Ula dari tahun ke 2, Nabi keluar dengan sasaran Quraish hingga sampai di ’Asyiirah di daerah Yanbu. Beliau tinggal di sana selama Jumadil ‘Awal dan beberapa malam dari Jumadil ‘Akhir dan melakukan Pakta Perdamaian dengan Bani Mudlij serta para sekutunya dari Bani Dhomroh.

KESIMPULAN: tampaknya penggunaan kata Keluar untuk perang adalah kesimpulan sepihak para penulis sejarah, hal ini dimaklumi karena nabi dengan rombongan keluar Madinah lengkap dengan pakaian perang, akan tetapi jika dikaji lebih jauh tampaknya kesimpulan subjektif para penulis sejarah perlu dikaji ulang, hal ini mengingat :

  1. Jumlah pasukan yang Nabi bawa sangat minim untuk dinyatakan sebuah pasukan tempur/perang
  2. Hampir tidak pernah terjadi peperangan pada masa-masa ini, justeru Nabi menerima dengan baik beberapa ajakan perdamaian daerah-daerah sekitar.
  3. Tampaknya, apa yang dilakukan Nabi dan satuan-satu tersebut, tidak lebih dari Ribath (menjaga/mengamankan teritorial terjauh/perbatasan suatu negara).
  4. Selain itu, tampaknya Nabi secara psiko-sosial sedang melakukan bargaining position terhadap kaum Quraish. Seakan2 Nabi ingin berkata :

Wahai kaum quraish, mintalah Pakta perdamaian sebagaimana kami telah melakukannya dengan daerah-daerah sekitar, karena KEPENTINGAN KALIAN TERHADAP KAMI (dalam hal rute perdagangan) LEBIH TINGGI KETIMBANG KEPENTINGAN KAMI TERHADAP KALIAN.

  • Perang Badar Pertama/Perang Safwaan

غزوة بدر الأولى: قال ابن إسحاق: فلم يقم رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة حين قدم من غزوة العشيرة إلا ليالي قلائل لا تبلغ العشر حتى أغار كرز بن جابر الفهري على سرح1 المدينة فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في طلبه حتى بلغ واديًا يقال له: سفوان من ناحية بدر، وفاته كرز بن جابر، فلم يدركه واستعمل على المدينة فيما قال ابن هشام زيد بن حارثة، وذكر ابن سعد أنها في ربيع الأول على رأس ثلاثة عشر شهرا من الهجرة

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

1 السرح: الإبل والمواشي التي تسرح للرعي

Ibnu Ishaq berkata: Nabi tidak tinggal di Madinah sejak kedatangan dari perang ‘Usyairah kecuali hanya beberapa malam tidak sampai 10 malam hingga Kurz bin Jabir al-Fiqry merampok Madinah dengan merampas sejumlah unta dan domba, maka Nabi keluar menlakukan pencarian hingga sampai di lembah yg disebut Safwaan di bilangan Badar. Ibnu Sa’ad menyebut itu terjadi di Robi’ul Awal 13 bulan setelah Hijrah.

KESIMPULAN: Tampaknya kejadian Kurz bin Jabir al-Fiqry semakin memanaskan hubungan bilateral antara negara Madinah dengan Quraish, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal;

  1. Pakta bahwa Quraish tidak melakukan penangkapan/hukuman terhadap kejahatan Kurz bin Jabir, ataupun ekstradisi ke Madinah menunjukan Quraish tidak mempunyai i’tikad menjalin hubungan bilateral yang baik dengan Madinah.
  2. Hal ini menghasilkan reaksi keras pihak Negara Madinah terhadap rute perdagangan Quraish sebagaimana selanjutnya
  3. Semua prolog ini berakhir di PERANG BADAR KUBRA nanti keep waching Hehee...

  • Sariyyah ‘Abdullah bin Jahsyi dan turunnya ayat (Mereka bertanya kepadamu tentang bulan2 Haram)

سَرِيّةُ عَبْدِ اللّهِ بْنِ جَحْشٍ وَنُزُولُ { يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشّهْرِ الْحَرَامِ }

وَبَعَثَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَبْدَ اللّهِ بْنَ جَحْشِ بْنِ رِئَابٍ الْأَسَدِيّ فِي رَجَبٍ مَقْفَلَهُ مِنْ بَدْرٍ الْأُولَى ، وَبَعَثَ مَعَهُ ثَمَانِيَةَ رَهْطٍ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ لَيْسَ فِيهِمْ مِنْ الْأَنْصَارِ أَحَدٌ

Nabi mengirim satuan ‘Abdullah bin Jahsyi bin Riab al-Asady di bulan Rajab sekembali dari Badar Pertama dan mengutus 80 rombongan dari Muhajirin tanpa seorang pun Anshor bersama ‘Abdullah bin Jahsyi.

[ تَخَلّفُ الْقَوْمِ بِمَعْدِنَ ]

وَسَلَكَ عَلَى الْحِجَازِ ، حَتّى إذَا كَانَ بِمَعْدِنَ فَوْقَ الْفُرُعِ ، يُقَالُ لَهُ بَحْرَانُ ، أَضَلّ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقّاصٍ ، وَعُتْبَةُ بْنُ غَزْوَانَ بَعِيرًا لَهُمَا ، كَانَا يَعْتَقِبَانِهِ . فَتَخَلّفَا عَلَيْهِ فِي طَلَبِهِ . وَمَضَى عَبْدُ اللّهِ بْنُ جَحْشٍ وَبَقِيّةُ أَصْحَابِهِ حَتّى نَزَلَ بِنَخْلَةَ فَمَرّتْ بِهِ عِيرٌ لِقُرَيْشِ تَحْمِلُ زَبِيبًا وَأَدَمًا ، وَتِجَارَةً مِنْ تِجَارَةِ قُرَيْشٍ ، فِيهَا عَمْرُو بْنُ الْحَضْرَمِيّ .

(anggota) Sariyyah tertinggal di daerah Ma’din

Mereka menempuh daerah hijaz, hingga sampai ma’din di atas daerah Furu’, disebut Bahraan, unta Sa’ad bin Abi Waqosh dan Utbah bin ghazwan tersesat hingga mereka mencari jejaknya, sehingga mereka berdua terpisah dari rombongan. ‘Abdullah bin Jahsyi meneruskan perjalanan hingga sampai di daerah Nakhlah, tepat saat kafilah Quraish membawa barang-barang yang dipimpin ‘Amr bin Hadhromy lewat.

وأقبل عبد الله بن جحش وأصحابه بالعير والأسيرين حتى قدموا على رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة.

فلما قدموا على رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "ما أمرتكم بقتال في الشهر الحرام"، فوقف العير والأسيرين وأبى أن يأخذ من ذلك شيئا فلما قال ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم سقط في أيدي القوم وظنوا أنهم قد هلكوا وعنفهم إخوانهم من المسلمين فيما صنعوا وقالت قريش إذا استحل محمد وأصحابه الشهر الحرام وسفكوا فيه الدم وأخذوا فيه الأموال وأسروا فيه الرجال

Kemudian ‘Abdullah bin Jahsyi membawa harta Pampasan perang beserta para tawanan lalu menghadap Nabi di Madinah.

Ketika mereka menghadap, Nabi berkata: “AKU TIDAK MEMERINTAHKAN KALIAN PERANG DI BULAN-BULAN HARAM” lalu nabi membiarkan saja hasil pampasan perang dan para tahanan dengan tidak mengambil sedikitpun, hal ini menyebabkan rasa bersalah dan mereka menyangka telah binasa karena hal ini, ditambah para saudara (mu’min) mereka menyalahkan tindakan ini. Quraish berkata: Kalau begitu, Muhammad dan teman-temannya menghalalkan bulan suci dengan mengadakan pertumpahan darah, mengambil harta dan menawan tawanan (di bulan haram ini) ??

فجعل الله عليهم ذلك لا لهم فلما أكثر الناس في ذلك أنزل الله تعالى: {يَسْأَلونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ}، ففرج الله عن المسلمين ما كانوا فيه

وقبض رسول الله صلى الله عليه وسلم العير والأسيرين وبعث إليه قريش في فداء عثمان بن عبد الله والحكم بن كيسان، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "لا نفديكما حتى يقدم صاحبانا"، يعني سعد بن أبي وقاص وعتبة بن غزوان، "فإنا نخشاكم عليهما فإن تقتلوهما نقتل صاحبيكم"، فقدم سعد وعتبة، فأفداهما رسول الله صلى الله عليه وسلم منهم، فأما الحكم بن كيسان فأسلم فحسن إسلامه وأقام عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ومات في بئر معونة شهيدا

Lalu Allah memberi kelonggaran atas sariyyah tersebut dengan menurunkan ayat (Mereka bertanya kepadamu tentang Bulan Haram) hal ini melegakan umat Muslim.

Kemudian nabi mengambil pampasan perang dan para tawanan lalu mengutus (dua tawanan) ‘Utsman bin ‘Abdullah dan Hakam bin Kisan, Nabi Bersabda: Kami tidak akan melepas tawanan dan pampasan perang hingga kalian melepaskan dua sahabat kami yaitu Sa’ad bin Abi Waqosh dan Utbah bin ghazwan. Karena kami lebih kawatir atas kejahatan kalian terhadap keduanya, jika kalian membunuh keduanya kami akan membunuh para tawanan perang. Kemudian Quraish melepaskan Sa’ad dan ‘Utbah, lalu Nabi pun melepas tawanan dan pampasan perang mereka. Adapun Hakam bin Kisan masuk Islam dan tinggal bersama Rosul dan wafat di sumur ma’unah sebagai syahid.

KESIMPULAN:

  1. Adanya tindak kejahatan dari pihak quraish semakin memicu Nabi untuk berjaga-jaga dan mengambil langkah2 penting jika dibutuhkan di perbatasan.
  2. Sebagai manusia yang sangat cerdas, Nabi nampaknya telah memperhitungkan bahwa satuan akan sampai tepat saat bulan-bulan haram, sehingga penyergapan ini hanya berfungsi sebagai alat pemaksa Quraish untuk melakukan Pakta perdamaian, walau ternyata ada sedikit kesalahan operasional di lapangan.
  3. Tertawannya sa’ad bin waqosh dan ‘Utbah bin ghazwan menunjukan memang Quraish telah menjadikan Negara Madinah sebagai Negara Musuh.
  4. Harta pampasan perang dan tawanan yang didapat satuan ‘Abdullah bin Jahsyi awalnya ditolak nabi, akan tetapi setelah turun ayat yang meringankan Nabi memberi opsi yang sangat baik, yaitu menjadikan itu semua sebagai alat perdamaian, yaitu Barter tawanan. Padahal posisi Nabi lebih menguntungkan, tampaknya memang bukan kemenangan materi yang diharapkan Nabi
  5. Dugaan Qurasih yang memfitnah nabi telah melakukan penghalalan di bulan haram ibarat ucapan yesus: Singkirkan dulu balok di mata mu sebelum kau melihat selembar kesalahan di mata orang lain.

Hal ini karena faktanya, mereka telah lebih dulu melakukan penawanan terhadap 2 Madinah. Selain itu kejahatan Quraish; merampas kebebasan beragama, mengusir penduduk, menghalangi dari memakmurkan masjid Haram, menghalangi manusia dari jalan Allah adalah kesalahan yang sangat besar ketimbang kejadian tersebut (Q.S. 2: 217)

  1. Masuk Islamnya Hakam bin Kisan, tampaknya ini terjadi setelah menyaksikan langsung bagaimana peradaban baru yang diciptakan Nabi saat menjadi tawanan, tentu hal yang tidak bisa dianggap enteng. SEORANG TAWANAN YANG JATUH CINTA TERHADAP PENAWANNYA.
  2. Akan tetapi Nabi walaupun lembut bukanlah seorang yang lemah, berbagai pakta seperti; acuhnya Quraish terhadap pakta perdamaian yang dibuat Nabi dengan berbagai daerah perbatasan, munculnya pasukan-pasukan Quraish di berbagai teritorial Madinah, perampokan Kurz bin Jabir al-Fiqry, manawan anggota satuan pasukan, akankah semua pakta ini dibiarkan begitu saja ??

TIDAK, jika hal ini dibiarkan maka negara baru (open society) Madinah hanya akan menjadi cita[cita, tampaknya Qurasih harus diberi pelajaran betapa penting dan strategisnya Negara Madinah bagi mereka.

Yah, Nabi mulai memikirkan satu cara yang efektif guna menyadarkan quraish untuk menjaga hubungan bilateral yang baik dengan Madinah.

Inilah saatnya. Detik-detik kisah yang mengagumkan.

Di mana kehendak Tuhan harus terlaksana demi tergenapinya sebuah nubuat dalam kitab-kitab kuno para Nabi.

  • Perang BADAR KUBRO

قال ابن إسحاق: ثم إن رسول الله صلى الله عليه وسلم سمع بأبي سفيان بن حرب مقبلا من الشام في عير لقريش عظيمة فيها أموال لقريش وتجارة من تجارتهم وفيها ثلاثون رجلا من قريش أو أربعون منهم مخرمة بن نوفل وعمرو بن العاص وقال ابن عقبة وابن عائذ في أصحاب أبي سفيان هم سبعون رجلا وكانت عيرهم ألف بعير

Ibnu Ishaq berkata: Kemudian Rosul mendengar bahwa Abu sofyan bin harb telah pulang dari syam dengan barang-barang dagangan yang sangat banyak, baik dari dana saham maupun barang-barang dagangan untuk Quraish dengan 30 atau 40 orang, di antaranya; Makhromah bin naufal dan ‘Amr bin ‘Ash. Sementara Ibnu ‘Uqbah dan ibnu A’id menyatakan bahwa mereka ada 70 orang dengan seribu onta.

Di sinilah kata-kata yang terkenal itu muncul;

لما سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم بأبي سفيان مقبلا من الشام ندب المسلمين إليهم وقال: هذه عير قريش فيها أموالهم فاخرجوا إليها لعل الله ينفلكموها فانتدب الناس فخف بعضهم وثقل بعضهم وذلك أنهم لم يظنوا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يلقى حربا.

ثُمّ قَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَشِيرُوا عَلَيّ أَيّهَا النّاس وَإِنّمَا يُرِيدُ الْأَنْصَارَ

فَلَمّا قَالَ ذَلِكَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ لَهُ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ : وَاَللّهِ لَكَأَنّك تُرِيدُنَا يَا رَسُولَ اللّهِ ؟ قَالَ أَجَلْ قَالَ فَقَدْ آمَنّا بِك وَصَدّقْنَاك ، وَشَهِدْنَا أَنّ مَا جِئْتَ بِهِ هُوَ الْحَقّ ، وَأَعْطَيْنَاك عَلَى ذَلِكَ عُهُودَنَا وَمَوَاثِيقَنَا ، عَلَى السّمْعِ وَالطّاعَةِ فَامْضِ يَا رَسُولَ اللّهِ لِمَا أَرَدْتَ فَنَحْنُ مَعَك ، فَوَاَلّذِي بَعَثَك بِالْحَقّ لَوْ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا الْبَحْرَ فَخُضْتَهُ لَخُضْنَاهُ مَعَك

وقال المقداد بن الأسود: يا رسول الله! امض لما أراك الله فنحن معك، والله لا نقول كما قالت بنو إسرائيل لموسى: {اذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ}، ولكن اذهب أنت وربك فقاتلا إنا معكما مقاتلون،

Ketika Nabi mendengar bahwa Abu Sofyan datang dari Syam, Nabi mengajak umat Islam dan berkata: INILAH KAFILAH QURAISH DENGAN HARTANYA, KELUARLAH KE SANA. MUDAH-MUDAHAN ALLAH MEMBERI PAMPASAN PERANG PADA KALIAN hal ini mengakibatkan pro kontra, sebagian khawatir dan merasa berat, hal ini karena mereka tidak pernah menyangka bahwa Nabi akan benar-benar mengajak pada PEPERANGAN.

Kemudian Nabi berkata: sampaikanlah pandangan kalian wahai manusia, yang dimaksud adalah Anshor.

Mendengar itu Sa’ad bin Mu’az berkata: Mungkin yang anda maksud kami wahai Rosulullah ?? Nabi berkata: benar. Sa’ad berkata: sungguh kami telah beriman dan membenarkanmu, dan kami menjadi saksi bahwa apa yang Kamu bawa adalah Kebenaran, dan kami telah memberimu perjanjian dan sumpah setia untuk mendengar dan taat. Maka laksanakanlah Rosulullah apa yang engkau inginkan kami akan selalu bersamamu. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, jika anda menghadapi lautan dan anda terjun ke dalamnya, niscaya kami pun akan terjun bersama anda.

Miqdad bin Aswad berkata: Wahai Rosulullah, laksanakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu, kami akan selalu bersamamu demi Allah kami tidak akan berkata sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa: Pergilah engkau dengan Tuhanmu dan berperanglah, kami akan (menunggu) duduk di sini. Akan tetapi pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamipun akan ikut berperang bersamamu.

[ رِسَالَةُ أَبِي سُفْيَانَ إلَى قُرَيْش ٍ ]

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ : وَلَمّا رَأَى أَبُو سُفْيَانَ أَنّهُ قَدْ أَحْرَزَ عِيرَهُ أَرْسَلَ إلَى قُرَيْشٍ : إنّكُمْ إنّمَا خَرَجْتُمْ لِتَمْنَعُوا عِيرَكُمْ وَرِجَالَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ فَقَدْ نَجّاهَا اللّهُ فَارْجِعُوا ، فَقَالَ أَبُو جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ وَاَللّهِ لَا نَرْجِعُ حَتّى نَرِدَ بَدْرًا - وَكَانَ بَدْرٌ مَوْسِمًا مِنْ مَوَاسِمِ الْعَرَبِ ، يَجْتَمِعُ لَهُمْ بِهِ سُوقٌ كُلّ عَامٍ - فَنُقِيمُ عَلَيْهِ ثَلَاثًا ، فَنَنْحَرُ الْجُزُرَ ونطعم الطعام ونسقي الخمر وتعزف علينا القيان2 وتسمع بنا الْعَرَبُ وَبِمَسِيرِنَا وَجَمْعِنَا ، فَلَا يَزَالُونَ يَهَابُونَنَا أَبَدًا بَعْدَهَا

فلما نزلت قريش فيما يليهم بعثوا عمير بْن وهب الجمحي فحزر لهم أصحاب رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وكانوا ثلاث مائة وبضعة عشر رجلا،

Surat Abi sofyan kepada Quraish

Ibnu Ishaq berkata: ketika abu sofyan telah merasa perniagaannya selamat ia mengirim utusan/surat kepada Quraish: Kalian telah berangkat untuk menjaga kafilah dagangan dan harta kita, maka sekarang Allah telah menyelamatkannya, karena itu kembalilah. Abu Jahal bin Hisyam berkata: Demi Allah, kami tidak akan kembali hingga sampai Badar – Badar adalah tempat festival salah satu musiman arab, tempat berkumpul pasar setiap tahun – kami akan tinggal 3 hari, menyembelih ternak, pesta daging, minum2, bermain music dengan para penari/biduanita, agar seluruh Arab mendengar perjalanan dan (pasukan) GABUNGAN kami, sehingga mereka tidak akan pernah menakut2i kita selamanya setelah ini.

فقال لهما رسول الله صلى الله عليه وسلم: "كم القوم؟"، قالا: كثير قال: "ما عدتهم؟"، قالا: ما ندري قال: "كم ينحرون كل يوم"، قالا يوما تسعا ويوما عشرا قال صلى الله عليه وسلم: "القوم ما بين التسعمائة والألف"، ثم قال لهما: "فمن فيهم من أشراف قريش"، قالا: عتبة بن ربيعة

ابن عباس يقول: حدثني عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: لما كان يوم بدر نظر رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى المشركين وهم ألف وأصحابه ثلاثمائة وسبعة عشر رجلا فاستقبل نبي الله صلى الله عليه وسلم القبلة ثم مد يديه فجعل يهتف بربه: "اللهم أنجز لي ما وعدتني"،

(para sahabat menemukan para pencari air untuk pasukan quraish) lalu

nabi bertanya kepada keduanya: ada berapa mereka ??

keduanya: banyak.

Nabi: berapa jumlahnya?

keduanya: kami tidak tahu

Nabi: berapa banyak mereka menyembelih hewan (onta) setiap hari ??

Keduanya menjawab: sehari bisa 9 sampai 10 ekor

Nabi berkata: pasukan tersebut sekitar 900 s/d 1.000 personil

Nabi bertanya: Siapakah orang yg paling dimuliakan ??

Jawab keduanya: ‘Utbah bin Robi’ah.

Dari Ibnu ‘abbas, telah menceritakan ‘Umar bin Khattab, ia berkata; ketika hari badar, Nabi melihat pasukan musyrikin ada 1317 personil, kemudian Nabi menghadap qiblat kemudian mengangkat tangannya lalu

قال ابن إسحاق: فجميع من شهد بدرًا من المسلمين، من المهاجرين والأنصار من شهدها منهم، ومن ضُرب له بسهمه وأجره، ثلاثمائة رجل وأربعة عشر رجلًا، من المهاجرين ثلاثة وثمانون رجلًا، ومن الأوس واحد وستون رجلًا، ومن الخزرج مائة وسبعون رجلًا.

Ibnu Ishaq berkata: semua personil pasukan badar bai dari muhajirin maupun anshar, yang mendapat bagian dan balasan ada 314 personil, dari muhajirin 83 personil, dari suku aus 61, dan dari khajraj 170 personil.

Dan Pasukan Kecil ini mendapat kemenangan yang besar.

Begitulah seterusnya pasukan Alloh ini selalu memenangkan pertempuran demi tegaknya ajaran tauhid yang diwarisi para Nabi.

KESIMPULAN:

  1. Tujuan utama Nabi memberi pelajaran quraish tampaknya sangat difahami oleh rombongan kafilah itu sendiri, yaitu Abu Sofyan, ini sangat jelas dari suratnya untuk meminta pasukan quraish mundur selah ia merasa selamat. Tampaknya Abu Sofyan telah memiliki inisiatif yang lain saat mereka berkumpul dan membicarakan masalah ini di Mekah nanti, akan tetapi sayang sekali Abu Jahal dengan kesombongannya tetap memaksa terjadinya perang tersebut.
  2. Fakta yang dihadapai 1.000 pasukan bukanlah harapan Nabi yang hanya berharap memberi pelajaran kecil bagi Quraish akan pentingnya menjalin hubungan bilateral yang baik terhadap negara Madinah, akan tetapi Ketentuan Allah ini justeru menjadi jalan terbaik atas beberapa hal: (a) Terjadinya kemenangan yg gemilang (mustahil terjadi tanpa bantuan Ilahi) (b) Tergenapinya nubuwat Nabi-Nabi terdahulu, bahwa pasukan bani Kedar akan hancur. (c) yang terpenting adalah, TERHINDARNYA NABI DARI TUDUHAN ORIENTALIS YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB, DENGAN MENYATAKAN BAHWA NABI MENJARAH DAGANGAN QURAISH, PADAHAL FAKTANYA YANG DIHADAPI NABI ADALAH 1.000 PASUKAN LENGKAP DENGAN PERSENJATAAN.
  3. Bahkan hukum internasional dan hukum positif manapun akan selalu berbicara FAKTA, DATA DAN YANG TERPENTING SAKSI lalu apakah hasil kesimpulannya jika FAKTA, DATA DAN SAKSI JUSTERU MENUNJUKAN BAHWA NABI DENGAN JUMLAH 314 ORANG BERPERANG MELAWAN 1.000 PASUKAN ??

DEMIKIANLAH, FAKTA SEJARAH MENGENAI DETIK-DETIK MENUJU PERANG BADAR.

PERANG YANG SELALU MENJADI KEBANGGAN UMAT ISLAM.

PERANG YANG MENJADI PENGGENAPAN ATAS NUBUWAT SEORANG NABI.

Wassalam.....

Sumber : http://www.facebook.com/notes/ibnu-taimiyyah/detik-detik-menuju-perang-badar/241652065855036

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silaturahmi

Mengenai Saya

Foto saya
Orang Jawa, Islam yang nJawani, yang senantiasa berusaha saling asah, asih dan asuh serta hidup berdampingan dengan siapa saja secara damai tanpa saling mengganggu